Hai..
apakabar?
bukankah akhir-akhir ini malam menjadi hangat dan ramai?
tidakkah kau juga merasakannya?
malam yang lalu, malam kemarin, juga malam ini sepi dan gelap mendadak hilang, berganti dengan hangat dan selimut tebal, ah mungkin karena langit kita berbeda mungkin kau tidak merasakannya.
hai, apakabar?
hujan mengingatkan lagi semua hal yang kuredam, tentang pertemuan pertama kita di sore yang riang ditemani hujan, tentang pertemuan kali kesekiannya kita di sore yang deras, juga banyak pertemuan kita yang selalu ditemani hujan.
tidakkah kau mengingatnya juga?
sepertinya aku mulai mengigau lagi...
Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Suatu malam di akhir waktu
kepulanganku, dengan bermanja-manja sebab rindu yang terlampau sesak pada ibu,
aku meminta tidur satu ranjang bersamanya, beratapkan kelambu untuk menghindari
nyamuk yang keberadaanya menganggu tidur, berselimutkan kain tebal dan kami
saling berpelukan hangat, kalau sudah begini membuatku malas untuk kembali,
biar saja aku disini, disamping ibu berselimut hangat berdua.
Selain karena betul-betul
ingin tidur bersamanya, ada satu hal penting yang sangat ingin kuceritakan
padanya, ah pada siapa lagi mengadukan resah dan gundah selain pada seseorang
yang mengurus kita sejak kecil dan tahu apa yang harus dilakukan untuk anak
kesayangannya.
Berawal basi-basi yang
remeh, bertanya ini itu soal keseharian ibu saat aku tak disampingnya,
kulanjutkan dengan memancingnya menceritakan kisah masa lalunya bersama bapak
atau bahkan sebelum bertemu bapak, dan mengalirlah begitu saja seperti air,
hanya satu dua pertanyaan, jawaban sudah melengkapi semua pertanyaan bahkan
yang belum diajukan sekalipun. Ibu memang senang sekali bercerita, kata banyak
orang dan beberapa teman dekat ibu yang kukenal, dia memang sosok perempuan
tangguh, aktif, kritis, dan selalu jadi juru bicara. Itu memang benar, kalau
ditelpon saja baru tanya kabar, jawaban sudah sampai pada menu makanan, hahaha
ah ibu ibu memang sosok yang luar biasa.
Ada satu hal yang
mengejutkan dari cerita ibu, ternyata ibu dan bapak adalah hasil dari
perjodohan, sebelumnya ibu sudah mencintai seseorang sejak lama, hampir 10
tahun, laki-laki itupun mencintai ibu, tapi entah kenapa mereka selalu ragu
untuk berencana menikah, ibu bilang laki-laki yang ia cintai seseorang yang
lemah, pengetahuan agama yang kurang baik dan sebagainya, sudah tahu begitu
masih saja cinta, dasar, hihihi.. dan akhirnya ibu dan bapak dijodohkan oleh
guru ibu di sekolah, dan bapak adalah salah satu guru juga disana, usia mereka
terpaut 10 tahun, kalau kuingat-ingat wajah bapak, memang beliau sudah sangat
tua sekali, aku merasa lebih baik memang Allah mengambilnya dengan usia bapak
yang sudah rentan itu.
Akhirnya aku menemukan titik
temu yang cocok, aku mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang keresahanku,
awalnya hanya soal sekolah yang kuajar, murid-murid dan sampailah pada satu
sosok itu, tentang seseorang yang juga pernah mampir sesaat dalam hidupku dan
hingga hari ini aku masih belajar melepasnya, sebab melepaskan tidak semudah
saat pertama kali bertemu dan menemukan perasaan baru padanya, tidak semudah
itu, aku harus membunuh setiap kali kerinduan muncul dalam sesak, aku harus
mengubur setiap kali rasa mulai memenuhi hati, sementara aku tak bisa berbuat
apa-apa, hanya bisa mengingatnya begitu saja seperti angin.
Bu,
terkadang aku menyesal sudah bertemu dengan dia, andai saja dulu tak pernah
bertemu, tak pernah kenal, kami tak pernah memiliki rasa yang sama, andai
saja...
Kataku pada ibu dengan perasaan
penuh sesal.
Kamu salah
nak, justru harusnya kamu bersyukur sudah pernah mengenalnya, kalian memiliki
perasaan yang sama, hanya waktu yang tak berpihak, dan itu bukan sebuah
kesalahan, kalian pasti memiliki waktu yang manis bersama dan itulah kenangan
yang bisa kau ingat suatu hari nanti, tentu saja kenangan hanyalah bagian dari
masa lalu, masa depan nanti akan jadi milikmu dengan seseorang yang lebih baik
lagi darinya. Seperti bapak dan ibu. Ibu tak pernah menyesal sampai hari ini.
Betulkah begitu, aku hanya
harus bersyukur karena waktu yang pernah kulalui dengannya merupakan kenangan
manis?
Aku hanya harus belajar
lebih banyak pada ibu, belajarkan melepaskan masa lalu dan membuka lagi pintu
yang baik untuk masa depan..
Ibu, selalu mengobati luka
dengan cara yang tidak pernah diduga...
24102014, Bogor.
Tentu saja aku baik-baik
saja, aku masih bisa tersenyum dan tertawa, hey kita ini apa sih? Hanya sekedar
numpang mampir di bumi Tuhan, datang sendirian, tak pernah punya siapa-siapa
dan tak pernah jadi milik siapa-siapa, maka akan baik-baik saja jika manusia
yang hidup lalu lalang masuk keluar dalam hidup kita, datang dan pergi begitu
saja, untuk yang datang kita sambut dengan baik dan berbuat baik padanya, untuk
yang pergi relakan dengan senang hati, sebab kepergian tak selalu berujung pada
kesedihan, ada juga kepergian yang membahagiakan.
Aku sungguh baik-baik saja,
sebab hidup memang harus terus berjalan ada atau tidaknya seseorang yang peduli
pada kita, sebab segalanya menjadi kita saja seorang, perbuatan kita, kebaikan
kita, jangan terlalu risau memikirkan orang lain yang tak pernah jelas, bahkan
malaikat saja menanyai kita seorang saja, tidak berdua, tidak juga dengan
orangtua, keluarga, sahabat dekat, apalagi bersama seseorang yang hanya hadir
sesaat dalam hidup kita, rasanya mustahil.
