Sabtu, 09 Juni 2012 0 komentar

Ringkasan singkat seminar nasional


Seminar Nasional
Songsong Konggres Keluarga Indonesia II
“MEMBANGUN KELUARGA BERKARAKTER UTAMA UNTUK MEMPERKOKOH BANGSA”
(Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah kerjasama dengan BkkbN)
Diawali dengan kata pengantar Ketua umum PP Aisyiyah Dra.Siti Noordjannah djohantini, MM.M.Si. Kemudian dilanjutkan pada Sesi I dengan pemateri Dr.Haedar Nashir.M,Si. Pada awal pembahasannya beliu menyinggung masalah korupsi, korupsi adalah masalah paling besar bangsa kita, korupsi bukan penyakit sistem tapi penyakit mental. Seseorang melakukan korupsi bukan karena ia kekurangan tapi justru karena ia merasa berlebihan, faktanya, para koruptor kelas mega itu adalah orang-orang kaya yang berkecukupan dengan gaji paling kecil 60-70 juta, dan itu belum termasuk tambahan uang pertahun, dana penyerapan aspirasi, dana insensif, uang kunjungan dan tour yang bervariasi, maka itu bukan sebuah kekurangan tapi justru kelebihan, maka itulah yang disebut dalam islam dengan tamak. Dalam ilmu ekonomi, Manusia makhluk yang tidak pernah merasa puas, selalu ingin lebih ketika ia sudah merasa cukup. Dan akar rumput dari sifat tamak adalah terdapat pada mentalitas. Menurut para ahli, penyakit orang indonesia adalah suka meremehkan pekerjaan, suka menerabas, dalam hal ini pak haedar mengambil contoh pembelian tiket pada calo karena tidak mau mengantri,  tidak percaya pada diri sendiri, saking tidak percayanya malah bangga dengan oranglain, bangga dengan buatan dan produk negara lain, dan tidak percaya diri dengan hasil dari negara sendiri, tidak berdisplin murni, kebanyakan orang indonesia akan disiplin jika ada atasan, kalau atasan tidak ada, maka ia tidak akan disiplin, maka inilah salah satu penyakitnya, mokhtar lubis, lebih keras lagi mengatakan bahwa orang indonesia itu munafik, dalam hati berkata iya padahal ketika bicara bilang tidak, orang indonesia juga percaya pada takhayul, bersifat feodal, cenderung artistik, sampai-sampai manusia seperti lady gaga pun diterima dan dibela mati-matian, dan terakhir, orang indonesia suka bercerita masa lalunya.
Kelemahan mentalitas tersebut sangat bergantung dari jumlah asupan rohani pada jiwa, dan seberapa kuat pendidikan karakter yang ditanamkan dalam jiwa, jika asupan rohani seseorang semakin banyak dan sering maka kesadaran dan mentalitasnya tidak mudah rapuh, sebaliknya akan rapuh jika kurang asupan rohani. Dan institusi yang memiliki otoritas paling tinggi dan penuh dalam pembentukan mentalitas yang kuat dan pendidikan karakter pada tiap orang adalah keluarga. Semua bermula dari keluarga.
Karakter secara kebahasaan adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan oranglain, tabiat atau watak. Dalam terminologi agama, karakter dapat disepadankan dengan akhlak. Membentuk karakter utama tidak akan terjadi secara alami, tetapi memerlukan pendidikan secara holistik dan menyeluruh.
Menurut Muhammadiyah, ciri manusia yang berkarakter kuat dan melekat dengan kepribadian bangsa yaitu manusia yang memiliki sifat relijius, moderat, cerdas dan mandiri.
Dalam keluarga, pendidikan karakter dimulai sehingga anak bisa mengenal nilai-nilai benar yang membedakannya dari yang salah, mengenal nilai baik dan membedakannya dengan yang buruk. Lanjutnya, pak haedar mengungkapkan ada 3 proses pendidikan pada anak, proses pembiasaan, internalisasi dan institualisasi (pemberian reward dan punishment).
Selain itu, posisi keluarga tidak tunggal. Ia tidak berdiri sendiri dalam hal pembentukan karakter pada anak, tapi banyak pihak dan lembaga yang juga ikut andil untuk mempengaruhi prilaku jiwa anak, maka tugas keluarga dan masyarakat sangat penting, keluarga dan masyarakat harus mengadakan sistem pengendalian sosial (social control).
Anak tidak hanya dibiarkan begitu saja, ketika ia sudah terlepas dari beban orangtua dan bimbingan orangtua tidak seintensif saat kecil, maka cara yang baik adalah dengan melakukan kontrol. 
Dan terakhir, kalimat penutup mengakhiri materi, secara tersirat beliu mengatakan bahwa indonesia bangsa yang belum aqil baligh.
1 komentar

