Rabu, 27 Februari 2013 0 komentar

Mother Nature


Suatu hari, dalam hutan yang gelap, yang hanya dihuni binatang buas, jejak manusia sudah tidak lagi nampak, pepohonan menjulang tinggi, akar-akarnya panjang dan kuat merambat tanah, untuk berlindung dan bermain petak umpat ide yang cukup bagus. Main petak umpet di hutan gelap, sudah pasti tersesat.
Tanpa disadari, tak ada yang mengetahui, ternyata di hutan gelap yang dihuni binatang buas, ada sebuah taman luas indah berbunga di hutan yang paling dalam, hampir sampai di ujung hutan. Taman luas berbunga itu indah sekali, keindahannya tak pernah dilihat oleh mata manusia, kupu-kupu terbang bebas hinggap di bunga mana saja, tanah coklat tertutup rumput dan lumut hijau, di tengah taman ada sungai kecil mengalir, airnya jernih berkilau, sayang sekali tak ada yang tahu keberadaan taman indah berbunga itu.
Suatu hari, si taman indah berbunga itu mengeluh sedih pada pepohonan hutan, ia merasa dunia ini tak adil, kenapa ia terlahir berada di dalam hutan, sehingga tak ada manusia yang tahu keberadaannya, ia sangat ingin manusia menikmati keindahannya dan memujinya.
Pepohonan hutan turut bersedih akan nasib yang menimpa taman indah berbunga, ia mencoba menghibur taman indah berbunga.
Taman indah berbunga, aku turut sedih dengan nasibmu, tapi sama sepertimu aku pun merasakan kesedihan yang sama, aku juga merasa dunia ini tak adil, aku ingin hidup bersama manusia, aku ingin manusia menjadikanku tempat berlindung dan bermain, sehingga aku tak lagi merasa terasingkan.
Tanpa mereka sadari, ternyata sepasang kelinci manis hutan mendengar percakapan keduanya. Sepasang kelinci hutan itu meneteskan airmatanya.
Teman, tidak hanya kalian saja yang merasa bersedih, sungguh aku pun ingin sekali melihat manusia, bukankah manusia makhluk Tuhan yang paling sempurna, aku rasa dia akan menjaga dan merawatku lebih baik lagi dan aku bisa bermain dengan teman-temanku yang lain.
Sepasang kelinci ikut berduka.
Pada saat taman indah berbunga, pepohonan hutan dan sepasang kelinci berduka bersama, tiba-tiba entah dari arah mana asalnya, karena mereka bertiga tidak mengenal arah tentunya, cahaya indah bermunculan, terang dan menghangatkan. Semakin tinggi, semakin tinggi, sampai tak terjangkau. Tapi sinar dan hangatnya tetap terasa sampai kulit mereka masing-masing.
Bukankah itu mentari pagi?
Sepasang kelinci manis itu menunjuk ke langit.  
Mentari pagi tersenyum hangat.
Iya, aku adalah mentari pagi, ada gerangan apa kalian menangis, bukankah kehadiranku bisa menghangatkan dan menghilangkan kesedihan?
Mentari pagi bertanya sambil menghibur.
Kami merasa dunia ini tak adil, aku, taman indah berbunga, temanku, pepohonan hutan dan sepasang kelinci sangat ingin hidup diluar sana, bertemu manusia, kami yakin hidup bersama mereka jauh lebih menyenangkan dibandingkan hanya tinggal di hutan gelap ini.
Taman indah berbunga bersemangat menjelaskan.
Mengapa kalian sangat ingin hidup bersama manusia?
Tanya mentari pagi penasaran.
Karena kami tahu, manusia adalah makhluk yang paling berbeda, mereka diciptakan sempurna memiliki perasaan dan akal, mereka belajar, mereka melakukan segala hal di dunia ini, dan mereka sangat menyayangi tumbuhan dan binatang, juga hal-hal yang indah.