Untuk itu, aku berharap
tidak pernah ada yang berubah, semuanya baik-baik saja, aku tetap menjadi aku
yang keras kepala dan selalu ingin belajar banyak hal, tak peduli ada atau
tidaknya seseorang yang akan bertanya kabar atau sekedar menceritakan kisah di
malam hari.
Abi, do’akan anakmu yang
manis ini selalu kuat dan tegar menghadapi apapun, sekuat umi saat kau
meninggalkannya...
Pakpayoon.
26 Oktober 2014
Abi, apakabarnya engkau
disana? Bagaimana rasanya indah syurga? Aku sungguh berharap pada Dia
menempatkan engkau pada kedudukan yang tinggi. Amin.
Abi, anak pertamamu yang
manis ini tentu saja selalu baik-baik saja, usiaku sudah 22 tahun hampir saja
sampai di 23, berat badan terakhir kemarin 59 kg, ah engkau tentu tak akan
khawatir dengan kondisiku yang sehat ini. Anak abi yang kedua dan si bungsu
juga baik-baik saja, ah kemarin sudah kuceritakan bukan kalau dede sudah masuk
perguruan tinggi dan si bungsu sudah 2 SMP dan tinggal di pesantren juga aktif
di kegiatan sekolah, tak berbeda jauh denganku, yah sebab si bungsu selalu
ingin menjadi tetehnya, andai dia tahu tetehnya sangat biasa saja, tak ada
apa-apanya.
Abi, sudah 6 bulan berlalu
aku menetap di negri antah barantah ini, dan abi tahu sebentar lagi aku mau
pulang, ah rasanya rindu ini sudah terlalu penuh untuk kutampung jadi kubiarkan
ia terurai satu persatu, rindu umi, rindu si dede dan si bungsu dan tentu saja
rindu semua hal yang ada di negri kita. Disini aku baik-baik saja, betah,
guru-guru dan tetangga baik-baik, murid-muridnya, yah seperti yang abi tahu ada
saja murid-murid nakal yang sedang berproses menjalani kehidupan, tapi aku
sungguh baik disini, hanya saja yah hanya saja pada satu waktu ketika sepi dan
bosan mencekik leher dan tak ada yang bisa dilakukan, pada satu waktu itulah
jalan yang teringat adalah pulang, sebab pulang adalah obat dari semua
kerinduan.
Abi tahu, kemarin adalah
idul adha yang sudah kesekian tak kulalui bersama keluarga, tidak hanya sekali
dua kali tapi sudah sering, dan ini yang terberat karena begitu jauh dari
siapapun, tak ada tempat untuk sekedar menyimpan rindu yang sudah penuh, semua
disini terasa sempit sekali. Di negri antah barantah ini perayaan lebaran
bukanlah seperti yang kita rasakan di negri muslim biasanya, disini sepi
sekali, bahkan tak ada suara takbir, bahkan beberapa hari sebelumnya aku lupa
kalau esoknya adalah lebaran idul adha.
Abi, sekarang aku sudah
mulai membaik dalam mengontrol diri, mengontrol perasaan dan menahan semua yang
mendidih dalam hati, perlahan-lahan aku sudah bisa, di surat yang kesekian aku
pernah bercerita bukan tentang sosok dia, seseorang yang alisnya mirip sekali
denganmu, sebab begitu banyak hal yang terjadi dan tentu saja aku sadar diri
siapa diriku ini maka aku belajar untuk menahan, semoga hasilnya manis suatu
saat nanti, abi ingat kan sosoknya, seseorang yang kusebut namanya dalam do’a.
Abi, esok ketika sudah
sampai rumah, sudah bertemu umi dan kedua anak abi yang lain aku janji akan
mengirimimu surat kembali, aku janji, janji anak pertamamu, pasti abi juga
rindu umi, aku akan menceritakan bagaimana keadaan umi nanti..
Abi, selamat malam...
04 Oktober 2014
Pakpayoon.
Kau boleh membuka hatimu pada yang lain, aku tak melarang.
Katamu suatu hari dengan
wajah dinginmu, dan wajah dingin itu menjadi begitu amat dingin dari biasanya
sebab dingin hujan membuat pertemuan kita menjadi berbeda.
Aku tak
mau.
Jawabku ketus.
Kau pikir mudah membuka hati
untuk orang lain? Andai saja tetes hujan saat itu bisa kuraih ingin sedikit
kubasahi wajahmu dengannya agar kau tersadar dari kata-kata aneh itu.
Aira
Panggilmu tajam, ah
kata-katamu sore itu mendadak seperti sebilah pisau.
Sebelum kata-katamu semakin
sulit kuterima, kubiarkan kau meracau sendiri dengan hujan.
Mau kemana
aira?
Tanyamu masih dengan wajah
dingin.
Tak perduli hujan sederas
apapun, lebih baik aku tak mendengar lagi bicaramu yang aneh itu.
Biar saja hujan turun sederas
apapun, dengan begitu tak pernah ada yang tahu ada tetes hangat di pipiku..
Hidup ini selalu menarik,
ada saja hal-hal terjadi diluar kendali kita, diluar keinginan bahkan lebih mengejutkan
dari rencana yang kita buat. Seperti akhir-akhir ini, beberapa teman yang dekat
bercerita banyak hal tentang hidupnya, tentang perasaanya, tentang sakit
hatinya, tentang sedih dan lukanya, dan semua yang mereka sampaikan, mereka
tanyakan dan memintaku memberi jawaban adalah hal yang aku pun mengalaminya, ah
bahkan aku sendiri tak tahu jalannya.
Nay, aku
pengen turun berat badan, gimana ya caranya.
Bahkan sampai hari ini aku
masih kesulitan menjawabnya.
Ustadzah,
gimana si pengen nulis lagi, biar bisa ada inspirasi, ada semangat lagi.
Aku Cuma tertawa, bagaimana
mungkin aku tahu, sampai detik ini pun aku tak tahu kata pertama apa yang harus
kutulis.
Mba,
pernah gak ngerasain rindu sama orang? Sakit ya ternyata memendam rindu.
Lagi-lagi aku Cuma tertawa,
kenapa manusia hari ini menjadi gila, aku bahkan sudah muak dengan kata-kata
itu, karena terlalu sering aku merasakan dan diam tanpa ada jalan keluar.
Nay, aku
stres, berat badanku turun, aku putus sama dia.
