Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Oktober 2014 0 komentar

Mengigau

Hai..
apakabar?
bukankah akhir-akhir ini malam menjadi hangat dan ramai?
tidakkah kau juga merasakannya?
malam yang lalu, malam kemarin, juga malam ini sepi dan gelap mendadak hilang, berganti dengan hangat dan selimut tebal, ah mungkin karena langit kita berbeda mungkin kau tidak merasakannya.

hai, apakabar?
hujan mengingatkan lagi semua hal yang kuredam, tentang pertemuan pertama kita di sore yang riang ditemani hujan, tentang pertemuan kali kesekiannya kita di sore yang deras, juga banyak pertemuan kita yang selalu ditemani hujan.
tidakkah kau mengingatnya juga?

sepertinya aku mulai mengigau lagi...

Minggu, 26 Oktober 2014 2 komentar

Ibu, terimakasih..



Suatu malam di akhir waktu kepulanganku, dengan bermanja-manja sebab rindu yang terlampau sesak pada ibu, aku meminta tidur satu ranjang bersamanya, beratapkan kelambu untuk menghindari nyamuk yang keberadaanya menganggu tidur, berselimutkan kain tebal dan kami saling berpelukan hangat, kalau sudah begini membuatku malas untuk kembali, biar saja aku disini, disamping ibu berselimut hangat berdua.
Selain karena betul-betul ingin tidur bersamanya, ada satu hal penting yang sangat ingin kuceritakan padanya, ah pada siapa lagi mengadukan resah dan gundah selain pada seseorang yang mengurus kita sejak kecil dan tahu apa yang harus dilakukan untuk anak kesayangannya.
Berawal basi-basi yang remeh, bertanya ini itu soal keseharian ibu saat aku tak disampingnya, kulanjutkan dengan memancingnya menceritakan kisah masa lalunya bersama bapak atau bahkan sebelum bertemu bapak, dan mengalirlah begitu saja seperti air, hanya satu dua pertanyaan, jawaban sudah melengkapi semua pertanyaan bahkan yang belum diajukan sekalipun. Ibu memang senang sekali bercerita, kata banyak orang dan beberapa teman dekat ibu yang kukenal, dia memang sosok perempuan tangguh, aktif, kritis, dan selalu jadi juru bicara. Itu memang benar, kalau ditelpon saja baru tanya kabar, jawaban sudah sampai pada menu makanan, hahaha ah ibu ibu memang sosok yang luar biasa.
Ada satu hal yang mengejutkan dari cerita ibu, ternyata ibu dan bapak adalah hasil dari perjodohan, sebelumnya ibu sudah mencintai seseorang sejak lama, hampir 10 tahun, laki-laki itupun mencintai ibu, tapi entah kenapa mereka selalu ragu untuk berencana menikah, ibu bilang laki-laki yang ia cintai seseorang yang lemah, pengetahuan agama yang kurang baik dan sebagainya, sudah tahu begitu masih saja cinta, dasar, hihihi.. dan akhirnya ibu dan bapak dijodohkan oleh guru ibu di sekolah, dan bapak adalah salah satu guru juga disana, usia mereka terpaut 10 tahun, kalau kuingat-ingat wajah bapak, memang beliau sudah sangat tua sekali, aku merasa lebih baik memang Allah mengambilnya dengan usia bapak yang sudah rentan itu.
Akhirnya aku menemukan titik temu yang cocok, aku mulai bercerita sedikit demi sedikit tentang keresahanku, awalnya hanya soal sekolah yang kuajar, murid-murid dan sampailah pada satu sosok itu, tentang seseorang yang juga pernah mampir sesaat dalam hidupku dan hingga hari ini aku masih belajar melepasnya, sebab melepaskan tidak semudah saat pertama kali bertemu dan menemukan perasaan baru padanya, tidak semudah itu, aku harus membunuh setiap kali kerinduan muncul dalam sesak, aku harus mengubur setiap kali rasa mulai memenuhi hati, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mengingatnya begitu saja seperti angin.
Bu, terkadang aku menyesal sudah bertemu dengan dia, andai saja dulu tak pernah bertemu, tak pernah kenal, kami tak pernah memiliki rasa yang sama, andai saja...
Kataku pada ibu dengan perasaan penuh sesal. 
Kamu salah nak, justru harusnya kamu bersyukur sudah pernah mengenalnya, kalian memiliki perasaan yang sama, hanya waktu yang tak berpihak, dan itu bukan sebuah kesalahan, kalian pasti memiliki waktu yang manis bersama dan itulah kenangan yang bisa kau ingat suatu hari nanti, tentu saja kenangan hanyalah bagian dari masa lalu, masa depan nanti akan jadi milikmu dengan seseorang yang lebih baik lagi darinya. Seperti bapak dan ibu. Ibu tak pernah menyesal sampai hari ini.
Betulkah begitu, aku hanya harus bersyukur karena waktu yang pernah kulalui dengannya merupakan kenangan manis?
Aku hanya harus belajar lebih banyak pada ibu, belajarkan melepaskan masa lalu dan membuka lagi pintu yang baik untuk masa depan..
Ibu, selalu mengobati luka dengan cara yang tidak pernah diduga...




24102014, Bogor. 
0 komentar

Aku baik-baik saja



Tentu saja aku baik-baik saja, aku masih bisa tersenyum dan tertawa, hey kita ini apa sih? Hanya sekedar numpang mampir di bumi Tuhan, datang sendirian, tak pernah punya siapa-siapa dan tak pernah jadi milik siapa-siapa, maka akan baik-baik saja jika manusia yang hidup lalu lalang masuk keluar dalam hidup kita, datang dan pergi begitu saja, untuk yang datang kita sambut dengan baik dan berbuat baik padanya, untuk yang pergi relakan dengan senang hati, sebab kepergian tak selalu berujung pada kesedihan, ada juga kepergian yang membahagiakan.
Aku sungguh baik-baik saja, sebab hidup memang harus terus berjalan ada atau tidaknya seseorang yang peduli pada kita, sebab segalanya menjadi kita saja seorang, perbuatan kita, kebaikan kita, jangan terlalu risau memikirkan orang lain yang tak pernah jelas, bahkan malaikat saja menanyai kita seorang saja, tidak berdua, tidak juga dengan orangtua, keluarga, sahabat dekat, apalagi bersama seseorang yang hanya hadir sesaat dalam hidup kita, rasanya mustahil.
Untuk itu, aku berharap tidak pernah ada yang berubah, semuanya baik-baik saja, aku tetap menjadi aku yang keras kepala dan selalu ingin belajar banyak hal, tak peduli ada atau tidaknya seseorang yang akan bertanya kabar atau sekedar menceritakan kisah di malam hari.
Abi, do’akan anakmu yang manis ini selalu kuat dan tegar menghadapi apapun, sekuat umi saat kau meninggalkannya...