Sahut pepohonan hutan ikut bersemangat.
Mentari pagi hanya diam tak menjawab.
Tiba-tiba keadaan mulai sedikit gelap, cahaya mentari mulai meredup, langit pagi sedikit kelabu.
Kenapa kau bersedih mentari?
Tanya taman indah berbunga.
Aku hanya bersedih melihat keinginan kalian yang begitu besar, aku takut kalian hanya akan kecewa saat sudah bertemu manusia.
Mengapa kami harus kecewa?
Tanya sepasang kelinci penasaran.
Mentari pagi mulai bercerita.
Suatu hari, di suatu daerah, ada hutan gelap dekat perkampungan, di dalamnya terdapat banyak pepohonan, ada banyak taman indah bersembunyi, banyak binatang hidup dan tinggal di hutan itu, tidak hanya yang buas bahkan yang jinak dan baik saja mereka hidup bahagia di hutan itu.
Mereka pun saat itu merasa sedih sama seperti kalian, sangat ingin bertemu manusia. Akhirnya mereka berdo’a pada Tuhan agar dipertemukan dengan manusia. Dan do’a itu dikabulkan Tuhan. Mereka bertemu manusia, ya manusia yang tinggal di dekat hutan itu tiba-tiba saja bergerombol masuk hutan, memandangi hutan lama, meneliti satu persatu keadaan hutan.
Saat itu makhluk yang hidup di hutan sangat bahagia bertemu manusia, mereka yakin manusia bisa menjaga hutan dengan baik. Mereka saling berbisik bahagia.
Tanpa diketahui oleh makhluk hutan, ternyata gerombolan manusia yang masuk hutan punya rencana lain terhadap hutan. Mereka berencana ingin membangun gedung untuk sebuah pabrik di daerah itu.
Maka pada hari yang sudah direncanakan, para manusia itu datang ke hutan membawa banyak peralatan yang tak dikenal, satu persatu mereka mulai menebang pohon, membakar hutan, membunuh satu persatu makhluk yang hidup di hutan, merusak taman indah yang tersembunyi di dalamnya. Bahkan dalam satu detik, kelinci-kelinci hutan mati di tempat.
Semua berduka, bersedih, langit berubah hitam, asap mengepul dimana-mana, semua makhluk hutan mati saat itu juga. Tidak, manusia tidak bersedih sama sekali, mereka sungguh tidak tahu betapa marahnya hutan saat itu, mereka hanya tertawa bahagia karena rencana pembangunan pabrik akan segera terwujud.
Itu baru hutan yang tersembunyi. Belum lagi pohon-pohon dan taman yang hidup di kota, mereka akan mati dalam hitungan detik, dan berubah menjadi bangunan megah dan gedung tinggi. Mall, tempat hiburan, hotel, taman bermain dan seabreg rencana manusia atas nama uang.
Kelinci, ah jangan kira mereka merawat kelinci di kota. Justru kelinci-kelinci kecil yang masih lucu dan manis itu mereka sembelih, mereka potong kecil-kecil daging kelinci, mereka jadikan sate. Ya, sate kelinci.
Karena itulah, aku sangat bersedih kalian ingin bertemu manusia. Seharusnya kalian bersyukur masih hidup dan berada jauh dari jangkauan mereka. Kalian bisa hidup tenang dan bahagia.
Mentari pagi mengakhir ceritanya.
Taman indah berbunga, pepohonan hutan dan sepasang kelinci manis berubah pikiran saat itu juga, tidak, mereka tak pernah ingin bertemu manusia, tak pernah ingin. Tapi mereka masih terus bertanya mengapa manusia sekejam itu? Kenapa mereka tak menyayangi makhluk Tuhan lainnya?
Mereka pada akhirnya bersyukur pada Tuhan.
Terimakasih untuk kami yang masih tumbuh dan hidup dengan baik...