Hahaha... gila, sumpah,
mereka membuat aku tertawa.
Nay, mba
bingung apa mba tinggalin dia yah, terlalu lama kalau harus nunggu dia selesai
kuliah, sementara mba udah pengen nikah.
Sampai tawaku yang tak bisa
kukendalikan, airmata menetes begitu saja, hidup betul-betul menggelikan.
Aku Cuma ingin duduk santai
malam ini, mendengarkan lagu favoritku, memandangi langit malam, berharap ada
kunang-kunang datang, melepaskan beban apapun yang ada di pikiran, tanpa ada
seorangpun, bahkan tanpa ada kamu di pikiranmu, kosong, hanya aku dengan Tuhan.
190914
Pakpayoon.
Kunang-kunang jelek,
datanglah malam ini, aku ingin menangis bodoh di hadapanmu, sebab dengan kau
mengejekku itu sudah mengambil separuh sesakku yang menumpuk.
Bagaimana aku bisa menyimpan
sesak yang begitu dalam, sampai menangis bukan lagi jadi jawaban atas kelegaan,
kunang-kunang jelek, datanglah.
Datanglah, aku rindu orang bodoh yang tak pernah punya waktu untuk sekedar menyapaku.
sebab itu datanglah, tertawakan aku dengan bodohmu...
09 september 2014
pakpayoon.
Bagaimana jika selama ini
aku sudah salah memikirkan seseorang, menyebut nama yang salah dalam do’aku,
dan mengeja huruf yang salah pada bait puisiku?
Bagaimana jika selama ini
aku sudah salah mengingat seseorang di waktu luangku, membayangkan hal-hal baik
di masa depan dengannya padahal dia adalah orang yang salah? Tidak, bukan dia
yang salah, tentu saja aku.
Bukankah Tuhan hanya akan
memasangkan seseorang sesuai kualitas keduanya, yang baik dengan baik dan
pemalas dan bodoh sudah pasti dengan pemalas dan bodoh pula, rasa-rasanya tidak
mungkin sekali orang bodoh dengan yang berwawasan luas akan menjadi pasangan
baik yang akan mendapat gelar pasangan sempurna. Itu hanya terjadi jika
keduanya orang yang gila.
Bagaimana jika itu memang
benar, aku sudah salah memilih, sebab mungkin dulu aku sedang tidak waras, lupa
diri dan sedang tak menginjak bumi sehingga lupa bahwa dia terlalu tinggi.
Tuhan, apa benar aku salah?
02 September 2014
Pakpayoon.
Hari ini aku menemukanmu,
pada tetes hujan yang jatuh tepat di sore manisku, memelukku gigil dengan erat,
aku larut dalam derasmu.
Hari ini aku menemukanmu,
pada jalanan sore yang lengang, aku berjalan sendirian dan kau menatapku dalam
bayang-bayang.
Hari ini aku menemukanmu, di
langit sore yang kelabu, hujan enggan berhenti, aku kedinginan dan kau
memberiku kehangatan dalam pikiran.
Aku terlalu sering
menemukanmu, hingga aku tidak lagi bisa membedakan antara nyata dan mimpiku.
Pakpayoon, 18 Agustus 2014
Hey kunang-kunang malam, kemana perginya kau? Kupikir dengan
lagu-lagu galau ini kuputar, cukup membuatmu tergoda mendatangiku, lalu dengan
sudah aku tahu kau akan berkata sok tua menasihatiku, ah kau lupa aku lebih tua
darimu.. hihi, :-P
Aduh nay, bersiap-siap alzheimer nanti tua
sering-seringka galau.
Eh siapa bilang aku galau, lihat dong aku bahagia,
kebetulan saja ini liburan kuputar lagu begini, tak ada hubungannya dengan
moodku eh.
Seperti biasa aku mengelak.
Alah, palingan bohong lagi.
Si kunang-kunang jelek mulai menyebalkan.
Betulan ini, aku tidak galau, hanya saja.. .
Pandanganku beralih menatap
bulan. Hanya untuk mengalihkan biar si kunang-kunang jelek tak menatapku.
Hanya saja apa?
Kunang-kunang mulai memaksa
ingin tahu, ih kepo deh, :-P
Pandanganku masih belum
beralih, ah biar saja lagian kunang-kunang nyebelin si.
Hanya saja aku sedang ingin
melampiaskan kepingan-kepingan harta karunku yang akhir-akhir ini
kusembunyikan.
Baru saja kuakui rahasiaku,
dan ah dasar kunang-kunang jelek, ternyata dia sudah pergi.
Baguslah, bila dia tahu apa
yang akan dia katakan padaku, huft.
Lebih baik dia tidak tahu..
15 Agustus 2014
Bukan
ku tak rindu, sungguh bukan, sebab ini adalah bagian dari resiko memilih jauh
darimu.
Pilihan
memang selalu sulit, sebab ada dua hal yang bersisian tapi kamu harus mengambil
satu sisi yang kamu anggap itu paling penting untuk hidupmu, lalu bagaimana
nasib satu sisi lainnya? Itulah, pilihan memang selalu sulit.
Hari
ini kusimpan harta karun perasaanku satu persatu dalam kotak hatiku, hingga
suatu hari harta karun yang kusembunyikan akan sampai di tanganmu dengan penuh
kegirangan, aku tersenyum memberikannya dan kau menerima dengan bahagia.
Harta
karun yang kusimpan itu kusebut ia
rindu.
Aku
menyimpannya diam-diam setiap malam menjelang tidur.
#efek kangen sama umi.
14
Agustus 2014
Pakpayoon.
Seseorang yang tidak
kukenal, ia duduk sendirian di ujung jembatan, disana ada kursi panjang yang
ramai dedaunan, daun-daun kuning yang berjatuhan, jembatan yang sepi, tidak ada
lalu lalang, pantas saja ia begitu asyik duduk, kedua tangannya menyentuh permukaan
kursi, matanya nanar memandangi hamparan danau dan matahari yang mulai
tenggelam, bajunya sedikit lusuh, jilbab coklatnya menutupi sebagian wajahnya
sebab angin yang menemaninya dalam sunyi, sepertinya ia sudah cukup lama berada
disana, entah sejak pagi, siang tadi atau bahkan hari kemarin, tak ada yang
tahu, tapi sinar wajahnya yang tersapu cahaya mentari merekah girang, entah apa
yang membuat senyum itu terlihat tulus sekali.
