Kamis, 27 September 2012 0 komentar

Mantra-mantra Sakti



Ini mantraku, dari langit ke bumi mencarimu
Membaca setiap takdir pertemuanku,
Sim salabim abracadabra
Kau, perindu yang tersangkut

Ini jampiku, dari langit ke bumi mencarimu
Menjumpa para dedukun mengguna-gunamu
Menyimpan risalah perindu-perindu malam
Sim salabim abracadabra
Kau, terbalut dalam mimpiku.

Sim salabim abracabadra
Ini mantraku, dari langit ke bumi mencarimu
Membacakan jampi-jampi
Dan Kau, pencarianku terakhirku.



0 komentar

Perjalanan masa depan (Penampilan is My Everything)


Petra, selamat malam, untuk malammu yang sudah habis oleh waktu, untuk malammu yang lupa membaginya denganku, malam yang kau sibukkan dengan egomu sendiri, apa malam ini kau masih sama seperti malam-malam yang lalu, duduk termangu menghadap layar laptopmu menghabiskan semua sisa seolah yang hidup di dunia hanya kau dan benda itu. 
 
Petra, malam ini ada sesuatu yang mengusik pikiranku, sesuatu yang sebetulnya pernah kualami sendiri, dan pada akhirnya aku sadar dan membebaskan diriku, kumulai ceritaku dari siang tadi, teman satu kostku tiba-tiba sakit, badannya demam tinggi, mual-mual dan selalu ingin ke kamar mandi, aku heran karena hari sebelumnya dia baik-baik saja, sampai siang tadi dia terlihat baik, ya memang namanya ujian Allah tidak diduga datangnya kapan, maka hari itu dia tidak berangkat ke kampus, aku sudah menyuruhnya minum obat dan istirahat, tapi dia diam saja, aku bertambah heran karena tidak biasanya dia diam, sekali lagi aku berpositif mungkin karena dia sakit jadi sifat asli cerewetnya mati seketika, tapi aku merasa ada sesutu yang ia sembunyikan dariku, entahlah dan hari itu aku ke kampus sendirian. 
 
Sepulang dari kampus, aku lihat dia mual-mual dan bolak balik kamar mandi, sambil menahan perutnya ia merintih kesakitan, tanpa peduli apapun lagi kuhampiri dan kutanyai sebetulnya dia sakit apa, sangat mencurigakan sekali petra, perasaanku makin tidak tenang.
Sambil menangis dia memelukku, ada satu kalimat yang dia tanyakan yang membuatku tak bisa menjawabnya. 
 
Aira, ada tidak obat pelangsing yang tidak menyiksa?”

Kutahan nafasku sesaat, jantungku berpacu cepat, aku benar-benar tak bisa bicara petra, sepertinya saat itu dunia sedang menghakimiku dan aku tak bisa menjawabnya.
Singkatnya petra, temanku tadi sakit karena minum obat pelangsing, setiap hari rutin dia mengkonsumsi obat, jamu, minuman dan semua hal yang bisa menurunkan berat badan, obsesi besarnya dipicu karena merasa malu dengan berat badan yang tidak normal dan berlebihan, ditambah lagi dia beralasan laki-laki tidak suka perempuan gemuk. 
 
Petra, aku malu. Bagaimana aku bisa menasehati dia panjang lebar dan menenangkannya, diam-diam aku pun mengkonsumsi obat pelangsing seperti dia.
Melihat perempuan diluar sana memiliki tubuh bagus dan langsing, sungguh ada keinginan dalam hati perempuan manapun termasuk aku, hanya saja seberapa besar keinginan itu, untuk yang tidak terlalu peduli maka ia akan berusaha menepisnya, tapi aku yakin setiap wanita menginginkannya.
Petra, apa salah menginginkan fisik yang sempurna? 
 