Pertanyaan yang belum terjawab


10 Juni 2012
Kamu cinta gak sama Allah?
Cinta.
Kenapa?
Karena Allah selalu mengabulkan permohonanku, karena Allah baik udah bikin aku senang, yaa pkoknya aku cinta kok sama Allah, benaran deh.
Kalau Allah gak mengabulkan permohonanmu masih cinta gak?, kalau Allah bikin kamu sedih dengan mengambil ayahmu ke pangkuannya, kamu masih cinta gak?
Umm, emm,... gimana yah, ga tahu deh.
Koma,
Beberapa kali aku berpikir tentang ini, hingga akhirnya ketika setiap kali permohonanku selalu dikabulkan oleh Allah padahal aku selalu berdosa, aku bertanya dalam hati lalu atas dasar apa coba Allah mengabulkan permohonanku?.
Aku masih suka membicarakan keburukan oranglain, aku masih suka berbohong dengan dalih terpaksa, aku masih suka lalai beribadah dengan dalih nanggung, aku masih suka marah-marah sama orang, aku juga masih selalu cemburu dan iri pada hal yang bukan semestinya, aku masih malas belajar, aku masih suka membuang-buang waktu, aku masih suka ini dan itu yang berakibat dosa, lalu aku berpikir keras sampai pada akhirnya muncul pertanyaan, kalau begitu atas dasar apa coba Allah selalu mengabulkan permohonanku, atas dasar apa Allah masih memberiku kenikmatan, bahkan jika ada yang meminta sesuatu padaku padahal yang meminta adalah orang selalu membuat salah, membuatku sedih, marah, aku tidak akan berbaik hati memberikannya.
Dan kali ini ketika do’aku yang entah kesekian kali tetap saja dikabulkan, akhirnya aku hanya bisa berkata, aku malu sama Allah.
Dan jika suatu saat nanti aku diberikan satu kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Allah, aku ingin sekali bertanya,
“Allah, kenapa Kau masih baik padaku, padahal aku sudah jahat padaMu?”. 
Kenapa Kau masih menunjukkan kecintaanMu padahal jika aku ditanya Kalau Allah gak mengabulkan permohonanmu masih cinta gak?, kalau Allah bikin kamu sedih dengan mengambil ayahmu ke pangkuannya, kamu masih cinta gak?
Jujur, aku masih bingung untuk menjawabnya.
Baiklah, maafkan aku, dan tolong berikan aku kesempatan untuk bisa menjawabnya,
Ya Allah yah, pleaseee...
Rabu, 23 Mei 2012 0 komentar