Sore itu tanpa sengaja aku
melewati jembatan, ingin mengabadikan senja dalam ingatan sebab hari ini hari
terakhir aku berada di perantauan, esok langit dan indah kota ini tak bisa
kurasai lagi, dan aku melihatnya, gadis yang senyumnya tulus, dengan baju lusuh
dan jilbab coklat muda, kulitnya tidak terlalu putih tapi sore itu aku rasa
cahaya mentari membuat wajahnya menjadi bersinar kegirangan.
Tersebab ini hari
terakhirku, dan esok, lusa bahkan seterusnya mungkin aku tak bertemu gadis itu
lagi, aku ingin sekali menyapanya, sekedar bertanya apa yang dia lakukan di
sore yang manis ini. Berkat rasa penasaranku yang terlampau besar, kuberanikan
diri mendekat.
Belum sampai sepersekian
langkah aku mendekat, rupanya gadis itu sadar ada seseorang yang
memperhatikannya sejak tadi. Dalam sekian detik saja aku melihat wajahnya,
wajah yang tidak pernah kulihat selama ini, senyum yang tulus, tapi menyimpan
banyak duka pada sorot matanya, akhirnya aku tahu ia duduk disini sedang
menunggu, entah apa yang ia tunggu aku tak tahu, aku hanya melihat itu dari
wajah yang penuh kesabaran.
Apa yang
hendak anda tanyakan, sepertinya anda orang yang sudah kesekian menghampiri
saya dan bertanya hal yang sama.
Suaranya parau tapi lantang.
Dan aku sungguh malu sudah melakukan hal gila ini, menghampiri seseorang yang
tidak kukenal hanya karena ingin tahu apa yang sedang ia lakukan.
Begitu
rupanya, maaf kalau saya menganggu, saya hanya sekedar lewat dan kebetulan
melihat anda, dan mungkin pertanyaan saya sama dengan yang lain, sedang apa
anda duduk disini, ini sudah hampir malam, tidak baik gadis berkeliaran malam
hari.
Jawaban sok diplomatis yang
kulontarkan. Setidaknya untuk menutupi rasa maluku ini.
Saya
sedang menunggu, menunggu waktu, menunggu hari berlalu, dan menunggu seseorang
yang akan datang. Itupula jawaban yang saya lontarkan pada setiap orang yang
bertanya. Dan mohon tidak bertanya lagi. Biarkan saya disini, tetap menunggu
sendirian.
Hanya itu, dan setelah itu
aku tidak berani melanjutkan pertanyaan, baiklah hari ini cukup, sebaiknya aku
memang pergi, toh gadis ini siapa pula dia tidak kukenal.
Sepanjang perjalanan pulang,
wajah gadis itu timbul tenggelam dalam ingatan, mengapa gadis setulus itu harus
menunggu begitu lama, siapa yang dia tunggu, untuk apa dia menunggu.
Sudahlah.
***
2 tahun kemudian...
Akhirnya aku bisa
menginjakkan lagi kota kenangan ini, kota tempat merantau selama 4 tahun, hidup
dengan berbagai budaya dan lingkungan yang berbeda, tapi aku menyukainya, aku
suka kota ini, sebab ia membuatku jadi lelaki dewasa.
Dalam perjalanan menuju
penginapan, mobil yang membawaku berhenti sebentar, supir yang membawaku hendak
mengambil barang di salah satu temannya, kami berhenti tepat di sebuah tempat
yang bagiku tak asing lagi, danau kecil, jembatan diatas danau, dan kursi
panjang di ujung jembatan, rumah yang dulu baru beberapa sekarang sudah penuh
dengan perumahan dan mobil mewah, kupikir ini tak akan memakan waktu lama, aku hanya
duduk di kursi belakang dengan santai, tapi ternyata sudah 15 menit berlalu
supir yang membawaku tak juga datang, aku mulai merasa kesal, akhirnya aku
keluar dari mobil.
Suasana yang masih kuingat,
tempat terakhir yang kukunjungi sebelum aku pulang, dan seseorang yang duduk di
ujung jembatan, mataku nanar melihat ke ujung jembatan, wajah yang pernah
kulihat, wajah yang dulu, gadis itu, yang sedang menunggu, mengapa hari ini dia
masih duduk disana. Satu tanda tanya besar.
Hampir saja aku berlari menghampirinya
sebab sudah 2 tahun berlalu dan mengapa ia masih juga disini? Banyak pertanyaan
yang memenuhi pikiran. Tapi langkahku berhenti, sebab gadis itu sudah tak
sendiri lagi, disampingnya ada seseorang, yah seseorang yang sudah sangat
kukenal, wajah yang tak asing, senyum yang naif, dan hey, baju itu, bukankah
itu baju kesukaanku, mengapa laki-laki itu memakainya juga, mereka terlihat
sangat bahagia, gadis yang kuketahui itu terlihat sangat bahagia, sesekali ia
sandarkan kepalanya pada bahu laki-laki itu dan tangan si laki-laki pun
merangkulnya, mereka pasangan yang berbahagia, dan entah kenapa aku sangat iri
melihatnya.
Rupanya laki-laki bodoh itu
yang ia tunggu, entah sebab apa aku merasa muak dengan laki-laki itu, sudah
hampir 2 tahun berlalu, dan dulu saat aku melihat gadis itu, aku melihat ada
ketulusan, kesabaran dan cinta yang sangat besar, lelaki mana yang menolak
dicintai dengan cinta yang besar oleh perempuannya.
Aku mengenalnya, sangat
mengenalnya, dia sudah tak asing lagi dalam hidupku. Dan memang, saat kulihat
sekali lagi wajah lelaki itu, wajah kami memang sama.
***
Terkadang dalam hidup, ada
orang yang tidak pernah sadar dan menyadari bahwa jauh di tempat yang ia tidak
tahu, ada seseorang yang sudah menunggunya, seseorang yang setia dan tulus
menunggunya, mencintai dengan cinta yang besar, tapi banyak orang yang tidak
menyadari itu.
Pakpayoon.
13 Agustus 2014
Suatu hari dimana saat itu
aku merasa bahagia, duduk dalam bus perjalanan ke malasyia, seperti biasa
memilih duduk yang dekat jendela, lagu hugh grant and heley bennet sudah dua
kali kuputar, dan simsalabim, rupanya hujan deras menemani perjalanan,
bahagiaku bertambah.