Fisik, bagi sebagian besar kaum wanita menjadi nomor satu, apapun cara akan dilakukan untuk mendapatkan fisik yang bagus, wajah yang cantik, tubuh yang langsing, dan kulit yang putih, sungguh tidak salah petra, jika saja kau menjadi perempuan maka ku yakin kau akan terserang virus itu meskipun sangat kecil. Tapi apa yang salah, yang salah kalau semua yang dilakukan berlebihan dan diluar koridor agama kita, bukankah Allah berfirman “Janganlah kamu sekalian menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan”, maka ketika untuk memiliki wajah yang cantik dengan operasi pelastik, memakai make up berlebihan dan belum tentu halal, justru saat itulah dia sedang merusak wajahnya, ketika untuk mendapatkan tubuh yang langsing dia harus mati-matian minum segala pil, obat atau apapun yang bisa menurunkan berat badan, maka saat itulah ia sedang menyiksa tubuhnya, buktinya temanku itu pada akhirnya tersiksa dan jatuh sakit.
Petra, terkadang laki-laki juga salah, mereka selalu menuntut lebih dari wanita, ingin pasangan cantik, fisik oke, kulit putih, tubuh seperti gitar spanyol, sehingga wanita yang tidak memiliki kriteria yang diinginkan akan tersingkir dan dianggap rendah di mata lelaki, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk sempurna. Padahal tidak selalu laki-laki juga memenuhi kriteria tersebut, dasar laki-laki. 
 
Petra, untukmu sebagai laki-laki jangan melihat perempuan dari fisik, kata Ibnu Qoyyim al Jauziyah, cinta itu adalah sebab dan dia akan hilang bersamaan dengan hilangnya sebab tersebut, maka ketika seseorang mencintai pasangannya karena fisik, saat usianya mulai menua, kecantikannya akan hilang berganti kulit keriput dan rambut yang memutih, maka cintanya akan ikut hilang. 
 
Petra, aku janji tidak akan menyiksa diriku lagi, aku akan membebaskannya, bebas menjadi perempuan yang bisa sempurna lewat hatinya.... 
 
Malam ini, biarkan tidurku lelap tanpa ada kau dalam mimpiku...



Selamat malam petra.


Aira


0 komentar

Corak dan Metode Tafsir

28 September 2012


Assalamualaikum....
Hai teman2 TH dimanapun berada, kuliah online edisi selanjutnya, semoga kita selalu dilindungi Allah dan dimudahkan pemahaman yang benar dalam ilmu.
Jika kemarin kita membahas bagaimana sejarah perkembangan tafsir dari zaman Nabi sampai masa kodifiksai, maka kali ini kita akan membahas macam-macam metode ulama tafsir dalam menafsirkan ayat.
Dalam ilmu tafsir, ada banyak corak dan metode yang digunakan oleh para mufassir dalam menafsirkan teks (ayat), untuk memahami penafsiran suatu ayat maka kita harus tahu metode apa yang digunakan, misalnya saja sebagaimana dalam kuliah beberapa hari lalu sudah dibahas panjang lebar tentang bagaimana Muhammad Abduh dengan Tafsir al Manarnya, dimana beliu dalam menafsirkan ayat menggunakan metode tahlili.
Ini dia beberapa corak dan metode tafsir :
  1. Metode Tahlili
Ini adalah salah satu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan ayat-ayat al Qur’an dari seluruh aspeknya. Seorang penafsir yang menggunakan metode akan menafsirkan ayat dengan runtut dari awal hingga akhirnya dan surat demi surat sesuai urutan mushaf usmani, ia juga menguraikan kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki juga unsur i’jaz dan balaghah serta kandungannya dalam berbagai aspek pengetahuan dan hukum.
Metode ini juga tidak melepaskan aspek asbabul nuzul suatu ayat serta munasabah ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
Kalau dilihat dari kecenderungan para penafsir metode tahlili ini dapat berupa :
Tafsir bil Ma’tsur (ayat dengan ayat atau dengan riwayat, contohnya tafsir Ibnu Katsir, tafsir Ath Thabari) ,Tafsir bi Ra’yi (lebih besar porsi ijtihad penafsir, contohnya Mafatih al Ghaib karya al Razi), Tafsir al Shufi (Mentikberatkan pada makna bathin, biasanya kaum sufi contohnya Haqa’iq al Tafsir karya al Salami), Tafsir al Fiqhi (orientasinya pada persoalan hukum islam, contohnya al Jami’li Ahkam al Qur’an karya Qurthubi), Tafsir al Falsafi , Tafsir al Ilmi (berkaitan dengan ayat-ayat kauniyah), dan Tafsir al Adab al Ijtima’i (cenderung kepada persoalan sosial kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa. Contohnya tafsir al Manar karya M.Abduh dan Rasyid Ridha).
  1. Metode Ijmali
Metode Ijmali adalah metode tafsir yang menafsirkan ayat-ayat al Qur’an dengan cara mengemukakan makna global suatu ayat.
Dengan metode ini si penafsir menjelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal selain arti diluar teks.
Biasanya penafsir yang menggunakan metode ini dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang sederhana dan ringkas, serta memberika idiom yang mirip bahkan hampir sama dengan al qur’an sehingga pembaca mudah memahami penafsirannya.
Contoh Penafsir yang menggunakan metode ini adalah Jalal al Din al Suyuthi dan Jalal al Din al Mahali dengan kitabnya Tafsir Jalalain dan Muhammad Farid Wajdi dengan kitab Tafsir al Qur’an al Adzim.
  1. Metode Muqaran
Sesuai dengan namanya, metode ini lebih menekankan pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al Qur’an.
Penafsir biasanya mengumpulkan ayat-ayat kemudian mengkajinya dan meneliti penafsiran sejumlah mufassir mengenai ayat tersebut dalam kitab mereka.
Salah satu contoh tafsir yang lahir di zaman modern ini adalah Qur’an and Interpreters karya Prof Mahmud Ayyub.
  1. Metode Maudhu’i
Metode ini disebut juga metode tematik, karena pembahasannya berdasarkan pada tema-tema tertentu yang ada dalam al Qur’an.
Ada dua cara kerja dalam penggunaan metode ini, Pertama, dengan cara menghimpun seluruh ayat al qur’an yang berbicara tentang satu masalah/tema tertentu serta mengarah pada tujuan yang sama. Kedua, penafsirkan berdasarkan surat al Qur’an.
Al Farmawi mengemukakan ada 7 langkah yang harus ditempuh apabila seseorang ingin menggunakan metode ini, memilih masalah yang akan dikaji secara tematik, kemudian melacak ayat-ayat yang berkaitan, menyusun ayat tersebut secara runtut menurut kronologis turunnya dan asbabul nuzulnya, lalu mengetahui munasabah ayat, menyusun tema bahasan dalam kerangka yang pas dan utuh, dan terakhir melengkapi uraian dan pembahasan dengan hadis bila dipandang perlu sehingga pembahasan lebih sempurna.