*Ost Mother Nature Shaffix.

10.54
Persada, Bantul/Yogyakarta.
Mari kita Jaga alam ini, tumbuhan, binatang dan makhluk Allah lainnya.... J


Lirik lagu mother nature
 Bila hutan yang hijau telah gersang 
 Bila kicau burung hanya terkurung 
Bila bening sungai berganti kelam
 Bila nyanyian alam menjadi hilang
*)
Kemana kita harus pergi 
Dimana kita kan mencari
Reff:
Kerusakan di muka bumi karena tangan-tangan manusialah semata
Dan manusialah yang akan merasakan akibatnya
Let?s start to care and love mother nature

Bila mentari tertutup asap hitam 
Bila udara tak lagi menyegarkan 
Bila kehidupan tak pedulikan alam Bila semua hanyalah keegoisan
Back to *)

Apakah kesadaran kita baru terjaga
Ketika kekuatan alam telah menurunkan bencana
Segeralah berbenah di waktu yang tersisa ?

Back to Reff:
Lets start to care and love mother nature
Now let?s start to care and love mother nature
Senin, 25 Februari 2013 0 komentar

Derap Kaki Debu: Between Us

Derap Kaki Debu: Between Us: Kita pernah saling berkisah Membagi rasa penat yang ada Menguak sepi berbagi hati Memberi warna seindah pelangi (Lirik lagu) ...
1 komentar

Between Us


Kita pernah saling berkisah
Membagi rasa penat yang ada
Menguak sepi berbagi hati
Memberi warna seindah pelangi
(Lirik lagu)
Ini tentang kita. Tentang kau, aku dan cerita masa kecil kita hingga dewasa, berlari kecil mengitari sawah-sawah dan ladang tetangga, bermain layangan sampai putus, aku terjatuh di selokan dan kau tertawa tanpa dosa, aku menangis dan kau meminta maaf merasa bersalah, aku yang suka bernyanyi dan kau suka bermain gitar, aku yang sangat membenci matematika dan kau sangat menyukai sejarah, aku tahu sampai saat ini kau hanya seseorang yang mau berbicara saat orang lain mendahuluinya, dan aku akan berbicara tanpa harus ada orang yang mendahului.
Ya, ini tentang kita, tentang aku, kau dan kisah masa kecil kita hingga dewasa. Aku tak pernah lupa kau yang pemurah dan suka memberi apa saja yang kau punya, dan aku yang sangat keras kepala dilarang apapun tak mau menurut, kau yang tertarik dengan dunia imajiner dan aku yang tertarik dengan realitas kehidupan.
Sayang, ini tentang kita, tak bisakah kau ingat? Bahkan saat uban putih memenuhi kepalaku saat ini, sedikitpun aku tak lupa.

Aku seperti sebuah kata
Yang ingin mencintaimu
Dengan seluruh makna
Tak beralasan, tak usah kau ragukan
(Lirik lagu)
Bagiku, untuk mencintaimu sejak itu, sejak lari kecil kita di sawah, sejak pergi ke sekolah bersama, sejak kau selalu ada dalam hidupku, sejak kau selalu memperhatikan dan memperdulikanku, sejak setiap saat kita selalu bersama, sejak itu aku tak perlu lagi mencari alasan mengapa sampai saat ini aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Untuk mencintai, bagiku tak pernah butuh alasan
Maka jangan pernah bertanya mengapa aku mencintaimu tapi mengapa kau membuat aku jatuh cinta.

Aku ada untukmu
Kau pun ada untukku
(Lirik lagu)
Keberadaanmu menjadi penyempurna untuk semua hal dalam diriku, maka jangan pernah salahkan aku jika aku justru mulai belajar mencintaimu karena kekuranganmu, aku tak pernah meminta banyak hal, cukup kau ada disisiku dan menghabiskan hidup bersamaku, itu sudah cukup, itu sungguh cukup.

Menyempurnakan apa yang telah hilang
Menjadi sebuah melodi dan lagu
Yang mengalun merdu
Dibalik deras hujan
(Lirik lagu)
Sudah kukatakan aku tak minta apa-apa, cukup kau disisiku.
Entah mengapa itu terdengar sedikit berat di telingamu, aku bahkan tak bisa memahaminya, apa lagi yang kau ragukan atas apa yang sudah kita jalani selama 30 tahun hidup kita, apa lagi yang masih kau ragukan saat usia kita sampai pada akhir hidup yang sia-sia, apa yang masih kau ragukan.
Suatu saat kita akan memilikinya, rumah yang cukup untuk kita berdua dan anak-anak kita, kendaraan yang cukup untuk kita berdua dan anak-anak kita, halaman yang luas untuk bermain kita berdua dan anak-anak kita, kamar yang berisi kenangan dan sejarah hidup kita berdua, memasak masakan kesukaanmu dengan tangan lemahku, aku tak perduli, suatu saat kita akan memilikinya.