Suatu hari saat aku merasa
bahagia, kekhawatiran tentangmu sudah berkurang perlahan-lahan, kau menjadi
amat dewasa kurasa, dan aku pun menjadi tahu diri, perjalanan tentang kita
sudah sepenuhnya kuikat dengan waktu dan garis Tuhan, jika suatu hari waktu dan
garis Tuhan membuat ikatan kita berhenti maka aku akan sepenuhnya rela, sebab
sudah kukatakan waktu dan garis Tuhan yang akan menghentikan semuanya.
Aku masih saja mengingatmu,
tidak mungkin ingatan itu kuhapus begitu saja sebab kamu seseorang yang sudah
merampas memoriku tentang banyak hal, aku masih mengingatmu dalam keadaan aku
bahagia, ketakutanku tidak sebesar hari-hari yang lalu, sebab terkadang
mengikuti air yang tenang bisa membuat kita sampai pula pada tujuan, yaitu
lautan.
Hujan yang deras, lagu yang
romantis, semua menambah lengkap kebahagiaanku, entah bagaimana dan sedang apa
kau disana aku merasa baik-baik saja, karena aku tahu, kau pun tahu cara Tuhan
akan lebih baik untuk kita harus bersikap.
Aku ingin
kita dipertemukan suatu hari nanti dengan cara yang paling baik.
Aku pun berharap demikian.
Suatu hari nanti, disaat
yang paling baik, di waktu yang paling baik..
Aku akan menunggu.
Pakpayoon,
09 Agustus 2014
Suatu hari seorang ibu dan anak sedang duduk-duduk manis
di beranda rumah, sore menjelang malam, langit mulai terlihat gelap, sang anak
sedang asik memijati pundak ibu yang keletihan seharian bekerja.
Di sela-sela itu, ada saja
obrolan hangat yang membuat hubungan anak dan ibu itu menjadi sangat dekat,
tawa sesekali muncul, hingga pada saatnya obrolan yang tidak diduga muncul ke
permukaan.
Nak, apa
kau pernah jatuh cinta?
Tanya sang ibu memulai
percakapan yang tidak diduga, sebab selama ini obrolan semacam itu tidak pernah
muncul diantara mereka, sang ibu takut sebab usia anaknya masihlah sangat muda.
Pijatan si anak tiba-tiba
mengendur, ia sempat berhenti sejenak dan memandangi langit yang hampir gelap.
Kenapa memang
bu, kok tiba-tiba begini toh ibu bertanya.
Jawab si anak berusaha tetap
tenang, meskipun ada sesuatu yang ia sembunyikan.
La nduk,
piye anakku udah sebesar ini masih belum jatuh cinta kan ibu yang khawatir,
jangan-jangan malah sukanya bukan pada laki-laki.
Timpal sang ibu menggoda.
Huss, ibu
ini, ya ndaklah bu, aku yo seneng karo cah lanang bu.
Jawab si anak mengaku,
akhirnya ia tertipu dugaan sang ibu yang sebenarnya hanya ingin mengujinya.
Gelak tawa muncul dari sang
ibu yang merasa menang dengan umpannya.
Nak, ibu
tidak pernah melarang kamu jatuh cinta, suka sama siapa saja boleh, tapi kalau
seseorang itu kamu harapkan jadi suamimu kelak, sebaiknya kamu harus banyak
pertimbangan, jangan asal memilih laki-laki yang sekedar bagus di tampang tapi
kelakuan buruk.
Sang ibu yang sedang dipijat
membalikan badannya menghadap si anak, rupanya pembicaraan menjadi bertambah
serius.
Si anak bersemu merah, ia
gelagapan, tidak tahu harus memberikan jawaban jenis apa, sebab dalam hatinya
ia ingin sekali bercerita.
Ibu adalah ibu, ia tahu apa
yang anaknya sembunyikan, tapi dia tak ingin memaksa anaknya bercerita, biarlah
anaknya yang mengaku sendiri.
Si anak diam sesaat, hatinya
ragu haruskah ia bicara, selama ini ia sudah sering menyembunyikan banyak hal
pada ibunya, mungkin inilah saatnya.
Bu, kalau
mencintai seseorang tapi tidak tahu masa depan jenis apa yang menimpa antara
kami, sebab cinta kadang membuat seseorang lupa dengan kepastian, dengan
halangan, dengan banyaknya duri yang dilewati, cinta jenis apa itu bu? Bila mencintai
seseorang berharap ia menjadi orang di masa depan, tapi waktu membuatnya
perjalanan terhenti, sebab jalan yang ditempuh tak juga bisa dibaca, masa depan
tak pernah ada yang tahu arahnya. Cinta macam apa ini bu?
Kata-kata si anak mengalir
begitu saja, perasaan malu membuatnya lupa.
Nak,
cinta itu tidak pernah ada yang rumit, cinta itu sederhana, ia seperti hujan,
yang tetesnya membawa kebaikan, kalau tetes kebaikannya membuatmu masih harus
meraba jalan mana yang akan kau singgahi, maka itulah cinta, jika tetes
kebaikannya bahkan membuatmu harus menunggu dan waktu yang berjalan sampai
akhirnya berhenti dengan sendirinya, maka itulah cinta, kalau kau merasa nyaman
dengan cinta macam itu, maka tetaplah pertahankan cintamu, sebab mencintai
bukan saja soal ia cantik atau tampan, tapi memberikan separuh hati kita untuk
kita percayakan pada seseorang yang kita pilih, sebab itu cinta menjadi sangat
mulia, seperti amanah yang tidak semua orang bisa menjaganya dengan benar.
Sebab Tuhan
nak, ia tidak pernah tidur, Dia tahu apa yang hambanya minta, sebab itu
banyaklah berdo’a, jadilah orang baik maka Tuhan tidak akan segan mengabulkan.
Tanpa sang ibu sadari, mata
si anak sudah basah sejak tadi, ia menangis, sebab nasihat ibunya adalah
nasihat paling bijak yang pernah ia dengar, dan ia merasa nyaman sekali karena
akhirnya sang ibu tahu apa yang anaknya rasakan.
Rupanya langit sudah
benar-benar gelap, dan orang yang ditunggu sudah datang.
Ayah datang
bu.
Ayah bawa
apa..
Teriak si anak berlari
menghampiri sosok yang dipanggil ayah itu. Laki-laki berkacamata tebal itu sudah
datang.