Sumber Bacaan :
Prof. Dr. Abdul Muin Salim, MA, Metodologi Ilmu Tafsir, Cetakan 1 Februari 2005 Yogyakarta : TERAS.
Syaikh Manna’ al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, Jakarta : Pustaka Al Kautsar, Cetakan kedua Juli 2007, Alih bahasa Aunur Rafiq El Mazni. Hal 419-440.
Salam hangat.

Nailul Fauziah
(TH_FAI UAD)

Kamis, 13 September 2012 0 komentar

Penyesalan

Apa kau menyesal?
Aku tak pernah ingin melabelkan keadaan ini sebagai sebuah penyesalan, apapun yang terjadi kuanggap semuanya baik2 saja, penyesalan lebih identik dengan sesuatu yang menyedihkan, dan aku tak ingin larut di dalamnya, kuanggap semuanya baik-baik saja..
Malam yang semakin larut, aku bahkan sudah lupa dengan dingin angin malam, sepinya, dan semua tentang malam aku sudah lupa, karena aku telah menjadi bagiannya.
Dan saat malam sudah semakin larut, smsmu yang tiba-tiba membuat malamku semakin amnesia. 


Sudah tidur? Malam ini aku tak bisa tidur.
Petra, boleh aku bertanya, hmm apa kau benar2 tidak menyesal?”
Aira. 


Smsmu kubiarkan begitu saja, tidak ada yang perlu dijawab, tidak ada, dan yang paling penting tidak ada penyesalan. 

Aira, penyesalan hanya akan menjadi beban berat yang kau larutkan dalam pikiranmu dan pada akhirnya kau hanya akan bersedih dan tidak bisa menerima apapun yang terjadi, itu sungguh tidak baik, kau bisa sakit, kau bisa terkena kanker otak kalau terlalu sering memikirkannya, dan kemungkinan terakhir kau akan stres atau paling tidak depresi tingkat satu.
Aira, hidup kita, diri kita bukan milik kita seutuhnya, dan kita tak bisa mengaturnya sesuka hati, ada saat dimana kita harus patuh pada aturan pemilik, dan menyesal hanya akan membuatmu lelah, aku mengkhawatirkanmu. 

Satu pesan terkirim. 

“Tidurlah sudah malam tidak baik untukmu,
 dan maaf aira, aku tak pernah menyesal”.
Petra. 