Pakpayoon.
26 Oktober 2014


Sabtu, 04 Oktober 2014 0 komentar

Hanya saja, ingin bercerita padamu..




Abi, apakabarnya engkau disana? Bagaimana rasanya indah syurga? Aku sungguh berharap pada Dia menempatkan engkau pada kedudukan yang tinggi. Amin.
Abi, anak pertamamu yang manis ini tentu saja selalu baik-baik saja, usiaku sudah 22 tahun hampir saja sampai di 23, berat badan terakhir kemarin 59 kg, ah engkau tentu tak akan khawatir dengan kondisiku yang sehat ini. Anak abi yang kedua dan si bungsu juga baik-baik saja, ah kemarin sudah kuceritakan bukan kalau dede sudah masuk perguruan tinggi dan si bungsu sudah 2 SMP dan tinggal di pesantren juga aktif di kegiatan sekolah, tak berbeda jauh denganku, yah sebab si bungsu selalu ingin menjadi tetehnya, andai dia tahu tetehnya sangat biasa saja, tak ada apa-apanya.
Abi, sudah 6 bulan berlalu aku menetap di negri antah barantah ini, dan abi tahu sebentar lagi aku mau pulang, ah rasanya rindu ini sudah terlalu penuh untuk kutampung jadi kubiarkan ia terurai satu persatu, rindu umi, rindu si dede dan si bungsu dan tentu saja rindu semua hal yang ada di negri kita. Disini aku baik-baik saja, betah, guru-guru dan tetangga baik-baik, murid-muridnya, yah seperti yang abi tahu ada saja murid-murid nakal yang sedang berproses menjalani kehidupan, tapi aku sungguh baik disini, hanya saja yah hanya saja pada satu waktu ketika sepi dan bosan mencekik leher dan tak ada yang bisa dilakukan, pada satu waktu itulah jalan yang teringat adalah pulang, sebab pulang adalah obat dari semua kerinduan.
Abi tahu, kemarin adalah idul adha yang sudah kesekian tak kulalui bersama keluarga, tidak hanya sekali dua kali tapi sudah sering, dan ini yang terberat karena begitu jauh dari siapapun, tak ada tempat untuk sekedar menyimpan rindu yang sudah penuh, semua disini terasa sempit sekali. Di negri antah barantah ini perayaan lebaran bukanlah seperti yang kita rasakan di negri muslim biasanya, disini sepi sekali, bahkan tak ada suara takbir, bahkan beberapa hari sebelumnya aku lupa kalau esoknya adalah lebaran idul adha.
Abi, sekarang aku sudah mulai membaik dalam mengontrol diri, mengontrol perasaan dan menahan semua yang mendidih dalam hati, perlahan-lahan aku sudah bisa, di surat yang kesekian aku pernah bercerita bukan tentang sosok dia, seseorang yang alisnya mirip sekali denganmu, sebab begitu banyak hal yang terjadi dan tentu saja aku sadar diri siapa diriku ini maka aku belajar untuk menahan, semoga hasilnya manis suatu saat nanti, abi ingat kan sosoknya, seseorang yang kusebut namanya dalam do’a.
Abi, esok ketika sudah sampai rumah, sudah bertemu umi dan kedua anak abi yang lain aku janji akan mengirimimu surat kembali, aku janji, janji anak pertamamu, pasti abi juga rindu umi, aku akan menceritakan bagaimana keadaan umi nanti..
Abi, selamat malam...

04 Oktober 2014
Pakpayoon.


Sabtu, 27 September 2014 0 komentar

Deraslah



Kau boleh membuka hatimu pada yang lain, aku tak melarang.
Katamu suatu hari dengan wajah dinginmu, dan wajah dingin itu menjadi begitu amat dingin dari biasanya sebab dingin hujan membuat pertemuan kita menjadi berbeda.
Aku tak mau.
Jawabku ketus.
Kau pikir mudah membuka hati untuk orang lain? Andai saja tetes hujan saat itu bisa kuraih ingin sedikit kubasahi wajahmu dengannya agar kau tersadar dari kata-kata aneh itu.
Aira
Panggilmu tajam, ah kata-katamu sore itu mendadak seperti sebilah pisau.
Sebelum kata-katamu semakin sulit kuterima, kubiarkan kau meracau sendiri dengan hujan.
Mau kemana aira?
Tanyamu masih dengan wajah dingin.
Tak perduli hujan sederas apapun, lebih baik aku tak mendengar lagi bicaramu yang aneh itu.
Biar saja hujan turun sederas apapun, dengan begitu tak pernah ada yang tahu ada tetes hangat di pipiku..



Jumat, 19 September 2014 0 komentar

Menertawakan diri




Hidup ini selalu menarik, ada saja hal-hal terjadi diluar kendali kita, diluar keinginan bahkan lebih mengejutkan dari rencana yang kita buat. Seperti akhir-akhir ini, beberapa teman yang dekat bercerita banyak hal tentang hidupnya, tentang perasaanya, tentang sakit hatinya, tentang sedih dan lukanya, dan semua yang mereka sampaikan, mereka tanyakan dan memintaku memberi jawaban adalah hal yang aku pun mengalaminya, ah bahkan aku sendiri tak tahu jalannya.
Nay, aku pengen turun berat badan, gimana ya caranya.
Bahkan sampai hari ini aku masih kesulitan menjawabnya.
Ustadzah, gimana si pengen nulis lagi, biar bisa ada inspirasi, ada semangat lagi.
Aku Cuma tertawa, bagaimana mungkin aku tahu, sampai detik ini pun aku tak tahu kata pertama apa yang harus kutulis.
Mba, pernah gak ngerasain rindu sama orang? Sakit ya ternyata memendam rindu.
Lagi-lagi aku Cuma tertawa, kenapa manusia hari ini menjadi gila, aku bahkan sudah muak dengan kata-kata itu, karena terlalu sering aku merasakan dan diam tanpa ada jalan keluar.
Nay, aku stres, berat badanku turun, aku putus sama dia.
Hahaha... gila, sumpah, mereka membuat aku tertawa.
Nay, mba bingung apa mba tinggalin dia yah, terlalu lama kalau harus nunggu dia selesai kuliah, sementara mba udah pengen nikah.
Sampai tawaku yang tak bisa kukendalikan, airmata menetes begitu saja, hidup betul-betul menggelikan.
Aku Cuma ingin duduk santai malam ini, mendengarkan lagu favoritku, memandangi langit malam, berharap ada kunang-kunang datang, melepaskan beban apapun yang ada di pikiran, tanpa ada seorangpun, bahkan tanpa ada kamu di pikiranmu, kosong, hanya aku dengan Tuhan.




190914

Pakpayoon. 
Selasa, 09 September 2014 0 komentar

Kunang-kunang jelek, datanglah 1 menit saja



Kunang-kunang jelek, datanglah malam ini, aku ingin menangis bodoh di hadapanmu, sebab dengan kau mengejekku itu sudah mengambil separuh sesakku yang menumpuk.
Bagaimana aku bisa menyimpan sesak yang begitu dalam, sampai menangis bukan lagi jadi jawaban atas kelegaan, kunang-kunang jelek, datanglah.

Datanglah, aku rindu orang bodoh yang tak pernah punya waktu untuk sekedar menyapaku. 

sebab itu datanglah, tertawakan aku dengan bodohmu... 


09 september 2014
pakpayoon. 


Selasa, 02 September 2014 0 komentar

Bagaimana jika..



Bagaimana jika selama ini aku sudah salah memikirkan seseorang, menyebut nama yang salah dalam do’aku, dan mengeja huruf yang salah pada bait puisiku?
Bagaimana jika selama ini aku sudah salah mengingat seseorang di waktu luangku, membayangkan hal-hal baik di masa depan dengannya padahal dia adalah orang yang salah? Tidak, bukan dia yang salah, tentu saja aku.
Bukankah Tuhan hanya akan memasangkan seseorang sesuai kualitas keduanya, yang baik dengan baik dan pemalas dan bodoh sudah pasti dengan pemalas dan bodoh pula, rasa-rasanya tidak mungkin sekali orang bodoh dengan yang berwawasan luas akan menjadi pasangan baik yang akan mendapat gelar pasangan sempurna. Itu hanya terjadi jika keduanya orang yang gila.
Bagaimana jika itu memang benar, aku sudah salah memilih, sebab mungkin dulu aku sedang tidak waras, lupa diri dan sedang tak menginjak bumi sehingga lupa bahwa dia terlalu tinggi.
Tuhan, apa benar aku salah?



02 September 2014
Pakpayoon.


Senin, 18 Agustus 2014 1 komentar

Hari ini aku...




Hari ini aku menemukanmu, pada tetes hujan yang jatuh tepat di sore manisku, memelukku gigil dengan erat, aku larut dalam derasmu.
Hari ini aku menemukanmu, pada jalanan sore yang lengang, aku berjalan sendirian dan kau menatapku dalam bayang-bayang.
Hari ini aku menemukanmu, di langit sore yang kelabu, hujan enggan berhenti, aku kedinginan dan kau memberiku kehangatan dalam pikiran.
Aku terlalu sering menemukanmu, hingga aku tidak lagi bisa membedakan antara nyata dan mimpiku.




Pakpayoon, 18 Agustus 2014 
Jumat, 15 Agustus 2014 0 komentar

Harta karun yang hilang



Hey kunang-kunang malam, kemana perginya kau? Kupikir dengan lagu-lagu galau ini kuputar, cukup membuatmu tergoda mendatangiku, lalu dengan sudah aku tahu kau akan berkata sok tua menasihatiku, ah kau lupa aku lebih tua darimu.. hihi, :-P
Aduh nay, bersiap-siap alzheimer nanti tua sering-seringka galau.
Eh siapa bilang aku galau, lihat dong aku bahagia, kebetulan saja ini liburan kuputar lagu begini, tak ada hubungannya dengan moodku eh.
Seperti biasa aku mengelak.
Alah, palingan bohong lagi.
Si kunang-kunang jelek mulai menyebalkan.
Betulan ini, aku tidak galau, hanya saja.. .
Pandanganku beralih menatap bulan. Hanya untuk mengalihkan biar si kunang-kunang jelek tak menatapku.
Hanya saja apa?
Kunang-kunang mulai memaksa ingin tahu, ih kepo deh, :-P
Pandanganku masih belum beralih, ah biar saja lagian kunang-kunang nyebelin si.
Hanya saja aku sedang ingin melampiaskan kepingan-kepingan harta karunku yang akhir-akhir ini kusembunyikan.
Baru saja kuakui rahasiaku, dan ah dasar kunang-kunang jelek, ternyata dia sudah pergi.
Baguslah, bila dia tahu apa yang akan dia katakan padaku, huft.

Lebih baik dia tidak tahu.. 



15 Agustus 2014
Kamis, 14 Agustus 2014 0 komentar

Harta karun yang tersembunyi



Bukan ku tak rindu, sungguh bukan, sebab ini adalah bagian dari resiko memilih jauh darimu.
Pilihan memang selalu sulit, sebab ada dua hal yang bersisian tapi kamu harus mengambil satu sisi yang kamu anggap itu paling penting untuk hidupmu, lalu bagaimana nasib satu sisi lainnya? Itulah, pilihan memang selalu sulit.
Hari ini kusimpan harta karun perasaanku satu persatu dalam kotak hatiku, hingga suatu hari harta karun yang kusembunyikan akan sampai di tanganmu dengan penuh kegirangan, aku tersenyum memberikannya dan kau menerima dengan bahagia.
Harta karun yang kusimpan itu kusebut ia rindu.
Aku menyimpannya diam-diam setiap malam menjelang tidur.

#efek kangen sama umi.



14 Agustus 2014

Pakpayoon. 
Rabu, 13 Agustus 2014 0 komentar

Perempuan yang menunggu



Seseorang yang tidak kukenal, ia duduk sendirian di ujung jembatan, disana ada kursi panjang yang ramai dedaunan, daun-daun kuning yang berjatuhan, jembatan yang sepi, tidak ada lalu lalang, pantas saja ia begitu asyik duduk, kedua tangannya menyentuh permukaan kursi, matanya nanar memandangi hamparan danau dan matahari yang mulai tenggelam, bajunya sedikit lusuh, jilbab coklatnya menutupi sebagian wajahnya sebab angin yang menemaninya dalam sunyi, sepertinya ia sudah cukup lama berada disana, entah sejak pagi, siang tadi atau bahkan hari kemarin, tak ada yang tahu, tapi sinar wajahnya yang tersapu cahaya mentari merekah girang, entah apa yang membuat senyum itu terlihat tulus sekali.
Sore itu tanpa sengaja aku melewati jembatan, ingin mengabadikan senja dalam ingatan sebab hari ini hari terakhir aku berada di perantauan, esok langit dan indah kota ini tak bisa kurasai lagi, dan aku melihatnya, gadis yang senyumnya tulus, dengan baju lusuh dan jilbab coklat muda, kulitnya tidak terlalu putih tapi sore itu aku rasa cahaya mentari membuat wajahnya menjadi bersinar kegirangan.
Tersebab ini hari terakhirku, dan esok, lusa bahkan seterusnya mungkin aku tak bertemu gadis itu lagi, aku ingin sekali menyapanya, sekedar bertanya apa yang dia lakukan di sore yang manis ini. Berkat rasa penasaranku yang terlampau besar, kuberanikan diri mendekat.
Belum sampai sepersekian langkah aku mendekat, rupanya gadis itu sadar ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Dalam sekian detik saja aku melihat wajahnya, wajah yang tidak pernah kulihat selama ini, senyum yang tulus, tapi menyimpan banyak duka pada sorot matanya, akhirnya aku tahu ia duduk disini sedang menunggu, entah apa yang ia tunggu aku tak tahu, aku hanya melihat itu dari wajah yang penuh kesabaran.
Apa yang hendak anda tanyakan, sepertinya anda orang yang sudah kesekian menghampiri saya dan bertanya hal yang sama. 
Suaranya parau tapi lantang. Dan aku sungguh malu sudah melakukan hal gila ini, menghampiri seseorang yang tidak kukenal hanya karena ingin tahu apa yang sedang ia lakukan.
Begitu rupanya, maaf kalau saya menganggu, saya hanya sekedar lewat dan kebetulan melihat anda, dan mungkin pertanyaan saya sama dengan yang lain, sedang apa anda duduk disini, ini sudah hampir malam, tidak baik gadis berkeliaran malam hari.
Jawaban sok diplomatis yang kulontarkan. Setidaknya untuk menutupi rasa maluku ini.
Saya sedang menunggu, menunggu waktu, menunggu hari berlalu, dan menunggu seseorang yang akan datang. Itupula jawaban yang saya lontarkan pada setiap orang yang bertanya. Dan mohon tidak bertanya lagi. Biarkan saya disini, tetap menunggu sendirian.
Hanya itu, dan setelah itu aku tidak berani melanjutkan pertanyaan, baiklah hari ini cukup, sebaiknya aku memang pergi, toh gadis ini siapa pula dia tidak kukenal.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah gadis itu timbul tenggelam dalam ingatan, mengapa gadis setulus itu harus menunggu begitu lama, siapa yang dia tunggu, untuk apa dia menunggu.
Sudahlah.
***
2 tahun kemudian...
Akhirnya aku bisa menginjakkan lagi kota kenangan ini, kota tempat merantau selama 4 tahun, hidup dengan berbagai budaya dan lingkungan yang berbeda, tapi aku menyukainya, aku suka kota ini, sebab ia membuatku jadi lelaki dewasa.
Dalam perjalanan menuju penginapan, mobil yang membawaku berhenti sebentar, supir yang membawaku hendak mengambil barang di salah satu temannya, kami berhenti tepat di sebuah tempat yang bagiku tak asing lagi, danau kecil, jembatan diatas danau, dan kursi panjang di ujung jembatan, rumah yang dulu baru beberapa sekarang sudah penuh dengan perumahan dan mobil mewah, kupikir ini tak akan memakan waktu lama, aku hanya duduk di kursi belakang dengan santai, tapi ternyata sudah 15 menit berlalu supir yang membawaku tak juga datang, aku mulai merasa kesal, akhirnya aku keluar dari mobil.
Suasana yang masih kuingat, tempat terakhir yang kukunjungi sebelum aku pulang, dan seseorang yang duduk di ujung jembatan, mataku nanar melihat ke ujung jembatan, wajah yang pernah kulihat, wajah yang dulu, gadis itu, yang sedang menunggu, mengapa hari ini dia masih duduk disana. Satu tanda tanya besar.
Hampir saja aku berlari menghampirinya sebab sudah 2 tahun berlalu dan mengapa ia masih juga disini? Banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran. Tapi langkahku berhenti, sebab gadis itu sudah tak sendiri lagi, disampingnya ada seseorang, yah seseorang yang sudah sangat kukenal, wajah yang tak asing, senyum yang naif, dan hey, baju itu, bukankah itu baju kesukaanku, mengapa laki-laki itu memakainya juga, mereka terlihat sangat bahagia, gadis yang kuketahui itu terlihat sangat bahagia, sesekali ia sandarkan kepalanya pada bahu laki-laki itu dan tangan si laki-laki pun merangkulnya, mereka pasangan yang berbahagia, dan entah kenapa aku sangat iri melihatnya.
Rupanya laki-laki bodoh itu yang ia tunggu, entah sebab apa aku merasa muak dengan laki-laki itu, sudah hampir 2 tahun berlalu, dan dulu saat aku melihat gadis itu, aku melihat ada ketulusan, kesabaran dan cinta yang sangat besar, lelaki mana yang menolak dicintai dengan cinta yang besar oleh perempuannya.
Aku mengenalnya, sangat mengenalnya, dia sudah tak asing lagi dalam hidupku. Dan memang, saat kulihat sekali lagi wajah lelaki itu, wajah kami memang sama.
***
Terkadang dalam hidup, ada orang yang tidak pernah sadar dan menyadari bahwa jauh di tempat yang ia tidak tahu, ada seseorang yang sudah menunggunya, seseorang yang setia dan tulus menunggunya, mencintai dengan cinta yang besar, tapi banyak orang yang tidak menyadari itu. 



Pakpayoon.

13 Agustus 2014
Sabtu, 09 Agustus 2014 0 komentar

Suatu hari saat aku bahagia



Suatu hari dimana saat itu aku merasa bahagia, duduk dalam bus perjalanan ke malasyia, seperti biasa memilih duduk yang dekat jendela, lagu hugh grant and heley bennet sudah dua kali kuputar, dan simsalabim, rupanya hujan deras menemani perjalanan, bahagiaku bertambah.
Suatu hari saat aku merasa bahagia, kekhawatiran tentangmu sudah berkurang perlahan-lahan, kau menjadi amat dewasa kurasa, dan aku pun menjadi tahu diri, perjalanan tentang kita sudah sepenuhnya kuikat dengan waktu dan garis Tuhan, jika suatu hari waktu dan garis Tuhan membuat ikatan kita berhenti maka aku akan sepenuhnya rela, sebab sudah kukatakan waktu dan garis Tuhan yang akan menghentikan semuanya.
Aku masih saja mengingatmu, tidak mungkin ingatan itu kuhapus begitu saja sebab kamu seseorang yang sudah merampas memoriku tentang banyak hal, aku masih mengingatmu dalam keadaan aku bahagia, ketakutanku tidak sebesar hari-hari yang lalu, sebab terkadang mengikuti air yang tenang bisa membuat kita sampai pula pada tujuan, yaitu lautan.
Hujan yang deras, lagu yang romantis, semua menambah lengkap kebahagiaanku, entah bagaimana dan sedang apa kau disana aku merasa baik-baik saja, karena aku tahu, kau pun tahu cara Tuhan akan lebih baik untuk kita harus bersikap.
Aku ingin kita dipertemukan suatu hari nanti dengan cara yang paling baik.
Aku pun berharap demikian.
Suatu hari nanti, disaat yang paling baik, di waktu yang paling baik..
Aku akan menunggu.




Pakpayoon,

09 Agustus 2014
Selasa, 05 Agustus 2014 0 komentar

Ada yang hilang



Suatu hari seorang ibu dan anak sedang duduk-duduk manis di beranda rumah, sore menjelang malam, langit mulai terlihat gelap, sang anak sedang asik memijati pundak ibu yang keletihan seharian bekerja.
Di sela-sela itu, ada saja obrolan hangat yang membuat hubungan anak dan ibu itu menjadi sangat dekat, tawa sesekali muncul, hingga pada saatnya obrolan yang tidak diduga muncul ke permukaan.
Nak, apa kau pernah jatuh cinta?
Tanya sang ibu memulai percakapan yang tidak diduga, sebab selama ini obrolan semacam itu tidak pernah muncul diantara mereka, sang ibu takut sebab usia anaknya masihlah sangat muda.
Pijatan si anak tiba-tiba mengendur, ia sempat berhenti sejenak dan memandangi langit yang hampir gelap.
Kenapa memang bu, kok tiba-tiba begini toh ibu bertanya.
Jawab si anak berusaha tetap tenang, meskipun ada sesuatu yang ia sembunyikan.
La nduk, piye anakku udah sebesar ini masih belum jatuh cinta kan ibu yang khawatir, jangan-jangan malah sukanya bukan pada laki-laki.
Timpal sang ibu menggoda.
Huss, ibu ini, ya ndaklah bu, aku yo seneng karo cah lanang bu.
Jawab si anak mengaku, akhirnya ia tertipu dugaan sang ibu yang sebenarnya hanya ingin mengujinya.
Gelak tawa muncul dari sang ibu yang merasa menang dengan umpannya.
Nak, ibu tidak pernah melarang kamu jatuh cinta, suka sama siapa saja boleh, tapi kalau seseorang itu kamu harapkan jadi suamimu kelak, sebaiknya kamu harus banyak pertimbangan, jangan asal memilih laki-laki yang sekedar bagus di tampang tapi kelakuan buruk.
Sang ibu yang sedang dipijat membalikan badannya menghadap si anak, rupanya pembicaraan menjadi bertambah serius.
Si anak bersemu merah, ia gelagapan, tidak tahu harus memberikan jawaban jenis apa, sebab dalam hatinya ia ingin sekali bercerita.
Ibu adalah ibu, ia tahu apa yang anaknya sembunyikan, tapi dia tak ingin memaksa anaknya bercerita, biarlah anaknya yang mengaku sendiri.
Si anak diam sesaat, hatinya ragu haruskah ia bicara, selama ini ia sudah sering menyembunyikan banyak hal pada ibunya, mungkin inilah saatnya.
Bu, kalau mencintai seseorang tapi tidak tahu masa depan jenis apa yang menimpa antara kami, sebab cinta kadang membuat seseorang lupa dengan kepastian, dengan halangan, dengan banyaknya duri yang dilewati, cinta jenis apa itu bu? Bila mencintai seseorang berharap ia menjadi orang di masa depan, tapi waktu membuatnya perjalanan terhenti, sebab jalan yang ditempuh tak juga bisa dibaca, masa depan tak pernah ada yang tahu arahnya. Cinta macam apa ini bu?
Kata-kata si anak mengalir begitu saja, perasaan malu membuatnya lupa.
Nak, cinta itu tidak pernah ada yang rumit, cinta itu sederhana, ia seperti hujan, yang tetesnya membawa kebaikan, kalau tetes kebaikannya membuatmu masih harus meraba jalan mana yang akan kau singgahi, maka itulah cinta, jika tetes kebaikannya bahkan membuatmu harus menunggu dan waktu yang berjalan sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya, maka itulah cinta, kalau kau merasa nyaman dengan cinta macam itu, maka tetaplah pertahankan cintamu, sebab mencintai bukan saja soal ia cantik atau tampan, tapi memberikan separuh hati kita untuk kita percayakan pada seseorang yang kita pilih, sebab itu cinta menjadi sangat mulia, seperti amanah yang tidak semua orang bisa menjaganya dengan benar.
Sebab Tuhan nak, ia tidak pernah tidur, Dia tahu apa yang hambanya minta, sebab itu banyaklah berdo’a, jadilah orang baik maka Tuhan tidak akan segan mengabulkan.
Tanpa sang ibu sadari, mata si anak sudah basah sejak tadi, ia menangis, sebab nasihat ibunya adalah nasihat paling bijak yang pernah ia dengar, dan ia merasa nyaman sekali karena akhirnya sang ibu tahu apa yang anaknya rasakan.
Rupanya langit sudah benar-benar gelap, dan orang yang ditunggu sudah datang.
Ayah datang bu.
Ayah bawa apa..
Teriak si anak berlari menghampiri sosok yang dipanggil ayah itu. Laki-laki berkacamata tebal itu sudah datang.
Sang ibu hanya bisa menangis, sebab ia tak melihat siapa-siapa.


Pakpayoon.

5 Agustus 2014
Minggu, 03 Agustus 2014 0 komentar

Bagaimana Jika...



Aku sudah membayangkanmu jauh-jauh hari, menerka-nerka perjalanan kita, berjalan berdua di pinggir pantai, kau mengenggam erat jemariku sebab aku begitu khawatir pada air, banyak hal sial yang kualami di lautan, aku pernah tenggelam dua kali, untung saja seseorang menyelamatkanku, setiap kali minum aku selalu menumpahkan air, dan banyak hal lainnya yang teman-temanku bilang aku tidak pantas hidup di dunia air.
Aku sudah membayangkanmu jauh-jauh hari, kita hanya berjalan saja di pinggir pantai, menunggu matahari tenggelam, kita duduk manis di pasir, kita saling bercerita, melihat orang-orang berlalu lalang, kau sedikit mencuri pandang pada bule-bule seksi itu tapi aku menyuruhmu memalingkan wajah, tapi kau justru memalingkan wajahmu padaku, hanya melihatku saja, dan itu cukup membuat pipiku merah menahan malu.
Kita menyaksikan matahari cantik itu tenggelam, langit berubah orange kecoklatan, kau bilang ini pertama kalinya melihat sunset dengan perempuan dan itu aku, betapa saat itu aku bahagia tak terkira, dan kita menghabiskan sore itu hanya berdua saja, di pinggir pantai melihat matahari tenggelam, di sebuah pulau tempat kita berbulan madu.
Aku terlalu sering naif dan hidup dalam dunia mimpi, terlalu banyak hal yang kubayangkan dan ingin kulakukan itu hanya denganmu.
Bagaimana jika, suatu hari nanti ternyata Tuhan berkehendak lain, kita tidak berjodoh, lalu bagaimana dengan mimpi-mimpi yang sudah kaurencakan.
Katamu suatu hari tersebab ketakutan akan sakit yang kualami di kemudian hari.
Aku akan sering-sering meminta pada Tuhan, bukankah tidak ada yang mustahil untuk Dia mewujudkan?
Jawabku menghibur diri.
Andai kau tahu, jauh dalam hatiku, aku pun takut, bahkan mungkin ketakutanku melebihi ketakutanmu, bagaimana jika...
Aku hanya bisa berdo’a.


Pakpayoon.

03 Agustus 2014
0 komentar

Sebab aku, memang perempuan keras kepala.


Aku lelah berdebat denganmu.
Kataku suatu hari saat kau memintaku yang kesekian kalinya untuk berhenti.
Kau tidak tahu betapa keras kepalanya aku, sampai lelah menyergapku dan mungkin tidak ada lagi harapan sedikitpun, saat itulah aku akan berhenti.
Aku tidak tahu jawaban jenis apa yang harus kukatakan untuk membuatmu yakin, untuk membuatmu lebih berani, dan membuatmu menatapku seutuhnya.. sungguh, kali ini aku pasrah, tapi izinkan aku untuk terus menyebutmu dalam do’aku, izinkan aku untuk terus menginginkanmu dalam hidupku di masa depan, hingga waktu sendiri yang membuat semuanya akan berhenti.
Sebab aku, memang perempuan keras kepala, dan kau sudah tahu itu...



03 agustus 2014


Kamis, 24 Juli 2014 0 komentar

Dear : A-Z (Merasai sendiri)



Hey, kau yang melukis pelangi selepas hujan, apakabarmu? Waktu semakin cepat saja berlalu, perlahan kita mulai lupa dengan apa yang terjadi kemarin, seminggu yang lalu, satu tahun yang lalu apalagi untuk mengingat 4 tahun lalu saat pertemuan yang tidak diduga itu. Tapi aku masih mengingatnya, seperti kejadian hari kemarin aku masih hafal detail tentang pertemuan tak diduga itu, ah memang mungkin saat itu Tuhan sedang merencanakan sesuatu.
Malam ini sangat sepi, sepi sekali, teriakanku pun bahkan tak terdengar sama sekali, cuaca dingin, hujan sudah turun sejak tadi pagi, orang-orang sibuk memilih kampung halaman sebagai tempat kembali, sekolah sudah libur, penghuni asrama pun sudah tak tersisa, dan hanya ada aku serta 3 orang teman seperjuanganku disini, hanya kami berempat saja di asrama yang gelap dan sepi. Kami berusaha membuat gaduh, keramaian yang tanpa tujuan, aku sibuk mencuci pakaian dan piring-piring kotor, ketiganya sibuk dengan menelpon rumah, bermain gadget, memasak untuk sahur, kami berusaha membuat ramai tapi rupanya sunyi tak bisa ditolak.
Bagaimana denganmu disana?
Ini kali pertama aku habiskan libur ramadhan sampai idul fitri tidak pulang, tidak bertemu orang-orang terkasih, tidak bisa mencium maaf ibu dan para tetua keluarga, tidak mendapat thr dari tetua, tidak bisa merasai lezatnya masakan ibu, aku jadi merasa malam ini mulai menyakitkan, dan besok, lusa sampai hari seterusnya kesakitan dan menahan rindu harus kurasai sendirian.
Hey, kau yang kusebut dalam diam do’aku, suatu hari mungkin kita akan merasakan hal seperti ini, jauh dari keluarga, idul fitri tidak bisa berjumpa, mungkin saja, mislanya bila sudah berkeluarga, bila darurat pekerjaan dan bila-bila yang lain yang mungkin datang tidak diduga, tak bisa ditolak, seperti pertemuan kita yang tak bisa kutolak. Aku, kamu atau siapapun mungkin akan merasakan hal yang sama, menikmati malam-malam sendirian, kesunyian yang sulit dihindari lalu merasa hari menjadi menyakitkan setiap waktunya.
Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi esok, apa yang akan kulakukan esok, tapi yang sudah pasti terjadi ramadhan sebentar lagi berakhir, idul fitri tiba, dan yeah seperti itulah, diriku masih saja begini, buruk yang tidak juga lenyap setelah melewati ramadhan, ketaqwaan yang tidak juga bertambah baik setelah berusaha selama ramadhan, aku tidak tahu masih maukah Tuhan memberiku ampunan sementara aku masih menjadi orang yang buruk.
Hey, untukmu yang jauh disana, maaf untuk semua yang sudah kulakukan diketahui atau tak, dirasakan atau tak, sebab waktu setiap detiknya akan membuat kita menjadi pelupa, bahkan lupa dengan dosa..
Selamat malam, semoga kau baik-baik saja. :) 



24 Juli 2014
Pakpayoon, Pathalung.


Selasa, 15 Juli 2014 0 komentar

Aku, masih akan menyebutmu dalam do’a.



Sisa hujan masih membekas di balik kaca mobil, tetiba saja hujan deras menemani perjalanan, aku menatapnya lekat-lekat, setiap kali naik mobil secara refleks aku akan memilih duduk dekat kaca, aku menyukainya sebab memandangi jalanan lewat kaca jendela seperti merangkai kenangan secara detail di tiap sudut jalan, sebab aku akan mengingat seperti apa jalanan yang pernah kulewati pada hari ini, seperti apa langit yang kulihat pada hari ini, detail itu suatu saat akan menjadi rangkaian kenangan yang suatu hari akan kuurai satu persatu setiap kali kata rindu menghinggapi.
Seperti pula hari ini sambil memandangi tetes hujan di kaca, sore yang dingin, duduk di sudut kursi mobil, melewati hijau pepohonan, secara tiba-tiba pula rangkaian kenangan di masa dulu kuurai satu persatu, duduk di jendela kamar, diluar hujan deras tak juga henti, sembari menahan gigil, kutatap lekat-lekat tetes hujan yang cepat, kutulis namaku di kaca, lalu secara refleks pula kutulis namamu di kaca ada nama kita dibalik tetes hujan di jendela kamarku, aku tersenyum sendiri, kuhapus kembali nama kita, sambil masih duduk dekat jendela, kutulis lagi namamu, hanya namamu saja dan kulingkari. Sore yang gigil itu lirih bisikku pada Dia, merafal do’a dan harap yang kusebut diam-diam.
Aku mengingat itu, aku tersenyum lagi hari ini mengingatnya, betapa bodohnya aku saat itu, hampir saja kuulangi, menuliskan namamu di kaca mobil, tapi tiba-tiba saja pesan masuk itu kuhafal kuat dalam benak.
Tidak semua yang diinginkan akan diperoleh kan?
Semoga Tuhan tidak pernah bosan mendengar do’a dan pinta dari orang-orang berdosa, sepertiku.
Aku, masih akan menyebutmu dalam do’aku....





15 july 2014

Pakpayoon, Phattalung. 
Rabu, 09 Juli 2014 0 komentar

Dear : Lelaki yang 10 tahun tak bertemu (My Lovely Young Brother)


Akhir-akhir ini aku jadi lebih sering ingat pulang, membayangkan pulang, bertemu keluarga, teman-teman yang setahun ini tak bertemu. Yeah, hanya satu tahun saja. Bagaimana dengan orang yang sudah 10 tahun tak bertemu?
Aku adalah anak pertama, punya adik laki-laki yang sudah 10 tahun tak bertemu, bagaimana perasaanmu? Kami memang sudah selama itu tak bertemu, saat usianya sangat kecil, sekitar SD dia sudah pergi merantau bersama paman dan bibiku, merantau ke wilayah timur, tinggal disana, sekolah, besar disana sampai akhirnya tak pernah pulang. Pernah satu kesempatan dia pulang pasca lulus SMP, tapi sayang saat itu aku sedang ujian di kampus, semua keluarga sudah bertemu dengannya, sedangkan aku?
Kami hanya berbicara satu sama lain melalui sms, telpon, facebook, yah hanya sebatas itu saja, saling bertukar kabar, bercerita sekolah dan teman-teman, juga saling mendo’akan untuk kesuksesan bersama, yah hanya sebatas itu saja.
Sejujurnya aku sangat merindukannya, aku membayangkan bagaimana nanti kami bertemu? Kapan kami bisa bertemu? Dan aku tidak tahu reaksi seperti apa yang terjadi saat kami sudah bertemu?
Aku bahkan tidak tahu sudah setinggi apa dia sekarang, walaupun melihatnya lewat foto kalau tidak langsung tetap saja berbeda, yang jelas saat ini dia sudah lebih tinggi dariku, sudah menjadi laki-laki remaja yang mulai memperhatikan diri dan penampilan, sudah berbicara tentang lawan jenis, yang kami bicarakan pun terkadang bahasan yang intelektual (ya semacam pelajaran, hahaha), aku sadar saat ini dia sudah tumbuh besar bukan adik kecilku yang cengeng dan menangis minta ikut supercamp ke bandung saat kecil, hihi..
Aku ingin sekali suatu saat pergi bersamanya, membelikannya baju, memilihkannya ukuran yang pas, warna yang pas, membelikannya sepatu, dan kami pergi makan siang bersama, nonton bioskop bersama, lalu kami saling bertukar cerita, aku berharap suatu saat bisa melakukan itu sebelum perempuan lain yang melakukannya.
Tahun ini dia sudah lulus SMA, itu artinya dia akan kuliah dan masuk universitas, dan dia akan tumbuh jadi laki-laki dewasa perlahan-lahan, ah bahkan aku masih belum bisa bertemu dengannya.
Dek, kalau dede baca ini teteh janji setelah pulang dari negri antah barantah ini, kita harus bertemu, dan keinginan-keinginan pergi bersama, membelikanmu baju, memilihkan ukuran yang pas, hal-hal semacam itu teteh janji akan melakukannya, tolong ingat janji ini yah, dan apapun yang saat ini dede rasain, entah rindu atau tidak, tapi jujur teteh rindu banget pengen ketemu...
Miss you my lovely young brother....
Semoga sehat dan dimudahkan selalu, dan semoga jadi kuliah di jawa, J
insyaAllah Allah akan selalu memudahkan hambanya yang ingin menuntut ilmu, jangan takut dan jangan khawatir.




09 Juli 2014

Pakpayoon, Pathalung. 
Jumat, 04 Juli 2014 0 komentar

Bertemu Jodoh


Seorang teman pernah bertanya di sela-sela diskusi panjang tentang pilpres dan surat-suratan para pendukung, entah angin darimana tiba-tiba saja ia memulai pembicaraan yang membuatku mendadak diam.
Eh nay, kalau kamu ketemu jodohmu kamu ingin di situasi seperti apa?
Bola matanya yang besar berkedip satu, entahlah itu jenis ekspresi apa.
Eh, kok mendadak bicara itu toh, ayolah kita bahas lagi soal dolly, jadi kamu mau daftar gak ke dolly? #ups
Nay, sukanya deh mengalihkan topik.
Wajahnya sedikit ditekuk.
Lagian orang bicara apa tiba-tiba bahas soal jodoh, alayaaaah.
Mendadak nada suaraku berubah mengikuti seorang murid bernama laila, di akhir kata pasti ia akan mengatakan “alayaah”, entah itu artinya apa, aku belum sempat menanyakannya. Tapi itu semacam ekspresi sebal-sebal bohong, hahaha. Sebal tapi Cuma becanda.
Udah nay, dijawab aja.
Rupanya penasaran sekali ini orang sampai memaksa-maksa.
Oke, oke, maksudnya bertemu dalam situasi apa itu gimana, coba jelasin dulu.
Aku mulai merespon pertanyaan anehnya.
Gini loh, misalnya senior kita kan ada yang bertemu jodohnya pas ikut kajian ramadhan, mereka sama-sama peserta dan bertemulah, saling suka lalu sekarang sudah menikah, ada juga yang pas di warung makan, pertama lihat langsung suka, ta’aruf dan langsung ngajak nikah walaupun yang ini agak ekstrem si, la wong belum kenal kok langsung ngajak nikah.
Jelasnya bersemangat. Dasar orang ini jelasin sampai berapi-api, lupa apa yah lagi puasa, paling habis ini bilang haus, hahaha.
Em, emang beneran po mereka langsung nikah setelah bertemu pertama kali itu?
Tanyaku penasaran.
Iyah, langsung ngajak nikah, yah memang itulah jodoh nay, baru lihat pertama entah sebab apa kamu merasa yakin sekali pada dia.
Senyum merona di pipinya terpancar, aku tahu pasti dia sedang membayangkan sesuatu.
Jadi walaupun kita tidak kenal siapa dia, tapi entah kenapa melihat pertamakalinya kita merasa yakin menyukai dia dan ingin menikah dengannya, itulah jodoh, gitu maksudmu.
Tanyaku masih belum puas.
Katanya si gitu, ya aku juga belum tahu. 
Jawabannya mulai terlihat ragu-ragu.
Tapi bukan itu yang pengen aku tahu, tadi kan aku tanya kamu pengen ketemu jodohmu dalam situasi yang gimana? Kalau aku pengen banget ketemu pas aku lagi di toko komik, atau pas aku lagi ikut seminar, talkshow gitu, setidaknya terlihat dari kepribadinnya dia suka komik, atau dia suka belajar dan mencari ilmu, pasti orang pinter.
Masih penuh semangat ia menjelaskan.
Aku?
Aku mulai merangkai inginku.
Aku ingin bertemu dengannya di tengah hujan, tidak terlalu deras, bukan juga gerimis, ya semacam hujan tapi yang sedang-sedang saja, anginnya tidak kencang, tidak banyak becek di jalan, hujan yang biasa saja, aku dengan penampilanku yang biasa saja, dia juga, sangat biasa saja, aku menunggu hujan berhenti, dia pun begitu, kami sama-sama tak membawa payung, dan hanya berteduh di depan toko. Lalu ketika melihat toko tempat kami berteduh rupanya kami sadar ternyata itu toko buku, lalu kami masuk ke dalamnya, kami sibuk melihat-lihat buku, sebab hobby kami sama suka buku, mengoleksi dan membacanya, dan pada satu titik kami bertemu pada satu rak yang sama, rak novel. Lalu mata kami bertemu, dia seorang yang biasa saja tapi entah kenapa terlihat sangat hebat, sebab dimataku orang yang suka membaca adalah orang yang hebat, kelopak matanya hitam, mungkin sebab ia sering membaca dan sedikit tidur, alisnya menaik seperti orang yang sedang menantang, mungkin menantang seberapa banyak bisa membaca, tatapannya tajam, sangat tajam, pertama kali mata kami bertemu di bola matanya tak ada satupun yang bisa kubaca, seorang yang susah ditebak, tapi rupanya ia amat ramah sebab ia memulai pembicaraan.
Lagi cari novel apa?
Suaranya, cukup jantan, seperti umumnya suara lelaki yang memiliki jakun, terdengar jantan dan betul-betul lelaki.
Aku yang memang dasarnya malu pada orang baru tentu saja hanya membalas dengan senyuman.
Saya juga suka novel, saya suka novel ini, bagus ceritanya. Bukan sekedar novel.
Ia melanjutkan bicara sambil memberiku satu buah buku yang menurutnya bagus.
Sifat dasar maluku mendadak hilang, sebab pembicaraan mulai spesifik, tentu saja karakterku bila sudah bertemu orang yang klop untuk membahas sesuatu tersebab samanya yang disuka, yang dibaca atau yang ditonton, aku menjadi lupa diri.
Ah ini, aku juga punya novel ini, tapi belum selesai kubaca, sebab butuh waktu panjang, harus sambil berpikir.
Jawabku bersemangat.
Novel berjudul dunia sophie menjadi awal pembicaraan.
Pembicaraan berlanjut, hujan masih saja belum berhenti, ia mulai bercerita mengenai novel apa saja yang ia baca, yang ia suka, genre apa, aku memang paling suka mendengarkan, dan aku jadi tahu satu hal, orang yang baru kukenal ini senang membagi ilmunya. Gantian aku yang bercerita novel apa yang kusuka, dan ternyata tak banyak yang berbeda soal genre apa yang kami baca, beberapa penulis buku pun sama-sama kami suka.
Yeah, aku ingin bertemu jodohku dengan situasi seperti itu.
Rupanya sejak tadi ia tertidur, aku yakin ia tak mendengar sedikitpun jawabanku, besok besok kalau ditanya lagi aku malas menjawab.
Dengkurnya terdengar keras, bertemu jodoh, aku jadi teringat akan seseorang, yang saat pertama kali melihatnya tanpa ragu, amat yakin aku merasa dialah, yah dialah. Tapi entahlah, itu memang baru katanya, qila wa qola kan tidak pernah pasti.


5 Juli 2014

Pakpayoon, Phathalung. 

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;