Sang ibu hanya bisa
menangis, sebab ia tak melihat siapa-siapa.
Pakpayoon.
5 Agustus 2014
Aku sudah
membayangkanmu jauh-jauh hari, menerka-nerka perjalanan kita, berjalan berdua
di pinggir pantai, kau mengenggam erat jemariku sebab aku begitu khawatir pada
air, banyak hal sial yang kualami di lautan, aku pernah tenggelam dua kali,
untung saja seseorang menyelamatkanku, setiap kali minum aku selalu menumpahkan
air, dan banyak hal lainnya yang teman-temanku bilang aku tidak pantas hidup di
dunia air.
Aku sudah
membayangkanmu jauh-jauh hari, kita hanya berjalan saja di pinggir pantai,
menunggu matahari tenggelam, kita duduk manis di pasir, kita saling bercerita,
melihat orang-orang berlalu lalang, kau sedikit mencuri pandang pada bule-bule
seksi itu tapi aku menyuruhmu memalingkan wajah, tapi kau justru memalingkan
wajahmu padaku, hanya melihatku saja, dan itu cukup membuat pipiku merah menahan
malu.
Kita menyaksikan
matahari cantik itu tenggelam, langit berubah orange kecoklatan, kau bilang ini
pertama kalinya melihat sunset dengan perempuan dan itu aku, betapa saat itu
aku bahagia tak terkira, dan kita menghabiskan sore itu hanya berdua saja, di
pinggir pantai melihat matahari tenggelam, di sebuah pulau tempat kita berbulan
madu.
Aku terlalu sering naif dan
hidup dalam dunia mimpi, terlalu banyak hal yang kubayangkan dan ingin
kulakukan itu hanya denganmu.
Bagaimana
jika, suatu hari nanti ternyata Tuhan berkehendak lain, kita tidak berjodoh,
lalu bagaimana dengan mimpi-mimpi yang sudah kaurencakan.
Katamu suatu hari tersebab
ketakutan akan sakit yang kualami di kemudian hari.
Aku akan
sering-sering meminta pada Tuhan, bukankah tidak ada yang mustahil untuk Dia
mewujudkan?
Jawabku menghibur diri.
Andai kau tahu, jauh dalam hatiku,
aku pun takut, bahkan mungkin ketakutanku melebihi ketakutanmu, bagaimana
jika...
Aku hanya bisa berdo’a.
Pakpayoon.
03 Agustus 2014
Aku lelah berdebat denganmu.
Kataku suatu hari saat kau
memintaku yang kesekian kalinya untuk berhenti.
Kau tidak tahu betapa keras
kepalanya aku, sampai lelah menyergapku dan mungkin tidak ada lagi harapan
sedikitpun, saat itulah aku akan berhenti.
Aku tidak tahu jawaban jenis
apa yang harus kukatakan untuk membuatmu yakin, untuk membuatmu lebih berani,
dan membuatmu menatapku seutuhnya.. sungguh, kali ini aku pasrah, tapi izinkan
aku untuk terus menyebutmu dalam do’aku, izinkan aku untuk terus menginginkanmu
dalam hidupku di masa depan, hingga waktu sendiri yang membuat semuanya akan
berhenti.
Sebab aku, memang perempuan
keras kepala, dan kau sudah tahu itu...
03 agustus 2014
Hey, kau yang melukis
pelangi selepas hujan, apakabarmu? Waktu semakin cepat saja berlalu, perlahan
kita mulai lupa dengan apa yang terjadi kemarin, seminggu yang lalu, satu tahun
yang lalu apalagi untuk mengingat 4 tahun lalu saat pertemuan yang tidak diduga
itu. Tapi aku masih mengingatnya, seperti kejadian hari kemarin aku masih hafal
detail tentang pertemuan tak diduga itu, ah memang mungkin saat itu Tuhan
sedang merencanakan sesuatu.
Malam ini sangat sepi, sepi
sekali, teriakanku pun bahkan tak terdengar sama sekali, cuaca dingin, hujan
sudah turun sejak tadi pagi, orang-orang sibuk memilih kampung halaman sebagai
tempat kembali, sekolah sudah libur, penghuni asrama pun sudah tak tersisa, dan
hanya ada aku serta 3 orang teman seperjuanganku disini, hanya kami berempat
saja di asrama yang gelap dan sepi. Kami berusaha membuat gaduh, keramaian yang
tanpa tujuan, aku sibuk mencuci pakaian dan piring-piring kotor, ketiganya
sibuk dengan menelpon rumah, bermain gadget, memasak untuk sahur, kami berusaha
membuat ramai tapi rupanya sunyi tak bisa ditolak.
Bagaimana denganmu disana?
Ini kali pertama aku
habiskan libur ramadhan sampai idul fitri tidak pulang, tidak bertemu
orang-orang terkasih, tidak bisa mencium maaf ibu dan para tetua keluarga,
tidak mendapat thr dari tetua, tidak bisa merasai lezatnya masakan ibu, aku
jadi merasa malam ini mulai menyakitkan, dan besok, lusa sampai hari seterusnya
kesakitan dan menahan rindu harus kurasai sendirian.
Hey, kau yang kusebut dalam
diam do’aku, suatu hari mungkin kita akan merasakan hal seperti ini, jauh dari
keluarga, idul fitri tidak bisa berjumpa, mungkin saja, mislanya bila sudah
berkeluarga, bila darurat pekerjaan dan bila-bila yang lain yang mungkin datang
tidak diduga, tak bisa ditolak, seperti pertemuan kita yang tak bisa kutolak. Aku,
kamu atau siapapun mungkin akan merasakan hal yang sama, menikmati malam-malam
sendirian, kesunyian yang sulit dihindari lalu merasa hari menjadi menyakitkan
setiap waktunya.
Aku masih tidak tahu apa
yang akan terjadi esok, apa yang akan kulakukan esok, tapi yang sudah pasti
terjadi ramadhan sebentar lagi berakhir, idul fitri tiba, dan yeah seperti itulah,
diriku masih saja begini, buruk yang tidak juga lenyap setelah melewati
ramadhan, ketaqwaan yang tidak juga bertambah baik setelah berusaha selama
ramadhan, aku tidak tahu masih maukah Tuhan memberiku ampunan sementara aku
masih menjadi orang yang buruk.