Aku akan bahagia dengan apapun cara Dia membuatku bahagia, meski tidak lagi denganmu aira. Dan kuyakin kau pun akan bahagia..:)
Kamis, 02 Agustus 2012 0 komentar

Perlunya kaderisasi yang unggul di Perguruan Tinggi Muhammadiyah



Mahasiswa adalah penerus persyarikatan. 

Statement diatas menjadi dasar bagi setiap perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menyiapkan kader-kader mahasiswanya yang intelektual, berpikiran maju, dan berideologi yang kuat untuk meneruskan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah. Maka dibentuklah ortom Muhammadiyah yang bisa menampung mahasiswa dalam wadah yang tepat, yaitu ikatan mahasiswa Muhammadiyah (IMM). 

IMM menjadi sarana dakwah sekaligus tempat mengolah diri untuk menyiapkan kader-kader yang cerdas, intelektual dan berakhlak mulia. 

Faktanya, banyak di perguruan-perguruan tinggi Muhammadiyah yang memang tidak seluruhnya bisa menjadi kader, karena dasar yang dibawa pada awalnya tidak seluruhnya pula berbasic Muhammadiyah, hanya sebatas simpatisan, atau pelarian karena tidak diterima di perguruan tinggi negeri. Alasan-alasan inilah yang menjadi sebab kenapa tidak muncul kader-kader yang diharapkan oleh persyarikatan. 

Contoh kasus saja, dalam IMM pun tidak seluruhnya yang mengelola adalah orang-orang yang berideologi Muhammadiyah, mereka masuk IMM ada yang terpaksa, nampang nama, hanya sekedar ingin aktif, sehingga IMM tidak berjalan dalam roda Muhammadiyah, banyak anak IMM yang kelimpung sana sini, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa jiwa mahasiswa adalah jiwa pencari, mereka akan terus saja mencari apapun sampai pada akhirnya mereka menemukan kebenaran yang sesuai dan cocok untuk mereka yakini, maka tak heran kalau dalam diskusi mahasiswa yang dibahas adalah seputar ideologi, kepercayaan, keTuhanan, dan kebenaran. Karena untuk hal-hal seperti itulah mereka merasa dalam keraguan.
Jika IMM saja sudah sedemikian buruk, lalu apa yang bisa diharapkan untuk meneruskan persyarikatan ini? Mengapa saya menggunakan kata buruk, dalam hal ini contoh sederhananya, kader IMM shalatnya masih bolong bahkan tidak shalat, kader IMM tidak mencerminkan akhlak mulia yang diusung dalam visi misinya, kader IMM masih bergaul bebas dan tidak mengenal norma antara lawan jenis, maka kader IMM seperti inilah yang dikategorikan sedemikian buruk.  

Pengkaderan pertama dalam IMM disebut dengan DAD (Darul Arqam Dasar), pengkaderan ini tidak bisa semata-mata menjadi tolak ukur untuk mencetak kader yang baik dalam IMM, maka pengkaderan dalam bentuk personal atau kolektif harus tetap dijalankan, pengkaderan tidak berhenti sampai di DAD saja, tapi selama masa kepengurusan dalam IMM harus tetap mengolah dan melatih diri baik diri sendiri ataupun oranglain untuk selalu melakukan kaderisasi diri yang baik. 

Adanya pengkaderan khusus dari pimpinan juga menjadi hal yang baik untuk memantapkan basic diri menjadi penerus dakwah, karena disaat-saat jiwa pencarian mahasiswa menjadi sangat kronis bahkan dalam ambang kebingungan yang daki, maka kontrol khusus dari pimpinan-pimpinan menjadi sangat perlu, selain sebagai bentuk perhatian pada ortom juga sebagai kontrol sosok bapak pada anak yang sedang dalam kebingungan mencari kebenaran. 

 
Naelul Fauziah
0 komentar

Perjalanan masa depan (Tentang 3 pertanyaan)



Petra,, ada pedih yang terpendam di dalam sana sehingga pelan-pelan menjadi kesedihan yang berkepanjangan dalam hidupku, bukan ku tak ingin membuangnya hanya saja kesedihan itu sudah terlalu kuat menggerogoti, ibarat virus maka seluruh tubuhku sudah diserangnya. Maka bukan hal mudah bisa melepasnya begitu saja.
Petra, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, pada orang-orang di dunia ini yang bisa menikmati hidup tanpa beban dalam hidupnya, orang-orang yang bisa tersenyum begitu ikhlas dilihat bahkan kita yang melihat ikut bahagia, dan aku ingin bertanya pada Tuhan, petra, sungguh ada banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan, seandainya Tuhan membuka dialog interaktif bagi makhluknya maka aku akan menjadi pendaftar pertama.
Petra, untuk banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan aku hanya akan mengajukan tiga pertanyaan yang selama ini membuatku selalu penasaran, adakah orang yang bisa memberikan jawaban yang tidak perlu lagi aku bertanya.
Pertama, kenapa manusia harus dibedakan antara status sosial kaya miskin, bahagia sengsara, rasanya sangat tidak adil petra, bagaimana dengan orang-orang kaya yang menghabiskan uang hanya berfoya-foya dan tak pernah berderma, anak-anak mereka dibiarkan bebas hidup dan bergaul, pendidikan tidak lagi menjadi menu pokok untuk mencerdaskan anak, karena dengan uang apa saja bisa diperoleh, lalu bagaimana dengan orang-orang miskin papa, yang untuk sekedar makan saja susah apalagi untuk sekolah sampai sarjana dan berilmu, sehingga mereka mengubur impian mereka dalam-dalam karena untuk sekedar bermimpi bisa sekolah tinggi saja tidak berani apalagi bisa mewujudkannya, padahal keinginan sangat kuat dalam hatinya, bagimana ini bisa terjadi, kenapa orang yang kaya itu tidak disematkan pada mereka yang memiliki impian tinggi dalam hidupnya, haruskah ia mengubur mimpi yang selama ini hanya ia susun di benaknya paling dalam??
Kedua, kehilangan itu menyakitkan. Petra, aku tak pernah ingin kehilangan siapapun dan apapun yang kumiliki saat ini, tapi petra ternyata manusia milik Tuhan, maka tak pantas jika aku ingin memiliki sepenuhnya, aku harus bisa mencintai siapapun sekedarnya, sehingga ketika kehilangannya aku tak perlu bersedih hati keterlaluan, tapi petra, ini teori, setelah kita mengalaminya maka semua teori itu gugur, kita tak bisa mempercayainya lagi, bahkan akhirnya kita akan mengatakan persetan dengan semua teori apapun, karena kenyataan akan sangat berat dialami, maka petra pertanyaanku bagaimana kita bisa ikhlas ketika kehilangan??
Terakhir petra, jika ada seseorang yang mencintaimu dan kau takut menyakitinya apa kau pasti akan menerima wanita itu dan menikahinya padahal kau belum tentu mencintainya, namun di satu sisi kau mencintai wanita lain tapi kau meragukan cintanya padamu bahkan dia belum tentu mencintaimu sejauh cinta wanita yang mencintaimu, maka yang manakah yang kau pilih??



Aira
22.20
30-07-12

Selasa, 10 Juli 2012 0 komentar

Biografi Ibnu Taimiyah dan Hamka



PEMBAHASAN
a.                   Biografi buya Hamka
Nama lengkap dari Prof. Dr. H. Hamka adalah Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah bin Abdullah bin Soleh, atau yang dikenal dengan panggilan Buya Hamka. Buya Hamka dilahirkan di sebuah perkampungan yang bernama Sungai Batang dekat Danau Maninjau Sumatra Barat.
Dia dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1908 yang bertepatan dengan tanggal 14 Muharam 1326 H. Buya Hamka adalah anak seorang ulama yang terkemuka dan terkenal yaitu Dr. Haji Karim alias Haji Rasul , pembawa faham pembaharu Islam di daerah Minangkabau.
Buya Hamka adalah seorang pujangga, ulama, pengarang, dan politikus.Dia banyak mengubah syair dan sajak, menulis karya sastra, mengarang buku-buku bernafaskan keagamaan.Dia menjadi tempat bertanya dan rujukan berbagai masalah keagamaan.Ia pernah menjadi anggota Dewan Konstituante (dari partai Masyumi) setelah pemilu tahun 1955.
Buya Hamka belajar didesanya selama tiga tahun, ia lalu melanjutkan pendidikannya kira-kira tiga tahun pula di sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek. Karena bakat dan otodidaknya yang kuat, ia dapat mencapai ketenaran dalam berbagaibidang. Bakatnya dalam bidang bahasa menyebabakan ia dengan cepat dapatmenguasai bahasa Arab sehingga ia mampu membaca secara luas termasuk berbagai terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.
Bakat tulis-menulis tampaknya memang telah dibawanya sejak kecil, yang diwarisinya dari ayahnya, yang selain takoh ulamajugapenulis,terutama dalam majalah al-Munir. Pada usia tujuh belas tahun, sekitar tahun 1925. Dia telah menerbitkan bukunya yang pertama Khatibul Ummah, yang berarti Khatib dan Umat. Kisah perjalanan naik haji ke tanah suci ditulisnya dalam surat kabar Pelita Andalas. Tahun 1928, ia menerbitkan majalah Kemajuan Zaman dan pada tahun 1932 ia terbitkan pula majalah al-Mahdi. Kedua majalah tersebut bercorak kesusastraan dan keagamaan.Pada tahun 1936-1943 Hamka menjadi ketua redaksi majalah Pedoman Masyarakat di Medan, sebuah majalah yang pernah mencapai oplag tertinggi sebelum perang dunia kedua. Pada tahun 1959, ia menerbitkan majalah Panji Masyarakat.
Pada tahun 1960 dilarang terbit karena menentang politik Soekarno. Bahkan ia sendiri ditangkap dan semua buku-bukunya pun dilarang beredar. Selama meringkuk dalam tahanan berbagai macam siksaan yang ditimpakan kepadanya, lebih–lebih siksaan yang bersifat mental. Berkat pertolongan dan perlindungan dari Allah Swt semua siksaan dan penderitaan selama berada dalam tahanan itu juga ada hikmahnya bagi dia. Dimana dia dapat mengarang sebuah kitab Tafsir al–Qur’an yang beliau beri nama “ Kitab Tafsir al – Azhar “ dan sekaligus merupakan sumbangannya yang terbesar bagi umat manusia. Dimana dia berkata: “ Sebaiknya sayalah yang mengucapkan terima kasih kepada yang menahan saya, karena selama dua tahun dalam tahanan dan di rumah sakit persahabatan, saya telah berhasil mengarang Tafsir al–Qur’an yang tidak dapat saya selesaikan dalam tempo 20 tahun diluar tahanan“. Setelah keluar dari tahanan dia lebih banyak mencurahkan dan menyisihkan waktu dalam soal agama saja, seperti memberi kuliah subuh, ceramah melalui RRI, TVRI dan membina Masjid Agung al–Azhar sebagai imam besar.Pada tahun 1967 dia direabiliter oleh presiden Suharto dan larangan menyebarkan buku–buku karangannnya dicabut kembali sedangkan dalam organisasi Muhammadiyah sejak tahun 1971.dia ditetapkan menjadi penasehat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayat. Berkat ilmu pengetahuan yang di dapati dengan cara belajar sendiri, maka pada tanggal 8 Juni 1974 Buya Hamka mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Melaysia Kuala Lumpur.
Pada bulan Juni 1975 berdirilah MUI dan Buya Hamka terpilih menjadi ketua pertama sampai tahun 1981 dia meletakkan jabatan setelah heboh soal fatwa mengenai kehadiran umatIslamdalamperayaanNatal.
Di samping terkenal sebagai ulama besar, dia juga terkenal sebagai pengarang yang sangat produkif hampir seluruh waktunya dicurahkan pada dunia tulis–menulis.
Di dunia tulis–menulis ia rintis pada usia yang relatif muda yaitu pada usia 17 tahun. Dia sudah berhasil mengarang sebuah buku, satu keistimewaan dia dalam menulis, dimana hasil karya–karyanya enak dibaca karena didalamnya disertai bahasa yang indah dan menawan setiap pembaca.Disamping itu juga mudah pula dipahami maksud isinya. Inilah salah satu faktor yang menyebabakan pembaca buku– buku Buya Hamka tidak bosan, banyak sekali buku–buku yang dia karang meliputi berbagai ilmu antara lain: sejarah, filsafat, tasawuf , fiqih, roman dan lainnya.
Hamka telah mengarang buku kurang lebih sebanyak 150 buah buku sebagaimana yang tertera didalam buku perjalan terakhirnya disebutkan: “Dari semenjak menciptakan buku “ Khatibul Ummah “ yang merupakan buku agama pertama dibuatnya dengan menggunakan bahasa arab sampai pada buku yang paling besar dan terakhir ialah : “ Tafsir al–Qur’anul Karim al–Azhar “ tidak kurang 113 buku sedangkan buku–buku lainnya dari sejak “ Tengelamnya Kapal Van Der Wijcknya dan Dibawah Lindungan Ka’bah “ roman yang bernafaskan agama Islam sampai pada politik, filsafat, yang telah dimuatnya mencapai 150 buku. [1]

b.                  Biografi Ibnu Taimiyah[2]
Taqiyuddin Ahmad Ibnu Taimiyah dilahirkan pada tahun 661 H (1263 M) di harran, Syiria. Dari kalangan yang terdiri dari cerdik pandai dan theolog terkenal. Ibnu Taimiyah baru berusia tujuh tahun ketika harran diserang oleh pasukan mongol, beserta kedua orangtuanya ia terpaksa mengungsi ke Damaskus. Karena kepanikan yang melanda syiria selatan tersebut mereka sangat banyak mengalami kesulitan di pengungsian. Peristiwa tragis ini sangat membekas di dalam hati ahmad yang masih muda dan sensitif, dan tak dapat dilupakannya. Semakin bertambah usianya semakin besar kebenciannya kepada orang-orang mongol.
Ibnu Taimiyah merupakan tokoh pemersatu pasukan tempur yang besar untuk memerangi orang-orang mongol walaupun orang-orang mongol ini telah memeluk agama Islam. Sedemikian banyak kejahatan dan kelaliman mereka yang telah disaksikannya sehingga ia berpendapat bahwa walaupun orang-orang mongol tersebut menganut Islam, pada dasarnya mereka tetap pemberontak dan memerangi mereka merupakan sebuah kewajiban agamawi.
Sebenarnya Taimiyah adalah nama keluarga, namun tidak diketahui apakah keluarga tersebut berasal dari arab atau bukan. Mungkin sekali mereka adalah orang-orang kurdi. Orang-orang kurdi terkenal dengan kegagahberanian, kekerasan, integritas moral yang tinggi dan kecerdasannya. Kualitas-kualitas ini tampak jelas di dalam pribadi taimiyah walaupun ia dibesarkan di dalam lingkungan para cerdik-pandai yang tenang. Sudah tentu Ibnu Taimiyah berkenalan dengan orang-orang kurdi yang pada abad keenam dan ketujuh hijriyah tampil sebagai pembela Islam dan kaum muslimin, serta paling banyak menderita karena serangan-serangan pasukan kristen. Sesungguhnya orang-orang kurdi inilah yang telah meruntuhkan kejayaan penakluk-penakluk kristen dan merambah jalan bagi raja-raja mamluk mesir untuk memukul mundur pejuang-pejuang kristen ke eropa.
Karena orangtua dan sanak keluarganya menetap di damaskus maka disitu pulalah Ibnu Taimiyah mendapatkan pendidikannya. Ayahnya, Syihabuddin adalah seorang guru hadits dan pengkhutbah yang terkenal di masjid besar damaskus. Di samping itu, pamannya, Fakhruddin, adalah cendikiawan dan penulis yang termasyhur. Oleh karena itulah Taqiyyudin bin Taimiyah memperoleh pendidikan di sekolah ayahnya sendiri dan lingkungan keluarganya sendiri yang secar turun temurun merupakan tokoh-tokoh cerdik-pandai. Ia juga belajar dari para cendikiawan terkemuka di damaskus pada masa itu. Studi-studinya tidak hanya terbatas pada al Qur’an, Hadits, dan Fiqih. Ia juga mempelajari dan menjadi ahli di bidang Matematika, Sejarah, dan Kesustraan. Secara khusus ia mempelajari huku dari mazhab hambali dimana ayahnya merupakan tokoh yang penting.
Pada masa itu dunia Islam sedang mengalami kemunduran. Di sebelah timur kaum muslimin dikalahkan oleh pasukan mongol, dan di sebelah barat mereka terusir dari spanyol. Para cerdikpandai yang berada di negeri-negeri tersebut mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Kebanyakan di antara mereka pergi ke Cairo dan Damaskus, yang pada masa itu merupakan pusat kebudayaan dan tempat yang paling aman. Kedua orangtua dan sanak keluarganya telah mengungsi ke damaskus.
Cabang ilmu pengetahuan terpenting yang ditekuni Ibnu Taimiyah adalah theologi. Ada eberapa alasan historis mengapa ia memilih theologi. Orang-orang Ayyubiyah yang berkuasa di Syiria dan mesir sebelum Ibnu Taimiyah tampil adalah pendukung-pendukung paham Asy’ari yang fanatik.
Ibnu Taimiyah baru saja menyelesaikan pendidikannya pada waktu ayahnya meninggal dunia pada tahun 682 H (1283 M). Ketika ia baru berusia dua puluh satu tahun. Setahun kemudian jabatan mahaguru di bidang hadits yang dipegang oleh ayahnya di berbagai madrasah terkemuka di kota damaskus diserahkan kepadanya. Dalam waktu singkat namanya menjadi termahsyur melebihi ahli-ahli hadits lain yang terkemuka pada masa itu, seperti Ibnu Daqiq al-Id, Kamaludin al Zimlikani dan Syamsuddin al Dzahabi. Kemudian ia mulai mengajar dan berkhutbah di masjid besar Umayyah dan pendengar-pendengarnya yang terdiri dari para siswa, sahabat, penganut mazhab-mazhab lain, pendukung, dan penentangnya kian hari kian bertambah. Nama Ibnu Taimiyah sering disebut-sebut dan dihormati di dalam lingkungan intelektual baik di dalam daerah kekuasaan raja mamluk maupun di luarnya. Kuliah-kuliahnya mencakup semua subyek di dalam pengetahuan Islam, namun semuanya mempunyai tema yang sama yaitu menghidupkan kembali semangat Nabi beserta sahabt-sahabatnya sewaktu Islam masih murni dan belum dicampuri oleh ide-ide asing dan bid’ah, karena yakin bahwa pendapatnya sesuai dengan ide-ide praktek Islam yang murni, maka pendapatnya itu dipertahankannya dengan segala pemikiran logis dan argumentasi-argumentasi kuat berdasarkan pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai al Qur’an, Sunnah, Sejarah, dan cabang ilmu pengetahuan yang lain, dan diungkapkan dengan bahasa yang sangat meyakinkan.
Kehidupan politik negara pada masa itu secara garis besarnya dikendalikan oleh bangsawan-bangsawan mamluk turki, sementara pemerintahan sipil khususnya di bidang yudikatif, dipegang oleh orang-orang arab. Sebagai sebuah kelas yang tersendiri, ahli-ahli hukum memiliki kekuasaan yang sangat besar, mengawasi pemerintahan sehari-hari, secara efektif sekali dapat mengatur kehidupan beragama rakyat.
Awal mula permusuhan terhadap Ibnu Taimiyah adalah tahun 698 H. Ketika orang-orang hamah meminta pendapat mengenai sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam al Qur’an. Ibnu Taimiyah memberikan jawaban dalam bentuk risalah yang berjudul ar-risalah al-hamawiyah. Risalah inilah yang mencetuskan tantangan para Fuqaha’ yang diketuai oleh Qadhi Jalaludin dari mazhab hanafi di Damaskus. Ibnu Taimiyah dihadapkan kepada para hakim dan ahli hukum untuk mempertanggungjawabkan pandangannya di dalam risalah itu. Maka terjadilah perdebatan sengit yang akhirnya dimenangkan oleh Ibnu Taimiyah. Peristiwa ini merupakan awal dari perang polemik yang seru di kemudian hari.
Keberaniannya dalam menyampaikan ajaran-ajaran yang murni yang dari awal tujuan utamanya adalah membebaskan umat dari bid’ah, kemudian ia berbicara tidak hanya melalui khutbah dan pengajaran di madrasah, tapi melalui tulisan. Karena tulisan-tulisan itulah awal dari ia dipenjarakan. Ia tidak pernah menyesali dan menarik kembali kata-katanya tetapi hukuman itu diterimanya dengan tabah dan gembira. Sekalipun di dalam penjara ia terus menerus menulis, karena ia tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya dengan bermalas-malasan.
Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara pada tahun 728 H (1328 M).


[1]Taufiq Ismail, Arif Rachman, Afif Hamka, Wan Anwar, Ali Audah, “100 Tahun Hamka,” Horison, No 9, 2008. Hal 5.

[2] Khan, Qamaruddin, Pemikiran politik Ibnu Taimiyah, Bandung : Penerbit Pustaka, 1995 M. Hal 10-30.

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;