Kamis, 11 April 2013 1 komentar

Tafsir Manusia dalam al Qur’an



I.         Pendahuluan
Dalam bukunya Man The Unknown, Dr. A.Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia[1].
Dia mengatakan bahwa pengetahuan tentang manusia secara khusus belum mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu lainnya.
Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya disebabkan oleh :
1.    Pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia.
Demikian pula halnya pada zaman kebangkitan (Renaisance) para ahli lebih banyak disibukkan oleh penemuan-penemuan baru yang menguntungkan secara material dan juga mempermudah kehidupan.
2.    Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal manusia seperti dinyatakan oleh bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
3.    Multikompleksnya masalah manusia

Jika apa yang dikemukakan Carrel itu benar, maka satu-satunya jalan untuk mengenal baik hakikat manusia adalah merujuk kepada wahyu Ilahi, karena satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi adalah manusia.
Untuk mengetahui maksud tersebut tidak cukup hanya bergantung pada satu ayat atau dua ayat, tapi seluruh isi al Qur’an yang isinya berkaitan dan menyinggung tentang manusia maka bisa dijadikan rujukan untuk memahaminya secara keseluruhan.

II.      Pembahasan
1.    Istilah manusia dalam al Qur’an
Ada 3 kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjuk kepada manusia[2] :
a.    Menggunakan kata yang terdiri dari huruf Alif, Nun, dan Sin, semacam Insan, Ins, Nas dan Unas.
b.    Menggunakan kata Basyar
c.    Menggunakan kata Bani Adam, dan Zuriyat Adam.

2.    Tafsir Manusia menurut Tafsir Indonesia
Kata insan  dijumpai dalam al-Quran sebanyak 65 kali. Penekanan kata  insan  ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan memikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal, dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi (Aflatun Mukhtar, 2001:107)[3].  
Kemudian kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak.
Dalam al Qur’an kata insan seringkali dihadapkan dengan kata jin/jan. Jin adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata dan tampak.
Dengan demikian, kata insan, digunakan al Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia berbeda dengan makhluk lain dalam hal fisik, mental dan kecerdasan.
Perhatikan surat At Tin ayat 4 :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kata nas merupakan bentuk jamak dari kata  insan yang tentau saja memiliki makna yang sama. Al-Quran menyebutkan kata nas  sebanyak 240 kali.
Penyebutan manusia dengan  nas lebih menonjolkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dan bersama-sama manusia lainnya.
Al-Quran menginformasikan bahwa penciptaan manusia menjadi berbagai suku dan bangsa bertujuan untuk bergaul dan berhubungan antar sesamanya (ta’aruf ) (QS. al-hujurat [49]: 13), saling membantu dalam melaksanakan kebajikan (QS. al-Maidah [5]: 2), saling menasihati agar selalu dalam kebenaran dan kesabaran (QS. al-‘Ashr [103]:  3), dan menanamkan kesadaran bahwa kebahagiaan manusia hanya mungkin terwujud bila mereka mampu membina hubungan antar sesamanya (QS. Ali Imran [3]: 112).
Kata  insan  dan  nas  inilah yang paling banyak digunakan oleh al-Quran dalam menyebut manusia (Quraish Shihab, 1996: 280). Di antara ayat al-Quran yang menyebut manusia dengan kata insan adalah QS. al-‘Alaq (96): 2 dan 5
 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah  ... Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”  (QS. al-‘Alaq [96]: 2 dan 5).
Sedang penyebutan kata nas dalam al-Quran misalnya QS. al-Hujurat (49): 13
  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu  berbangsa - bangsa danbersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah ora ng yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Kata  basyar  secara etimologis berasal dari kata ( ba’, syin,  dan  ra’) yang berarti sesuatu yang tampak baik dan indah,  bergembira, menggembirakan, menguliti/mengupas (buah), atau memperhatikan dan mengurus suatu. Kata basyar juga diambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir pula kata basyarah yang berarti kulit[4].
Menurut al-Raghib al-Ashfahani, manusia disebut basyar  karena manusia memiliki kulit yang permukaannya ditumbuhi rambut dan berbeda dengan kulit hewan yang ditumbuhi bulu. Kata ini dalam al-Quran  digunakan dalam maknayang khusus untuk menggambarkan sosok tubuh lahiriah manusia (Aflatun Mukhtar, 2001: 104-105)[5]. Sedang menurut Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya kata بشر diartikan sebagai ظهور السئ مع حسن وجمال  yang berarti tampaknya sesuatu dengan baik dan indah[6].
Kata  basyar  digunakan al-Quran untuk menyebut manusia dari sudut lahiriah serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Kata basyar  juga selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah, yang selanjutnya dari sperma dan berkembang menjadi manusia utuh (QS. al-Mu’minun [23]: 12-14), manusia makan dan minum (QS. al-Mu’minun [23]: 33; QS. al-Furqan [25]: 20), dan seterusnya. Karena itulah Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk menyampaikan bahwa beliau sama  seperti manusia lainnya. Yang membedakannya hanyalah beliau diberi wahyu (QS. al-Kahfi [18): 110). Kata  basyar  ini disebutkan al-Quran sebanyak 36 kali (Quraish Shihab, 1996:279). Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Kahfi:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".  (QS. al-Kahfi [18]: 110).  
Dari sisi lain, banyak ayat-ayat al Qur’an yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tingkat kedewasaan.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.(Ar Rum:20)
Bertebaran disini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rizqi. Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu Maryam merasa heran karena bisa memperoleh anak padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks) (QS Ali Imran :47). Kata Basyiruhunna yang digunakan oleh al Qur’an sebanyak dua kali (Al Baqarah:187) juga diartikan hubungan seks.
Demikian terlihat basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar (Perhatikan Surat Al Hijr :28 menggunakan kata basyar dan Al Baqarah :30 menggunakan kata khalifah) yang keduanya mengandung pemberitaan Allah kepada malaikat tentang manusia.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Adapun kata banu  atau bani Adam  atau dzurriyatu Adam maksudnya adalah anak cucu atau keturunan Adam. Kedua istilah itu digunakan untuk menyebut manusia karena dikaitkan dengan kata Adam, yakni sebagai bapak manusia atau manusia pertama yang diciptakan  Allah dan mendapatkan penghormatan dari makhluk lainnya selain iblis (QS. al-Baqarah [2]: 34).
Kata bani adam dalam al Qur’an hanya diulang 7 kali, salah satunya dalam surat al A’raf : 27 dan Yasin: 60 dimana menunjukkan bahwa manusia itu perlu diingatkan dari musuh yang terkadang tidak terlihat dan tidak disadari (Syetan). Peringatan ini berkaitan dengan kejadian adam sebagai manusia pertama.
Eksistensi manusia ternyata tidak luput dari historisitas keberadaan adam di bumi, sehingga penggunaan kata bani adam untuk manusia menunjukkan keterkaitan antara manusia dengan adam.
Secara umum kedua istilah ini menunjukkan arti keturunan yang berasal dari Adam, atau dengan kata lain bahwa secara historis asal usul manusia adalah satu, yakni dari Nabi Adam (Aflatun Mukhtar, 2001: 109). Namun dzurriyat adam, hanya ada dalam surat Maryam : 58 dimana dalam ayat ini menunjukkan penggunaan kata dzurriyat adam untuk manusia sudah mulai dikhususkan, yaitu untuk para Nabi. Jadi dzurriyat adam berarti adalah para Nabi setelah Adam
Dengan demikian, kata bani Adam dan dzurriyatu Adam digunakan untuk menyebut manusia dalam konteks historis. Secara historis semua manusia di dunia ini sama, yakni keturunan Adam yang lahir melalui proses secara biologis (QS. al-Sajdah [32]: 8). Kata  bani Adam  disebutkan al-Quran sebanyak 7 kali, di antaranya dalam surat al-A’raf (7): 26, 27, 31, dan 35. Dalam QS. al-A’raf (7): 31.  

III.   Penutup
Demikian konsep manusia dalam al Qur’an sejauh dari pembacaan dan pencariaan yang sudah kami lakukan. Kesimpulannya, bahwa istilah manusia dalam al Qur’an terdapat banyak. Diantaranya, insan, basyar, bani adam dan dzurriyat adam.
Persamaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an sama-sama ditempatkan ketika menunjukkan proses awal kejadian manusia, sama-sama menunjukkan arti manusia secara fisik, Perbedaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an pada umumnya kata al-basyar digunakan untuk sifat-sifat positif, sebaliknya al-insan sering digunakan untuk sifat negatif.
Sedangkan kata bani adam dan dzurriyat adam menunjukkan keterkaitan historisitas keberadaan manusia dengan manusia pertama (Nabi Adam).
Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita bersama, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Wallahu A’lam bi Showab






Daftar Pustaka

Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusia dan agama.

M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an, Bandung : Penerbit Mizan, Cetakan VII,  April 1998.



[1]  M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an, Bandung : Penerbit Mizan, Cetakan VII, Hal 277, April 1998.
[2] M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an..... hal 278.

[3] Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusia dan agama, hal 13.
[4] M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an..... hal 279
[5] Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusi.... hal 115.
0 komentar

Langit kita beda, bagaimana dengan hati kita ??



Hei, disini hujan deras loh, disana gimana? Kau sedang apa, seperti biasa saat hujan deras begini, aku mendekati jendela, melepas uap disana, lalu menuliskan nama kita, namamu, namaku dan melingkari nama kita.

Disini teramat panas, polusi udara, bulir keringat memenuhi dahiku, untung saja jilbab biru hadiah darimu menutupinya. 

Hei hei, hari ini gerimis, aku berharap deras, tapi kupikir gerimis sudah cukup mewakili kerinduanku. Kau sedang apa, lagi-lagi kutadangkan tanganku ke langit, kupejamkan mataku, saat itu aku merasa kau sedang berada disisiku, kita menadangkan tangan pada langit yang sama.
Namun saat mataku terbuka, aku sadar tidak ada siapa-siapa, tidak ada dirimu disisiku. 

Kapan ya hujan, dari kemarin cuaca panas terus. Siang malam tidak bisa tidur, jalanan selalu ramai, bising dan tak bersahabat. 

Hei, langit kita ternyata berbeda, kita terpisah atap biru dan putih, meski arak awan terus berjalan tapi tetap saja, kau dengan jarak berkilo-kilo dari inderaku dan aku jauh lebih dekat dari pikiranmu. Itu karena kau terlalu sering memikirkanku hingga aku merasa teramat dekat meski berbeda langit.
Bagaimana caranya ya supaya langit kita sama? 

Aku belum menemukan teori terbaru ni, apa kau ada masukan, jika langit kita sama, maka aku tak perlu menuliskan nama kita sendirian di kaca, aku tak perlu menadangkan tangan menunggu tetes gerimis sendirian di taman, karena kau pun melakukannya. 

Bagaimana caranya ya supaya langit kita sama ?

Aku ada masukan, kita hanya perlu membuat atap baru, yang tidak lagi berwarna biru dan putih saja. 

Lalu, atap seperti apa?

Em, sebentar kupikirkan, sepertinya genteng rumah lebih tepat

Hah? Haha... maksudmu?

Iya iya aku tahu, atap rumah. 

Ah, kau ini bisa saja, kita mau satu rumah, bagaimana bisa ?

Kenapa? Apa ada masalah ?

Kita bahkan tidak tahu, apakah hati kita sama atau tidak.


12 April 2013
10.27
Rabu, 27 Februari 2013 0 komentar

Negeri Buah dan Sayur (Dongeng Mentimun)


Suatu hari di sebuah negeri subur nan makmur, antah barantah, negeri yang terkenal dengan buah-buahan, hiduplah sebuah keluarga sederhana tapi bahagia, dalam keluarga yang bahagia itu ada seorang ayah bernama pak mentimun, istrinya bu mentimun.

Mereka memiliki 5 orang anak, dan kelima anaknya adalah perempuan. Anak pertama bernama putri melon, yang kedua putri anggur, yang ketiga putri semangka, anak keempat putri pisang dan anak terakhir putri stroberi.
Putri melon, sebagai anak tertua, dia lebih bersikap dewasa dibanding keempat adiknya, lebih bijaksana, lebih perhatian dan paling pintar memasak. Tapi ada satu kebiasaan buruk yang tak bisa ia tinggalkan, putri melon sering tidur pagi dan paling malas mengambil air di sungai.

Yang kedua, putri anggur. Sosok putri yang satu ini banyak mewarisi sifat ayahnya, pak mentimun. Suka bekerja, tidak suka mengeluh, dan tidak suka banyak bicara. Apa yang bisa ia kerjakan maka ia kerjakan dengan cepat, setelah itu ia akan membantu saudara yang lainnya yang membutuhkan bantuannya.

Putri semangka, putri yang satu ini lain dari pada yang lain. Entah mewarisi sifat dari siapa, putri semangka lebih banyak memiliki sifat buruk dalam dirinya. Dia suka menjahili saudaranya yang lain, malas bekerja, suka iri terhadap apapun yang dimiliki saudara yang lain, terutama iri pada adik bungsunya, putri stroberi.

Putri pisang. Ini dia putri yang mewarisi sifat dari ibunya. Lemah lembut, penyayang pada adik dan kakaknya. Ia juga bisa lebih dewasa tentunya setelah putri melon. Ia sangat bersahaja dan sederhana, seperti bu mentimun.
Anak terakhir, anak yang paling disayangi oleh pak mentimun dan bu mentimun. Anak yang cerdas dan baik. Suka menolong siapa saja yang meminta pertolongannya. Kenapa ia paling disayang? Ya, karena ia berbeda dari keempat saudaranya. Jika semua saudaranya tidak kurang satupun anggota tubuhnya, justru putri stroberi, anak bungsu ini, dia tidak bisa melihat. Sejak kecil ia sudah buta. Karena itulah, orangtuanya lebih menyayanginya. Dan karena itu pula, putri semangka sering iri padanya.

Di negeri buah-buahan ini, tak ada satupun buah yang tidak ada. Seluruh buah di dunia ada di negeri ini, entah karena apa pada suatu hari negeri ini menjadi subur dan dipenuhi buah-buahan. Orang-orang yang hidup di negeri ini tak pernah kekurangan. Jika mereka kelaparan mereka akan memetik buah, toh buah apapun ada disekitar rumah mereka, tanpa perlu membeli mereka bisa dengan senang makan jenis buah apapun sampai kenyang.

Ada banyak orang dari penjuru dunia mengunjungi negeri ini, tapi buah yang ada tak pernah ada habisnya. Setiap rumah di negeri ini minimal memiliki 100 macam jenis buah di sekitar rumahnya.
Betapa bahagianya penduduk negeri ini, termasuk keluarga pak mentimun. Mereka tinggal di atas bukit, yang tumbuh buah lebih banyak dari penduduk yang lain.
Setiap hari, kegiatan mereka selalu berubah-ubah. Terkadang hari ini mereka bermain di sungai dan mengambil air untuk minum. Hari berikutnya mereka mengambil buah dan siapa yang yang bisa mengumpulkan paling banyak akan diberi hadiah oleh pak mentimun. Hari berikutnya lagi, buah yang sudah mereka petik itu mereka makan bersama. Hari berikutnya lagi mereka akan bermain di atas pohon buah dan bercerita sampai habis cerita di kepala mereka. Hari berikutnya lagi mereka belajar bersama, tentunya dibimbing oleh pak mentimun dan bu mentimun. Dan hari berikutnya lagi mereka biasa lomba memasak, dan putri melon selalu menang dalam lomba ini.
Putri stroberi, meskipun tidak bisa melihat, ia selalu dibantu saudaranya untuk melakukan banyak hal. Dan karena sudah sering ia lakukan, dengan sendirinya ia mulai terbiasa dan tidak lagi meminta bantuan saudara-saudaranya.

Suatu hari, pada saat keluarga pak mentimun sedang merasakan bahagia yang tiada duanya. Entah dari negeri mana asalnya, seorang nenek datang mengunjungi negeri buah itu, nenek yang tak dikenal asalnya itu oleh penduduk disebut nenek sayur. Menurut cerita, nenek itu memasang topi sayur di kepalanya. Tidak hanya satu sayuran, tapi ada banyak. Ada sayur kangkung, bayam, brokoli, kol, dan juga mentimun. Nenek itu akan mampir di rumah siapa saja yang ia temui, ia akan bercerita bahwa di negerinya juga ada banyak sayur-sayuran dan negerinya terkenal dengan negeri sayur. Tidak berbeda dari negeri buah ini, negeri sayur juga ada banyak orang dari penjuru dunia yang datang dan memetik sayur untuk mereka bawa ke negeri mereka masing-masing.
Cerita punya cerita, ternyata tujuan si nenek ke negeri buah adalah ia ingin menemui keluarga pak mentimun. Tidak ada yang tahu kenapa si nenek ingin sekali bertemu dengan pak mentimun. Ada yang mengatakan bahwa si nenek adalah keluarga jauh pak mentimun. Ada juga yang mengatakan si nenek itu punya niat jahat pada keluarga pak mentimun. Entah sebab mana yang benar, akhirnya suatu hari si nenek berjalan menaiki bukit dan sampailah ia di rumah pak mentimun.
Pada saat itu, pak mentimun dan bu mentimun sedang tidak ada di rumah. Seperti biasa pada pagi hari, pak mentimun dan istrinya akan pergi keluar rumah dan pulang pada siang harinya.
Si nenek mengetuk pintu rumah.

Tok tok tok, ada orang di rumah?
Suara nenek kepayahan.

Di dalam rumah, kelima anak pak mentimun sedang melakukan aktivitasnya hari itu, memakan buah yang sudah mereka ambil di hari sebelumnya.
Ketukan pintu belum terdengar sekalipun di telinga mereka.
Nenek itu mengetuk lagi
Tok tok tok,
Permisi, ada orang di rumah?
Putri stroberi, anak bungsu yang tidak bisa melihat itu tiba-tiba diam membungkam mulut. Ia mendengar ada ketukan pintu dari arah depan rumahnya. Ia meminta saudara-saudaranya untuk diam sejenak.
Kak putri melon, anggur, semangka dan pisang, aku mendengar ada seseorang mengetuk pintu rumah kita.
Keempat saudaranya terdiam.
Iya benar, aku juga mendengar suara pintu diketuk
Putri pisang menyahut.
Tunggu sebentar, biar kak putri melon membuka pintu, siapa tahu ada tetangga butuh pertolongan.
Putri melon menuju pintu.
Sampai di depan pintu, putri melon membuka pintu rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia melihat seorang nenek duduk bersandar di dinding rumahnya. Wajahnya kusam penuh keringat, keriput tubuhnya begitu tampak, dan ada satu hal menarik darinya, topi dari sayur-sayuran menempel tepat di atas kepalanya.
Nenek siapa?
Putri melon bertanya takut.
Saya mencari mentimun, ada tidak di rumah?
Nenek itu menjawab dengan ketus.
Bapak saya dan ibu sedang tidak di rumah, biasanya mereka kembali saat matahari di atas kepala, kalau nenek ada perlu sampaikan saja pesannya pada saya, saya anak tertua dari pak mentimun.
Putri melon menjawab.
Tidak, saya akan menunggu mereka datang.
Nenek itu menjawab tetap dengan ketus.
Ya sudah kalau begitu nenek silahkan masuk dan tunggu di dalam saja
Putri melon menawarkan.
Tidak perlu, saya akan tunggu disini saja.
Jawab nenek.
Ya sudah, terserah deh kalau gitu, ditawarin baik malah nolak.
Putri melon menggerutu dalam hati.
Akhirnya ia masuk kembali ke rumahnya dan menutup pintu.
Sampai di depan saudara-saudaranya, putri melon masih bersikap heran.
Kenapa kak, siapa memang diluar?
Putri semangka bertanya penasaran.
Tidak apa-apa, hanya tetangga yang ingin bertemu bapak. Biarkan saja.
Jawab putri melon dengan santai.
Padahal dalam hatinya dipenuhi pertanyaan yang masih membuatnya heran.
Mereka kembali memakan buah bersama.

Saat matahari tepat di atas kepala, datanglah pak mentimun dan istrinya.
Pada saat mereka sampai di depan rumah, mereka terkejut bukan main, ada seorang nenek tak dikenal duduk di depan pintu rumah mereka.
Sama seperti keanehan anaknya putri melon, saat melihat nenek, pak mentimun dan istrinya pun merasa aneh melihat penampilan si nenek.
Nenek siapa dan kenapa ada di rumah saya?
Pak mentimun bertanya.
Oh, jadi kamu yang bernama mentimun saya sudah mencari kamu kemana-mana ternyata ini toh orangnya.
Si nenek menjawab.
Ada keperluan apa nenek mencari saya
Jawab pak mentimun penasaran
Saya ingin menuntut kamu atas perbuatan kamu yang tidak berpendidikan
Jelas si nenek.
Apa salah saya pada nenek?
Pak mentimun bertambah heran,
Kamu, kenapa namamu mentimun?
Si nenek bertanya.
Nama saya, ya karena bapak saya menamai saya mentimun
Jawab pak mentimun.
Seharusnya kamu tahu sedang berada dimana
Si Nenek terus bertanya
Saya ada di rumah saya, di negeri buah.
Jawab pak mentimun.
Apakah mentimun itu termasuk buah?
Si nenek bertanya.
Pak mentimun bingung bukan main, entahlah dia sendiri tidak tahu apakah mentimun itu buah atau bukan tapi, setahu dia mentimun itu ya buah.
Si nenek terus bertanya.
Mentimun itu buah atau sayur?
Pak mentimun diam seribu bahasa.
Iya mulai ingat kata-kata terakhir bapaknya saat meninggal,
Kau harus tahu nak, kau adalah sayur bukan buah.
Itulah kata-kata terakhir bapaknya.
Mentimun adalah jenis sayuran, dia seharusnya tidak ada disini, dia hanya ada di negeri saya negeri sayur
Si nenek menjelaskan,
Kenapa nenek tahu kalau saya sayur bukan buah?
Tanya pak mentimun penasaran
Karena..
Karena apa nek?
Pak mentimun semakin penasaran,
Karena saya, suara si nenek mulai menurun. Wajahnya di hadapkan ke tanah, airmatanya perlahan menetes,
Karena saya adalah ibu kandungmu nak.
Jawab si nenek sedih.
Dulu, saya meninggalkan kau dan bapakmu untuk berkelana, saya mencari cara agar negeri kita subur dan banyak sayuran. Sampai akhirnya saya sadar sudah meninggalkan keluarga saya, maafkan ibu nak.

Pak mentimun menangis dan memeluk nenek sayur dengan bahagia.
Akhirnya, keluarga sayur dan buah bahagia selamanya...

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;