Hey, untukmu yang jauh
disana, maaf untuk semua yang sudah kulakukan diketahui atau tak, dirasakan
atau tak, sebab waktu setiap detiknya akan membuat kita menjadi pelupa, bahkan
lupa dengan dosa..
Selamat malam, semoga kau
baik-baik saja. :)
24 Juli 2014
Pakpayoon, Pathalung.
Sisa hujan masih membekas di
balik kaca mobil, tetiba saja hujan deras menemani perjalanan, aku menatapnya
lekat-lekat, setiap kali naik mobil secara refleks aku akan memilih duduk dekat
kaca, aku menyukainya sebab memandangi jalanan lewat kaca jendela seperti
merangkai kenangan secara detail di tiap sudut jalan, sebab aku akan mengingat
seperti apa jalanan yang pernah kulewati pada hari ini, seperti apa langit yang
kulihat pada hari ini, detail itu suatu saat akan menjadi rangkaian kenangan
yang suatu hari akan kuurai satu persatu setiap kali kata rindu menghinggapi.
Seperti pula hari ini sambil
memandangi tetes hujan di kaca, sore yang dingin, duduk di sudut kursi mobil,
melewati hijau pepohonan, secara tiba-tiba pula rangkaian kenangan di masa dulu
kuurai satu persatu, duduk di jendela kamar, diluar hujan deras tak juga henti,
sembari menahan gigil, kutatap lekat-lekat tetes hujan yang cepat, kutulis
namaku di kaca, lalu secara refleks pula kutulis namamu di kaca ada nama kita
dibalik tetes hujan di jendela kamarku, aku tersenyum sendiri, kuhapus kembali
nama kita, sambil masih duduk dekat jendela, kutulis lagi namamu, hanya namamu
saja dan kulingkari. Sore yang gigil itu lirih bisikku pada Dia, merafal do’a
dan harap yang kusebut diam-diam.
Aku mengingat itu, aku
tersenyum lagi hari ini mengingatnya, betapa bodohnya aku saat itu, hampir saja
kuulangi, menuliskan namamu di kaca mobil, tapi tiba-tiba saja pesan masuk itu
kuhafal kuat dalam benak.
Tidak semua
yang diinginkan akan diperoleh kan?
Semoga Tuhan tidak pernah
bosan mendengar do’a dan pinta dari orang-orang berdosa, sepertiku.
Aku, masih akan menyebutmu
dalam do’aku....
15 july 2014
Pakpayoon, Phattalung.
Rabu, 09 Juli 2014
Celotehku
0
komentar
Dear : Lelaki yang 10 tahun tak bertemu (My Lovely Young Brother)
Akhir-akhir ini aku jadi
lebih sering ingat pulang, membayangkan pulang, bertemu keluarga, teman-teman
yang setahun ini tak bertemu. Yeah, hanya satu tahun saja. Bagaimana dengan
orang yang sudah 10 tahun tak bertemu?
Aku adalah anak pertama,
punya adik laki-laki yang sudah 10 tahun tak bertemu, bagaimana perasaanmu? Kami
memang sudah selama itu tak bertemu, saat usianya sangat kecil, sekitar SD dia
sudah pergi merantau bersama paman dan bibiku, merantau ke wilayah timur,
tinggal disana, sekolah, besar disana sampai akhirnya tak pernah pulang. Pernah
satu kesempatan dia pulang pasca lulus SMP, tapi sayang saat itu aku sedang
ujian di kampus, semua keluarga sudah bertemu dengannya, sedangkan aku?
Kami hanya berbicara satu
sama lain melalui sms, telpon, facebook, yah hanya sebatas itu saja, saling
bertukar kabar, bercerita sekolah dan teman-teman, juga saling mendo’akan untuk
kesuksesan bersama, yah hanya sebatas itu saja.
Sejujurnya aku sangat
merindukannya, aku membayangkan bagaimana nanti kami bertemu? Kapan kami bisa
bertemu? Dan aku tidak tahu reaksi seperti apa yang terjadi saat kami sudah
bertemu?
Aku bahkan tidak tahu sudah
setinggi apa dia sekarang, walaupun melihatnya lewat foto kalau tidak langsung
tetap saja berbeda, yang jelas saat ini dia sudah lebih tinggi dariku, sudah
menjadi laki-laki remaja yang mulai memperhatikan diri dan penampilan, sudah berbicara
tentang lawan jenis, yang kami bicarakan pun terkadang bahasan yang intelektual
(ya semacam pelajaran, hahaha), aku sadar saat ini dia sudah tumbuh besar bukan
adik kecilku yang cengeng dan menangis minta ikut supercamp ke bandung saat
kecil, hihi..
Aku ingin sekali suatu saat
pergi bersamanya, membelikannya baju, memilihkannya ukuran yang pas, warna yang
pas, membelikannya sepatu, dan kami pergi makan siang bersama, nonton bioskop
bersama, lalu kami saling bertukar cerita, aku berharap suatu saat bisa
melakukan itu sebelum perempuan lain yang melakukannya.
Tahun ini dia sudah lulus
SMA, itu artinya dia akan kuliah dan masuk universitas, dan dia akan tumbuh
jadi laki-laki dewasa perlahan-lahan, ah bahkan aku masih belum bisa bertemu
dengannya.
Dek, kalau dede baca ini teteh
janji setelah pulang dari negri antah barantah ini, kita harus bertemu, dan
keinginan-keinginan pergi bersama, membelikanmu baju, memilihkan ukuran yang
pas, hal-hal semacam itu teteh janji akan melakukannya, tolong ingat janji ini
yah, dan apapun yang saat ini dede rasain, entah rindu atau tidak, tapi jujur
teteh rindu banget pengen ketemu...
Miss you my lovely young
brother....
Semoga sehat dan dimudahkan
selalu, dan semoga jadi kuliah di jawa, J
insyaAllah Allah akan selalu
memudahkan hambanya yang ingin menuntut ilmu, jangan takut dan jangan khawatir.
09 Juli 2014
Pakpayoon, Pathalung.
Seorang teman pernah
bertanya di sela-sela diskusi panjang tentang pilpres dan surat-suratan para
pendukung, entah angin darimana tiba-tiba saja ia memulai pembicaraan yang
membuatku mendadak diam.
Eh nay,
kalau kamu ketemu jodohmu kamu ingin di situasi seperti apa?
Bola matanya yang besar
berkedip satu, entahlah itu jenis ekspresi apa.