Jika kurindu kudengar ikrar
Yang berbisik dalam hati kita
Jagalah cinta kita, selamanya.
(Lirik lagu)
Maka hari itu, dimana kau telah mempertegas hatimu, saat janji kecilmu sampai pada harinya, saat keinginanku akan kau tunaikan, saat kata-kataku sudah menjadi keyakinanmu, aku masih akan menunggu. Maka jagalah cinta kita, jagalah ia hingga saat dimana tua tak lagi kita rasa, dan kau masih memiliki kekuatan untuk memelukku dan mencium keningku di hari itu.
Petra, ini tentang kita...


Lirik lagu Between Us
Kita pernah saling berkisah
Membagi rasa penat yang ada
Menguak sepi berbagi hati
Memberi warna seindah pelangi

Aku seperti sebuah kata
Yang ingin mencintaimu
Dengan seluruh makna
Tak beralasan, tak usah kau ragukan
Reff :
Aku ada untukmu
Kau pun ada untukku
Menyempurnakan apa yang telah hilang
Menjadi sebuah melodi dan lagu
Yang mengalun merdu
Dibalik deras hujan
Jika kurindu kudengar ikrar
Yang berbisik dalam hati kita
Jagalah cinta kita, selamanya.
Jumat, 21 Desember 2012 0 komentar

Mengingatmu



Mengingatmu,.. 
Seperti mengumpulkan kembali pecahan puzzle yang sempat terserak, seperti menjatuhkan kesunyianku dalam hening...
Mengingatmu,. 
seperti merasakan tusukan kaca yang tajam, seolah langit yang biru tiba-tiba berubah kelabu..
Mengingatmu,..
membuatku ingin menjadi pelupa
Lupa dengan wajahmu, dengan gestur tubuhmu, lupa dengan segala hal tentangmu, tentang kita dan tentang cerita imajinasi berdua
Mengingatmu,.. 



membuatku ingin menjadi wanita yang sudah bersuami
Karena dengan begitu, akan membuatku malu



18/12/2012
14.20



0 komentar

Pemikiran Hamka dan Ibnu Taimiyah Tentang Ulil Amri



a.    Pemikiran Ibnu Taimiyah
Dalam Islam apa yang kita sebut sebagai jabatan dan aktivitas politik termasuk dalam kategori amanat dan tugas publik (waliyat) seperti yang dipahami dalam syariat. Karena itu, seorang penguasa politik wajib menyampaikan amanat kepada pemberi amanat itu dan untuk menghukumi secara adil.Tujuan semua tugas publik (waliyat) adalah mewujudkan kesejahteraan material dan spiritual manusia. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa posisi kepemimpinan politik (sultan, mulk, amir) dan syariat saling melengkapi satu sama lain untuk membentuk sebuah pemerintahan yang berdasarkan syariat. Ibnu Taimiyah bersikukuh bahwa agama tidak dapat diamalkan tanpa kekuasaan politik.Tugas agama untuk memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran benar-benar tidak dapat dicapai kecuali kekuasaan dan otoritas pemimpin (imam). Pendapatnya yang terkenal adalah “Agama tanpa kekuasaan, jihad, dan harta, sama buruknya dengan kekuasaan, harta, dan perang tanpa agama.”
Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, tegaknya keadilan tidak mungkin dapat dicapai tanpa adanya kerjasama.Manusia berkumpul dan membentuk sebuah komunitas politik, kemudian menunjuk salah seorang sebagai pemimpin untuk mengorganisir untuk mewujudkan keadilan dan kebermanfaatan bersama.
Seorang pemimpin tidak menetapkan tujuan mereka sendiri, melainkan memiliki otoritas untuk bertindak dan dipatuhi, karena mereka tengah (atau semestinya) berusaha mewujudkan tujuan-tujuan Islam.
Doktrin pemimpin dalam Islam adalah tidak lain merupakan wali, wakil, dan agen otoritas, sama sekali bukan pemilik. Inilah maksud bahwa pemimpin adalah penggembala, yang tidak memiliki hewan gembalaannya; kedudukannya seperti wali bagi anak yatim.Di sini, citra raja absolut Timur Tengah dan Iran kuno benar-benar diIslamkan. Otoritas pemimpin, sesungguhnya berasal dari Tuhan; namun hal ini berarti bahwa kepentingan-kepentingan yang wajib ia upayakan sesungguhnya merupakan kepentingan-kepentingan rakyatnya.
Ibnu Taimiyah dengan tegas menyatakan bahwa kekuasaan kepala negara atau raja hanya merupakan mandat dari Tuhan yang diberikan kepada hamba-hamba pilihanNya. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah menganggap bahwa penguasa-penguasa yang korup adalah yang paling tidak bermoral dan karena itu tidak ada kewajiban untuk patuh pada mereka, dan ia juga menyalahkan para ulama dan cerdikcendikia yang mendukung penguasa-penguasa yang tidak mengindahkan agama dan melakukan penyelewengan dan membuat syari’at tidak mampu menjawab tuntutan kemanusiaan. Mereka telah dianggap mengingkari prinsip-prinsip syari’ah. Tapi di lain sisi Ibnu Taimiyah menemukan dilema ketika dihadapkan tentang ada dan tidak adanya pemimpin dalam sebuah negara. Menurut Ibn Taimiyah, sebagai faktor instrumental dalam mewujudkan kesejahteraan bersama, adanya seorang kepala negara merupakan sesuatu yang niscaya dan tidak terelakkan. Di sini prinsip gagasannya adalah bahwa kaum muslimin dalam hidup sosial perlu ada pemimpin dan diorientasikan pada stabilitas. Dari sumber lain pernyataan “Lebih baik 60 tahun diperintah oleh pemimpin yang dzalim dibandingkan hidup satu hari tanpa pemerintahan.”  adalah berasal dari pendapat Ibnu Taimiyah sendiri dalam buku As-Siyasah Asy-Syariah.
Dalam kitabnya Al furqan baina aulia ar rahman dan Risalah ila sulthan  Ibnu Taimiyah menafsirkan tentang surat annisa ayat 83 dan 59 sebagai berikut:
Allah telah mewajibkan untuk mentaati rasul  dan ulil amri dan juga mewajibkan bagi setiap umat apabila ada perselisihan maka hendaknya dikembalikan semua permasalahan tersebut pada alQur’an dan sunnah rasul . Barangsiapa mentaati rasul  maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat sedangkan siapa yang membangkang pada rasul  ia akan mendapatkan azab di dunia dan akherat.
Dalam bukunya Majmuatul fatawa, ia juga menjelaskan tentang makna ulil amri adalah orang-orang yang memiliki perintah atau sebagai pemerintah, yaitu orang-orang yang memerintah manusia. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan serta ahli ilmu pengetahuan dan kalam/tauhid. Karena itu ulil amri itu ada dua golongan : ulama (ahli ilmu) dan umara (penguasa). Jika mereka baik, maka manusia akan baik pula dan jika mereka rusak maka manusia akan menjadi rusak pula. Wajib bagi ulil amri untuk memerintahkan apa yang diperintahkan Allah dan melarang apa yang dilarangnya. Dan bagi rakyat wajib mentaati ulil amri dalam rangka mentaati Allah dan tidak mentaatinya dalam hal bermaksiat kepada Allah.

b.    Pemikiran Hamka dalam Tafsir al Azhar
Dalam Surat Annisa Ayat 59 Hamka menjelaskan, ada tiga pokok pembangunan kekuasaan dalam Islam, Pertama, Dalam ayat itu menjelaskan perintah taat pada Allah sebagai pemegang kendali dan penguasa tertinggi dan perintah ini ditujukan pada kaum/umat yang beriman, setelah itu kemudian orang beriman diperintahkan pula taat pada rasul . Sebab taat kepada rasul  adalah lanjutan dari taat kepada Allah.Banyak perintah Allah yang wajib ditaati, tetapi tidak dapat dijalankan kalau tidak melihat contoh teladan.Maka contoh teladan itu hanya ada pada rasul  dan dengan taat pada rasul  barulah sempurna beragama.
Kemudian diikuti oleh perintah taat pada Ulil amri-minkum, orang-orang yang menguasai pekerjaan, tegasnya orang-orang berkuasa di antara kamu atau daripada kamu.Minkum mempunyai dua arti :
a.       Di antara kamu,
b.      Daripada kamu.
Maksudnya yaitu mereka yang berkuasa itu adalah daripada kamu juga, naik atau terpilih atau kamu akui kekuasaannya sebagai satu kenyataan.
Ulil amri yang waib ditaati adalah pemimpin yang melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin dengan menjalankan semua perintah yang terdapat dalam al Qur’an dan sunnah rasul . Dan pemimpin yang menjalankan amanatnya dengan baik dan benar.Sedangkan pemimpin yang zalim dan tidak melaksanakan amanat sesuai ketentuan al Qur’an dan sunnah maka tidak ada kewajiban untuk mentaatinya.
Sedangkan dalam Surat Annisa ayat 83 Hamka menjelaskan, bahwa makna ulil amri dalam konteks ayat ini adalah sahabat-sahabat Nabi yang utama yang berada di sekeliling beliu. Karena asbabun nuzul ayat ini mengenai orang-orang munafik yang suka menyebarkan isu-isu yang tidak benar di sekeliling mereka dan itu membuat khawatir orang-orang beriman saat itu maka Allah memerintahkan dalam ayat tersebut seandainya ada berita atau khabar yang menimbulkan kecemasan hendaklah segera dikembalikan atau dirujuk kepada rasul  dan para sahabatnya agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara kaum muslimin saat itu.

c.    Kesimpulan
Dengan menganalisa pemikiran kedua tokoh dalam hal ini adalah Hamka dan Ibnu Taimiyah kita telah menemukan seperti apa konsep ulil amri dan dapat menggarisbawahi beberapa poin penting tentang konsep ulil amri menurut pemikiran mereka masing-masing.
Penafsiran ulil amri menurut Ibnu Taimiyah dan Hamka berbeda dengan ulil amri pada masa sekarang ini, menurut mereka ulil amri yang wajib ditaati dan dipatuhi serta diteladani adalah pemimpin yang memiliki kapabilitas dan faqih dalam ilmu agama, ia dapat melaksanakan amanah dengan baik sesuai dengan syari’at allah dan rosulnya. Pemimpin seperti itulah yang wajib dipatuhi dan akan berdosa jika melanggar perintah dan tidak menaatatinya.
Sedangkan pemimpin pada masa sekarang, jika dia mampu memilki semua kriteria yang layak bagi seorang pemimpin maka ia pun wajib ditaati aturannya, akan tetapi jika dia adalah seseorang yang lalai dan gemar bermaksiat dan telah mendzolimi rakyatnya maka rakyatnya hanya diberikan kewajiban untuk mentaatinya sebatas hal-hal yang tidak melawan perintah Allah dan Rasul, jika perintah itu berlawanan dengan perintah Allah dan Rasul (Baca: korupsi, suap dan lain-lain) maka rakyat tidak ada kewajiban untuk mematuhi perintahnya dan pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang ia lakukan pada rakyatnya.
Adapun persamaan dan perbedaan kedua tokoh tentang konsep ini :
a.    Persamaan pemikiran
Dengan menganalisa sosio historis kedua tokoh maka akan kita temukan latar belakang yang hampir tidak jauh berbeda, karena kedua tokoh tersebut mengalami pergolakan politik yang memojokkan keduanya pada ranah yang tertindas, sehingga kedua tokoh harus mengalami kehidupan di penjara dengan berbagai siksaan fisik dan mental yang mempengaruhi setiap karya yang mereka konsepsikan, terutama Hamka yang merampungkan Tafsir al Azhar sepanjang di penjara, maka ada banyak persamaan antara kedua tokoh mengenai konsep ulil amri yang dapat kita terapkan pada masa sekarang ini:
1). Bahwa ulil amri dalam konteks surat annisa ayat 83 dan 59 adalah pemimpin yang memiliki kapabilitas yang sama dengan para sahabat, yang mentaati dan melaksanakan amanat kepemimpinannya berdasarkan pada al Quran dan hadis.
2). Pemimpin adalah seorang alim ulama yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan amanat rakyat dengan baik, jika pemimpin tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul, dan tidak melaksanakan amanahnya dengan baik maka tidak layak untuk ditaati dan dipatuhi.

b.    Perbedaan pemikiran
Berdasarkan sosio historis kedua tokoh, meskipun keadaan geografis dan Negara yang berbeda dari kedua tokoh tersebut, akan tetapi pemahaman keduanya pada al Qur’an dan Hadis tidak begitu berbeda. Untuk itu, keduanya sama-sama mendefinisikan bahwa pemimpin yang layak untuk dipatuhi, ditaati adalah pemimpin yang alim, yang taat beragama, yang melaksanakan amanah dengan baik. Sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim[1]
روى الشيخان عن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنه ستكون بعدي أثرة و أمور تنكرونها قالوا يا رسول الله كيف تأمر من أدرك منا ذلك قال تؤدون الحق الذي عليكم و تسألون الله الذي لكم
Bukhari muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata : Rasulullah Saw bersabda : sungguh kelak sepeninggalku akan ada perilaku monopoli (ulil amri) dan bentuk-bentuk pelanggaran yang kalian pasti tidak menyetujuinya, para sahabat bertanya “ Wahai Rasulullah lantas apa yang engkau perintahkan kepada seseorang dari kami yang menemui masa seperti itu?” beliu menjawab : “Hendaklah kalian menunaikan apa yang menjadi kewajiban kalian kepadanya dan kalian memohon kepada allah apa yang menjadi hak kalian.
Bahwa suatu saat akan datang pada kita pemimpin-pemimpin yang rusak, jika pemimpin itu berbuat kejahatan maka patuhi saja perintahnya yang tidak bertentangan dengan syari’at, sedangkan jika itu bertentangan maka tidak perlu ditaati, dan dia bertanggungjawab dengan kejahatan yang ia perbuat sendiri dan kita sebagai rakyat yang dipimpin tidak akan menanggung kesalahannya.[2]
Akan tetapi ada perbedaan yang cukup signifikan dan menonjol dalam diri kedua tokoh yang mempengaruhi pemikirannya, bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat seandainya tidak ada lagi pemimpin yang muslim yang taat dalam negara itu maka tidak mengapa jika orang non muslim menjadi pemimpin negara, tapi harus memiliki kemampuan memimpin dengan baik, baginya lebih baik hidup 1000 tahun dipimpin oleh pemimpin yang dzalim daripada tidak ada pemimpin sama sekali. Sedangkan Hamka tetap mendahulukan pemimpin muslim yang harus memimpin negara.

Sumber Rujukan :
Hamka, Tafsir al Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panjimas, Juz V,  Pebruari 1987.
Hamka, Hubungan antara agama dan negara menurut islam, Jakarta : Pustaka Panjimas, 1970.
Jeje, Abdul Rajak, Politik kenegaraan : pemikiran-pemikiran al Ghozali dan Ibnu Taimiyah, Surabaya : PT.Bina Ilmu, 1996.
Nawawi, Imam, Ringkasan Riyadush Shalihin, Bandung : Irsyad Baitu Salam, November 2006.
Taimiyah, Ibnu, Majmuatul Fatawa, Jakarta :PustakaDarulHaq, 2005.
Taimiyah, Ibnu, Siyasah Syar’iyah : “Etika politik islam”, Surabaya: Risalah gusti, 2005.
Taimiyah, Ibnu, Al furqan baina aulia ar rahman, Risalah ila sulthan, juz I hal 264.
Taimiyah, Ibnu, Tugas Negara menurut islam, Yogyakarta, PustakaPelajar, cetakan I Januari 2004.





[1] Nawawi, Imam, Ringkasan Riyadush Shalihin, Hal 302 Bandung : Irsyad Baitu Salam, November 2006.
[2] Nawawi, Imam, Ringkasan Riyadush Shalihin, Hal 304 Bandung : Irsyad Baitu Salam, November 2006.

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;