Tetes-tetes kecil pemikiran Natsir tentang pendidikan




“Saat pertama kali berjumpa dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta; itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’”.
[George McT Kahin, Guru Besar Cornell University]
Siapa yang tak mengenal tokoh besar yang namanya harum sepanjang sejarah islam bahkan sejarah dunia, ulama besar yang bernama Muhammad Natsir yang lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 dan meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993 pada umur 84 tahun).??
Saya.
Iya, saya memang tidak mengenal terlalu jauh tentang Natsir bahkan hanya pernah sesekali mendengar namanya ketika belajar sejarah dan pahlawan-pahlawan islam, tapi tidak ada yang istimewa saat itu, hanya tahu nama dan tidak tahu seperti apa kepribadiannya, maka tidak menjadikan saya termasuk orang yang kagum pada beliu.
Kemudian pernah pula beberapa kali baca artikel seseorang tentang Natsir, dalam artikel itu si penulis menjelaskan sosok Natsir yang membuatnya kagum, saya baca sampai dua kali artikel itu tapi entahlah rasanya tidak terlalu istimewa, yah diluar itu saya tetap apresiatif pada orang-orang hebat tapi tidak mutlak saya mengaguminya.  
Sampailah pada malam itu, kuliah malam seperti biasa, dengan tema kebangkitan umat islam. Malam itu, dosen saya menjelaskan tentang orang-orang islam di indonesia yang patut untuk dicontoh karena idealisme dan keteguhan  mereka mempertahankan islam sebagai dasar hidup di tengah negara yang penuh kemunafikan (mencontek bahasanya soe hok gie). Perlunya kita berkaca pada orang-orang yang tawadhu’, sederhana, tapi kuat memegang ideologi islam dalam hidup.
Orang islam di indonesia banyak, orang islam yang masuk dalam pemerintahan juga banyak, orang islam yang imannya kuat tidak kalah juga lumayan banyaklah, walaupun saat ini saya meragukannya. Tapi, orang islam yang masuk dalam pemerintahan, yang hidup ditengah-tengah kemunafikan dan kecurangan, yang bisa mempertahankan keimanan, itu yang langka. Dan Muhammad Natsir lah salah satu orang yang masuk dalam kategori ini, dan itu pula salah satu alasan kenapa sekarang, saya mengaguminya... hehe.  
Ayah Natsir bekerja sebagai pegawai pemerintahan di Alahan Panjang, sedangkan kakeknya seorang ulama. Natsir merupakan pemangku adat untuk kaumnya yang berasal dari Maninjau, Tanjung Raya, Agam dengan gelar Datuk Sinaro Panjang. Ketika kecil, Natsir belajar di HIS Solok serta di sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Tahun 1923-1927 Natsir mendapat beasiswa untuk sekolah di MULO, Di MULO Natsir belajar bermain biola. Ia juga aktif di kepanduan organisasi Pemuda Islam, Jong Islamiten Bond. Saat di MULO itulah Natsir untuk pertama kalinya duduk berdampingan dengan murid-murid Belanda, sebuah kebanggan baginya karena dahulu, ada mimpi yang tak sampai ia capai, ia ingin sekolah di Holland Inlander School (HIS) Padang, Itulah sekolah dambaan M. Natsir sejak kecil. Tapi pemerintah Belanda hanya menerima anak pegawai negeri dan anak saudagar kaya. Sedangkan Natsir bukan termasuk golongan kaya, sehingga dia ditolak di sekolah tersebut.  
Ini hanya sebagian kecil sejarah hidupnya, dan jemariku tak sanggup menuliskan semuanya hanya dalam beberapa halaman saja, maka saya hanya ingin sedikit berbagi beberapa tetes kecil yang saya tahu.
Ketika saya membaca capita selecta, sebuah karya yang menampung tulisan, dan pidato-pidato beliu dalam sebuah buku, tapi Saya belum sempat mencari buku aslinya, maka saya sempatkan untuk mencari pdf bukunya. Ada yang menarik dari tulisan beliu yang berkaitan dengan pendidikan, khususnya pendidikan anak. Dalam Capita Selecta Jilid I hal 57-60, beliu mengatakan :
“Madju atau mundurnja salah satu kaum bergantung sebagian
besar kepada peladjaran dan pendidikan jang berlaku dalam kalang-
an mereka itu”.
Tepat sekali apa yang Natsir katakan, maju mundurnya suatu kaum/negara tergantung pada pendidikan dan pelajaran yang berlaku di negara tersebut, jika kita sekarang melihat indonesia, sebuah negara yang dengan segala kelebihannya tapi lebih banyak kekurangannya ini dikatakan sebagai negara yang sudah bobrok, korupsi dimana-mana, bahkan semakin jelas dan terang, dan kriminalitas, perzinahan, mabuk-mabukan, narkoba sudah menjadi tontonan, lalu apa lagi yang bisa dibanggakan? Dan apa yang harus kita lakukan?.
Belajar. Belajarlah dengan baik, perbaiki pendidikan yang ada, ajarkan anak-anak kita kelak pendidikan beragama, pendidikan akidah, pendidikan akhlak, pendidikan ilmu pengetahuan, yang semuanya berada dalam satu otoritas, yaitu pendidikan berbasis islam.
“Tak ada satu bangsa jang terkebelakang mendjadi madju, me-
lainkan sesudahnja  mengadakan  dan  memperbaiki  didikan anak2  dan
pemuda2  mereka. Bangsa Djepang, satu bangsa Timur jang sekarang
djadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran madjunja, masih akan
terus tinggal dalam kegelapan sekiranja mereka tidak mengatur
pendidikan bangsa mereka; kalau sekiranja mereka tidak membuka-
kan pintu negerinja jang selama ini tertutup rapat, untuk orang2
pintar dan ahli2  ilmu negeri lain jang akan memberi didikan dan ilmu
pengetauan kepada pemuda2  mereka disamping mengirim pemuda2-
nja keluar negeri mentjari ilmu dan pendidikan”.
Maka kuncinya saat ini ada pada kita, sebagai generasi muda penerus bangsa, belajarlah dengan baik, dan ajarkan anak-anak kita kelak pendidikan dan pelajaran yang baik, sesuai ajaran islam. Tidak perlu mahal-mahal bayar les private matematika, IPA, Bahasa inggris, piano, balet, gitar, drum, latihan vocal, tapi cukup kita ajarkan setiap shubuh, maghrib belajar membaca al Qur’an dengan baik, ajarkan dan tanamkan pada mereka akhlak yang baik, berbuat baik. Berikan contoh yang baik sebagai ibu dan bapak yang baik, maka ia akan terlahir menjadi generasi yang baik dan bisa memperbaiki negara indonesia.
Konsep ini sesuai pula dengan nasehat Lukman al Hakim pada anaknya yang tercantum dalam surat Lukman ayat 12-18. 


Fighting... JJ
Wallahu a’lam bi showab

Selasa, 22 Mei 2012 0 komentar

Mempertanyakan kembali kredibilitas sahabat, bolehkah??


Mempertanyakan kembali keadilan sahabat apakah sebuah kesalahan? Apakah kita meragukan kualitas sahabat sebagai seseorang yang oleh Allah dan RasulNya dimuliakan? Pertanyaan ini telah banyak dilontarkan oleh umat islam yang menganggap  tidak layak meragukan kualitas sahabat, menurutnya kebenaran Nabi dan al Qur’an disampaikan kepada umat manusia lewat sahabat, oleh karena itu, siapapun yang mempertanyakan otoritas sahabat sama saja dengan mereka menolak al Qur’an dan Sunnah (Fu’ad Jabali, Sahabat Nabi, Cet I Desember 2010, Jakarta: Mizan, Hal 41) karena mereka adalah orang-orang yang hidup semasa dengan Nabi Saw dalam keadaan islam dan wafat dalam keadaan islam (Fu’ad Jabali, Sahabat Nabi, Cet I Desember 2010, Jakarta: Mizan Hal 48), Mereka adalah orang-orang yang Nabi janjikan masuk syurga, mereka adalah orang-orang yang membela Nabi dan memperjuangkan islam sampai titik paling akhir.
Sahabat memang orang-orang yang mulia, akan tetapi mereka bukanlah orang yang Ma’shum (Terpelihara dari kekeliruan dan kesalahan),(Lihat Dr.Salahudin ibn Ahmad al-Adlabi, Metodologi kritik matan hadis, Cet I April 2004, Jakarta : Gaya Media Pratama, Hal 47). Kebenaran inilah yang telah banyak dilupakan oleh umat islam, mereka mengira bahwa sahabat itu bebas dari dosa, apapun yang sahabat katakan dan apapun hadis yang sahabat riwayatkan semua dianggap Shahih dan harus diterima, umat islam melupakan satu hal yang menjadikan mereka terlalu berlebihan mengagungkan sahabat sehingga pada akhirnya kesalahan dan kekeliruan sahabat ditutupi dan dianggap benar.
Efek dari sikap menganggap sahabat sebagai seorang yang Ma’shum dan tidak pernah salah, pada akhirnya membuat kita akan jatuh pada sikap menganggap rendah kualitas mereka, karena usaha sahabat mengorbankan dan membela Nabi Saw bukan sebuah usaha kemanusiaan yang sesungguhnya, akan tetapi kekuatan Tuhan yang sudah diberikan pada mereka, selain itu, jika mereka adalah orang-orang yang diberikan kekuatan khusus oleh Tuhan, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengikutinya, karena tidak masuk akal mengikuti makhluk yang secara khusus diberikan kekuatan oleh Tuhan.(Fu’ad Jabali, Sahabat Nabi, Cet I Desember 2010, Jakarta: Mizan, Hal XIVI)
Dalam beberapa ayat dalam al Qur’an terdapat penyebutan kemuliaan-kemuliaan sahabat dan keutaman mereka. Merupakan kewajiban bagi kita umat Islam untuk mentaatinya dan mempercayai mereka sebagaimana kita taat pada Nabi Saw. Dalam surat Al Fath (48) : 29 Allah Swt berfirman :
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Kemudian dalam surat At Taubah (9) : 100
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Kemudian dalam Sunnah Nabawiyah pun terdapat pernyataan-pernyataan Nabi tentang kemuliaan sahabat :
Hadis riwayat Bukhori :
Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian berikutnya dan kemudian berikutnya... “ (Shahih Bukhari Juz III Hal 171, No 2651,2652,Juz 5, Hal 2 No 3650 )
Terlepas dari semua penyebutan yang terdapat dalam Al Quran juga dalam Sunnah Nabawiyyah, bahwa sahabat adalah orang-orang yang dimuliakan, perlu kita ketahui bahwa dalam beberapa sumber sejarah dan karya-karya para ulama hadis yang membahas tentang sahabat, ternyata sahabat telah banyak melakukan kekeliruan- kekeliruan yang termasuk fatal (Dr.Salahudin ibn Ahmad al-Adlabi, Metodologi kritik matan hadis, Cet I April 2004, Jakarta : Gaya Media Pratama, Hal 46-47).
Ibn Sa’ad, seorang ulama ahli hadis sekaligus sejarawan yang hidup pada abad ke-2 H/8 M memberikan banyak kesaksian tentang hal ini, mulai dari Umar yang sangat galak sampai Utsman yang sangat lembut, ada sahabat yang gemar makan seperti Shuhaib bin Sinan, dan ketika Umar menegurnya, dia bilang bahwa dia mendapat petunjuk tentang hal itu dari Nabi (Lihat Ibn Sa’ad w.230/844, al-Thabaqat al-Kubra, Beirut : Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1995-6, Jilid 3, Hal 121) ada yang banyak meninggalkan hutang ketika meninggal seperti al-Zubair bin al-Awwam(Ibn Sa’ad, al-Thabaqat, 3:57), ada juga yang terlibat dalam perzinahan seperti yang dialami Amr bin Hazmah dan Ma’iz(Ibn Sa’ad, al-Thabaqat, 4:476 dan 479) yang akhirnya dirajam. Kemudian Misalnya lagi kritik Aisyah terhadap riwayat-riwayat  Abu Hurairah :
 “Anak zina merupakan yang terkeji di antara tiga person (dia dan kedua pelaku zina)”.(Hal 86)
Kritik A’isyah mengatakan bahwa Abu Hurairah telah lupa terhadap sebab turun Hadits itu. Sebab turunnya, Ada seorang munafik yg menyakitkan hati Nabi. Lalu beliau bersabda: siapa yang bisa mengemukakan alasan kepadaku mengenai orang itu?. Dikatakan pada beliau: “orang itu bersama anak zina”. Kemudian bersabda: “dia adalah yang terkeji di antara 3 orang itu”. Kemudian kritik A’isyah pada  riwayat Abu Hurairah yang berbunyi: (
“Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya”. (Shahih Bukhari,Juz III Hal 403-405, Shahih Muslim, Juz IV Hal 228-230 dan 335).
Kritik A’isyah, bahwa yang benar Rasulullah melewati rumah seorang Yahudi yang meninggal dunia, sementara keluarganya menangisinya. Melihat hal itu, beliau bersabda “Mereka menangisinya, sementara sekarang ini dia disiksa.
Kemudian kritik A’isyah terhadap riwayat Umar:
“Nabi melarang melakukan Salat setelah subuh sehingga matahari terbit, dan setelah ashar sehingga matahari terbenam”.(Shahih Bukhari, Juz II, Hal 112, Shahih Muslim, Juz VI, Hal 111)
Kritik Aisyah pada Umar bahwa yang benar adalah “Janganlah kalian memilih waktu matahari terbit untuk melakukan Salat, dan jangan pula memilih pada waktu matahari terbenam. Sebab matahari itu muncul dari kedua tanduk setan”.( Sunan An Nasa’i, Juz I, Hal 278-279, Shahih Bukhari, Juz II, hal 198. Shahih Muslim, Juz VI, Hal 110).
Umar melakukan kesalahan, sebenarnya Nabi hanya melarang memilih waktu matahari terbit dan terbenam untuk melaksanakan Salat.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai umat islam menghadapi dua kenyataan yang saling bertentangan ini? Jika dalam Ilmu hadis berlaku istilah al Jam’u wa Taufiq sebagai sebuah solusi untuk adanya hadis yang bertentangan, maka kita selaku umat islam harus memiliki sikap bijak dan memposisikan diri sebagai Umattan wasatha (umat pertengahan), Sahabat adalah orang-orang yang mulia, kita tidak bisa menolak begitu saja kredibilitas mereka yang telah berjuang keras untuk Nabi Saw dan agama islam, akan tetapi diluar itu kita tetap menganggap bahwa mereka manusia biasa yang bisa salah dan bisa juga benar, maka cara yang paling bijak adalah kita tidak menelan mentah-mentah semua pernyataan sahabat, kita tidak begitu saja menjustifikasi benar semua hadis yang mereka riwayatkan, akan tetapi kita harus melakukan penelitian, pengkajian lebih mendalam, bahkan bila perlu setiap hadis yang kita dengar kita lakukan kritik dari aspek sanad dan matan, agar kita tidak terjerumus pada sikap taqlid buta dan fanatik terhadap ulama. 

Wallahu A’lam bi Showab                                                                  


Rabu, 16 Mei 2012 0 komentar

Butiran debu di ujung sepatu.



Langkah kaki tak mau berhenti, terus mencari dan mencari persinggahan yang bisa menetap pada jalan yang buntu. 

Hati dikuasai emosi, pikiran dikuasai ego. Lalu mana yang harus kupilih untuk menentukan jalan? Tidak, masalah hati bukan tentang kalah dan menang, bukan tentang kekuasaan dan ego, tapi tentang rasa, tentang bahagia yang tidak terkira, tentang hujan yang jatuh tiba-tiba, tentang bintang dan rembulan yang terus bersinar, dan tentang kau yang terus berlari menghabiskan nafasku. 

maeumeul dudeurineun kkumiraneun meon hutnarui iyagideul
du soneul ppeodeobwado daheul su eomneun eoryeomputan punggyeongdeul
Because Im weary, Cause Im weary
Because Im weary, Cause Im weary
sumi makhil deut naedallyeoganeun i sesang sogeseo
hollo gwireul makgo eorin sijeorui noraereul bureunda
kkeutdo sijakdo eobsi jaranan gieogui supeseo
irijeori hemaeda meonguljin gaseumeul dallaenda
Because Im weary, Cause Im weary

Setiap harap memiliki tuannya masing-masing, entah harap itu dipikul di bagian apa dalam tubuhmu. Terkadang ia memenuhi perutmu, lalu kau terus mengusahakannya dengan memenuhinya sampai buncit, terkadang ia mengantung di atas bayang-bayang kepalamu, lalu kau terus membentuk gumpalan awan setiap kali kau letuskan dalam satu hembusan nafas. Dan terkadang ia ada di pundakmu, hingga membuatmu terasa berat dan melelahkan. Dan pada akhirnya kau akan mengatakan, “aku lelah memikul harap”. Maka taruhlah di bagian paling tidak penting pada tubuhmu, sehingga beratnya akan terasa seperti debu. 

Pilihan, kitalah yang menentukan. Perasaan, hati, pikiran semuanya menjadi bagian dari kekuasaan kita, kita yang menguasai mereka, orang lain tak pernah bisa ikut andil, orang lain bahkan tak bisa mencampurinya bila kita tak mengizinkannya. Maka kitalah penguasa.
Malam tak pernah benar-benar larut, ia hanya mampir sesaat dibalik gelap, ia ingin mengintip waktu, seberapa detik ia harus bertahan sampai matahari muncul dari tanduk syetan.
Dan kau, ketika semua harap terus memburumu seperti anjing yang meneriakimu seolah kaulah satu-satunya yang tertuduh, ketika kau berpikir tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikannya dari nyata, ketika sampai menghabiskan nafasmu yang tersisa, maka jadikan harap itu hanya seperti debu. Ia ada, selalu ada. Dimanapun bagian tubuhmu, dimanapun tempat dudukmu, dimanapun kau injakkan mata kakimu, ia ada. Ia mengawasimu malu-malu. Tapi ia tetap ada tapi tak pernah terasa. 

Taruh saja, yah taruh saja harapmu di ujung sepatu. Biarkan butirannya menjadi debu, terbang dan kembali saat kau menghembuskan nafas sesakmu. Ia akan ada, selalu ada... seperti halnya kau, selalu ada dan tetap ada. Di nafas terakhir yang memburuku.



himgyeoun oneul haru yunanhido tteollyeooneun simjangsori
eolgureun jjinggeuryeodo jiul su eomneun seomeokhan dugeungeorim
Because I love you, Cause I love you
sirin baramgyeori otgiseul tturko gaseume daheumyeon
chama itji motan geu ttae ildeuri nun apeul garinda
eoriseogeun banghwanggwa gonoeui pyeonghaengseon wieseo
jageun ttambangureul dakkanaerimyeo sumeul goreunda
Because I love you, Cause I love you
sumi meojeul deut naedallyeoganeun i sesang sogeseo
hollo gwireul makgo eorin sijeorui noraereul bureunda
kkeutdo sijakdo eobsi jaranan gieogui supeseo
irijeori hemaeda meonguljin gaseumeul dallaenda
Because Im weary, Cause Im weary
Because Im weary, Cause Im weary

22.01 PM.
Minggu, 13 Mei 2012 0 komentar

Ada hujan jatuh di kelopak mataku



“Aku ingin kita serius”
Ucapan itu lagi-lagi kau lontarkan, hampir setiap pesan masuk selalu kau iringi dengan pesan terakhir  “aku ingin kita serius”.
Aku bosan, sungguh.. apa kau tak cukup mengerti apa yang kuinginkan. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu, kuliahku belum selesai, adikku banyak, aku harus kerja cari duit banyak dan biayai hidup adik-adikku, aku ingin berikan yang terbaik untuk keluargaku, dan sekarang kau memintaku untuk serius. Entahlah apa aku sanggup.
Kau bilang bosan dengan hubungan main-main, kau ingin hubungan yang jelas, pasti dan ada keinginan untuk lebih dari saat ini yang dijalani.
Yah, aku tahu, aku tahu.. aku harus menikah, memiliki istri, berkeluarga, dan kau perempuan yang hampir sempurna untuk menjadi istriku, tapi, tapi... tidak sekarang, tidak saat ini. Apa kau tidak mengerti, kuliahku belum selesai, aku harus kerja, ini itu dan lainnya lagi.
Kau bilang lagi kalau waktu yang terlalu lama, bisa jadi kau akan dijodohkan dengan laki-laki lain, atau bisa saja kau akan jatuh hati pada lelaki lain, atau aku yang jatuh hati pada wanita lain, rasa-rasanya tidak mungkin, cukup kau, tak ada lagi wanita yang kedua, tapi kumohon tidak sekarang, saat ini aku masih kuliah, adikku banyak, aku harus kerja dulu, titik.
Kau marah.
Lebih baik kubaikan, tidak ada lagi pesan-pesan memburu rayu di hpku, beberapa hari ini ujian semester menyita waktuku, tugas KKN, dan aku harus kerja partime. Aku lelah sekali, lelah sungguh, seandainya kau sudah menjadi kekasih halalku, setidaknya ada tangan lembut yang memijat bahuku, uhh... tidak, aku harus kuliah dulu, cari duit dulu. Huffft.   
Genap satu minggu kita tak menjalin komunikasi, kudengar kau pun sibuk dengan tugas kuliahmu, sibuk dengan les privatmu, yah baguslah setidaknya kau tidak sedang membuatku harus belajar menjadi laki-laki ksatria.
Tiba-tiba aku rindu, rindu padamu..
Tapi kau bahkan tak lagi memperdulikanku, kau lupa menuntut janji padaku, kau tak lagi meminta harap dan mohonmu padaku. Duhai, aku merindukanmu.
Ada hujan jatuh dikelopak mataku, pelan sekali dan aku merasakan getaran ketakutan yang tidak biasanya.
Bagaimana kalau kau melupakanku, bagaimana kalau kau tidak lagi mencintaiku, bagaimana kalau kau ternyata menikah dengan laki-laki lain yang lebih siap untuk serius denganmu, bagaimana??
Lagi lagi ada hujan jatuh dikelopak mataku.
Bukankah tidak salah jika kau mengharap kepastian, bukankah tidak salah jika kau meminta semua itu dariku dan aku pun mencintaimu...
Dan, masihkah kau mau serius denganku??? **Sambil kuhapus hujan yang turun deras di kelopak mataku.


Sabtu, 12 Mei 2012 0 komentar

Luka



Semakin aku tak bisa memahamimu.... 

Sejauh ini aku berusaha menjadi orang yang berpura-pura bahagia dan tidak pernah terjadi apa-apa, setidaknya aku ingin dunia tahu bahwa aku, tetap kuat, bahwa aku bukan pecundang apalagi pengemis murahan. 

Aku, dengan segala apa yang kupunya berusaha memahamimu meski kadang perbedaan tak pernah bisa dihindari, sampailah aku pada titik dimana objektifitas bahkan subjektifitasku hilang padamu, aku tak bisa lagi membacamu, aku tak bisa lagi memahamimu dalam setengah sentiku, aku tak bisa lagi menjadi orang yang terus menerus diabaikan. 

Sampai pada titik ini, aku bahkan tidak tahu apakah aku ini benar2 pengemis murahan, heh... kubangun semua luka ini dengan tetap percaya padamu, entahlah kau memang benar2 tak bisa kumengerti....


Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;