Eh, kok
mendadak bicara itu toh, ayolah kita bahas lagi soal dolly, jadi kamu mau
daftar gak ke dolly? #ups
Nay,
sukanya deh mengalihkan topik.
Wajahnya sedikit ditekuk.
Lagian
orang bicara apa tiba-tiba bahas soal jodoh, alayaaaah.
Mendadak nada suaraku
berubah mengikuti seorang murid bernama laila, di akhir kata pasti ia akan
mengatakan “alayaah”, entah itu artinya apa, aku belum sempat menanyakannya.
Tapi itu semacam ekspresi sebal-sebal bohong, hahaha. Sebal tapi Cuma becanda.
Udah nay,
dijawab aja.
Rupanya penasaran sekali ini
orang sampai memaksa-maksa.
Oke, oke,
maksudnya bertemu dalam situasi apa itu gimana, coba jelasin dulu.
Aku mulai merespon
pertanyaan anehnya.
Gini loh,
misalnya senior kita kan ada yang bertemu jodohnya pas ikut kajian ramadhan,
mereka sama-sama peserta dan bertemulah, saling suka lalu sekarang sudah
menikah, ada juga yang pas di warung makan, pertama lihat langsung suka,
ta’aruf dan langsung ngajak nikah walaupun yang ini agak ekstrem si, la wong
belum kenal kok langsung ngajak nikah.
Jelasnya bersemangat. Dasar
orang ini jelasin sampai berapi-api, lupa apa yah lagi puasa, paling habis ini
bilang haus, hahaha.
Em, emang
beneran po mereka langsung nikah setelah bertemu pertama kali itu?
Tanyaku penasaran.
Iyah,
langsung ngajak nikah, yah memang itulah jodoh nay, baru lihat pertama entah
sebab apa kamu merasa yakin sekali pada dia.
Senyum merona di pipinya
terpancar, aku tahu pasti dia sedang membayangkan sesuatu.
Jadi
walaupun kita tidak kenal siapa dia, tapi entah kenapa melihat pertamakalinya
kita merasa yakin menyukai dia dan ingin menikah dengannya, itulah jodoh, gitu
maksudmu.
Tanyaku masih belum puas.
Katanya
si gitu, ya aku juga belum tahu.
Jawabannya mulai terlihat
ragu-ragu.
Tapi
bukan itu yang pengen aku tahu, tadi kan aku tanya kamu pengen ketemu jodohmu
dalam situasi yang gimana? Kalau aku pengen banget ketemu pas aku lagi di toko
komik, atau pas aku lagi ikut seminar, talkshow gitu, setidaknya terlihat dari
kepribadinnya dia suka komik, atau dia suka belajar dan mencari ilmu, pasti
orang pinter.
Masih penuh semangat ia
menjelaskan.
Aku?
Aku mulai
merangkai inginku.
Aku ingin
bertemu dengannya di tengah hujan, tidak terlalu deras, bukan juga gerimis, ya
semacam hujan tapi yang sedang-sedang saja, anginnya tidak kencang, tidak
banyak becek di jalan, hujan yang biasa saja, aku dengan penampilanku yang
biasa saja, dia juga, sangat biasa saja, aku menunggu hujan berhenti, dia pun
begitu, kami sama-sama tak membawa payung, dan hanya berteduh di depan toko.
Lalu ketika melihat toko tempat kami berteduh rupanya kami sadar ternyata itu
toko buku, lalu kami masuk ke dalamnya, kami sibuk melihat-lihat buku, sebab
hobby kami sama suka buku, mengoleksi dan membacanya, dan pada satu titik kami
bertemu pada satu rak yang sama, rak novel. Lalu mata kami bertemu, dia seorang
yang biasa saja tapi entah kenapa terlihat sangat hebat, sebab dimataku orang
yang suka membaca adalah orang yang hebat, kelopak matanya hitam, mungkin sebab
ia sering membaca dan sedikit tidur, alisnya menaik seperti orang yang sedang
menantang, mungkin menantang seberapa banyak bisa membaca, tatapannya tajam,
sangat tajam, pertama kali mata kami bertemu di bola matanya tak ada satupun
yang bisa kubaca, seorang yang susah ditebak, tapi rupanya ia amat ramah sebab
ia memulai pembicaraan.
Lagi cari
novel apa?
Suaranya,
cukup jantan, seperti umumnya suara lelaki yang memiliki jakun, terdengar
jantan dan betul-betul lelaki.
Aku yang
memang dasarnya malu pada orang baru tentu saja hanya membalas dengan senyuman.
Saya juga
suka novel, saya suka novel ini, bagus ceritanya. Bukan sekedar novel.
Ia
melanjutkan bicara sambil memberiku satu buah buku yang menurutnya bagus.
Sifat
dasar maluku mendadak hilang, sebab pembicaraan mulai spesifik, tentu saja
karakterku bila sudah bertemu orang yang klop untuk membahas sesuatu tersebab
samanya yang disuka, yang dibaca atau yang ditonton, aku menjadi lupa diri.
Ah ini,
aku juga punya novel ini, tapi belum selesai kubaca, sebab butuh waktu panjang,
harus sambil berpikir.
Jawabku
bersemangat.
Novel
berjudul dunia sophie menjadi awal pembicaraan.
Pembicaraan
berlanjut, hujan masih saja belum berhenti, ia mulai bercerita mengenai novel
apa saja yang ia baca, yang ia suka, genre apa, aku memang paling suka
mendengarkan, dan aku jadi tahu satu hal, orang yang baru kukenal ini senang
membagi ilmunya. Gantian aku yang bercerita novel apa yang kusuka, dan ternyata
tak banyak yang berbeda soal genre apa yang kami baca, beberapa penulis buku
pun sama-sama kami suka.
Yeah, aku
ingin bertemu jodohku dengan situasi seperti itu.
Rupanya sejak tadi ia
tertidur, aku yakin ia tak mendengar sedikitpun jawabanku, besok besok kalau
ditanya lagi aku malas menjawab.
Dengkurnya terdengar keras,
bertemu jodoh, aku jadi teringat akan seseorang, yang saat pertama kali
melihatnya tanpa ragu, amat yakin aku merasa dialah, yah dialah. Tapi entahlah,
itu memang baru katanya, qila wa qola kan tidak pernah pasti.
5 Juli 2014
Pakpayoon, Phathalung.
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)





.jpg)

.jpg)


.jpg)
.jpg)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact