Selasa, 18 Februari 2014 0 komentar

Dear : A-Z


Hey kau yang ada pada abjad absurd, apa kau pernah merasakan sebuah titik dimana perasaan kamu sudah tercukupi olehnya, hanya olehnya, tidak ada keinginan untuk menaruh harapan lagi pada hati yang lain?

Manusia di dunia ini tak ada yang sempurna bukan?

Pada titik ini, aku kembali berpikir, apa yang salah dengan diriku, apa yang sudah kumakan selama ini, banyak pertanyaan gila memenuhi pikiranku, dan semua berujung pada satu titik,

Mengapa dia sudah cukup bagiku?

Semua hal tentangnya sudah kurasionalkan sebisaku, sudah kubuat tabel hal-hal yang membuatku merasa jengah dan tak ingin memikirkannya, sudah kulakukan semuanya. Semuanya..

Tapi semua kembali pada satu kesimpulan,

Aku merasa cukup dengan dia, dengan banyak kekurangan dan kelebihan yang sering ia sembunyikan, aku merasa cukup untuk itu. Tak ada keinginan mencari-cari atau memilih-milih lagi seseorang yang sempurna. Sudah cukup dia saja...


hey, tolong tepokin jidatku dong, mungkin aku sudah tidak waras, hahaha...



Persada, 18 Februari 2014

22.00
Kamis, 13 Februari 2014 0 komentar

Kembalikan Semangat Itu..


Hari itu, dengan bermodalkan keridhoan keluarga dan dukungan orang-orang, saya terus saja berjalan, karena saya tahu apa yang kita lakukan tanpa ridho orangtua hanya akan sia-sia. Tanpa bekal yang cukup, tanpa modal yang kuat, saya begitu percaya diri berjalan, entah, sepertinya do’a umi tak terbantahkan di hadapan Tuhan.

Hari itu, hanya bermodalkan kepercayaan diri, saya menetapkan pilihan, memilih jogjakarta sebagai bagian dari jalan yang harus saya lalui, meskipun dengan banyak argumen bahwa orang-orang yang belajar agama murni hanya segelintir, kurangnya ulama perempuan, dan seabreg alasan, hati saya separuh menginginkan tempat lain, egoisme itu muncul, bukankah wajar bila kita hanya ingin melakukan hal-hal yang kita sukai saja, tapi permintaan umi tak bisa ditolak, dengan mengatas namakan seseorang yang dengan alasan apapun, saya pasti akan melakukannya.

Sampai jogja, banyak orang yang saya temui mengeluarkan airmatanya, hanya beberapa orang saja yang keyakinannya masih bulat, sisanya sudah mencair, perlahan-lahan. Orang berlomba menangis entah karena alasan apa, yang saya tahu jika karena sedih berpisah dengan keluarga itu tak berguna, toh sejak kecil saya sudah terbiasa berpisah, apalagi yang perlu saya tangisi. Ternyata toh sekeras apapun hati seorang perempuan, tetap saja, mengeluarkan airmata adalah satu-satunya luapan emosi paling manjur, saya juga menangis, tidak bukan karena alasan sedih berpisah dengan keluarga, saya menangis, karena ternyata dunia baru yang saya begitu percaya diri, saya tak lolos di dalamnya, sejak itu saya sadar betul, saya tak punya apa-apa, tak bisa apa-apa, dan tak tahu apa-apa.

Sepertinya Tuhan masih menyayangi saya, ada harapan kecil, ada kesempatan kecil untuk saya meraihnya. Sejak itu, saya baru merasakan kerasnya belajar, kerasnya perjuangan, sejak dulu saya telah terbiasa hidup santai, dan pilihan umi membuat saya harus berjuang dari nol. Tak ada yang bisa disalahkan, toh memang sudah hukum alam bila menginginkan sesuatu maka kita harus berusaha keras memperolehnya, tak peduli harus sesulit apa kita menjalaninya.
Berat sebenarnya, melakukan hal yang bukan saya inginkan, tapi ingatan tentang abi dan umi membuat beban itu meluap perlahan-lahan, semoga ini menjadi bakti saya untuk mereka.
Ya, sejak itu saya mulai berubah, tidak mudah memang, saya yang tak suka hidup diatur, saya yang suka dengan kebebasan, saya yang sangat keras kepala dan egois, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang memacu adrenalin dan keegoisan saya, semua itu amat berat awalnya, tapi lagi-lagi saya memilih kesini, adalah ingin berubah dan menjadi seseorang yang diimpikan oleh dia, seseorang yang cintanya tak pernah habis.
Sejak itu saya bahkan lupa rasanya kehilangan semangat, atau semangat yang putus nyambung, setiap kali orang-orang menjatuhkan, saya bisa langsung berdiri tegak dengan cepat, saya bisa bangkit tanpa uluran tangan, entah kenapa semangat yang besar itu pernah saya miliki dan saya mampu mempertahankannya.
Lalu kehidupan di satu fase ini berakhir begitu saja, banyak hal yang sudah berubah, sikap, penampilan, gaya, kepercayaan diri, pola pikir, bahkan mungkin berat badan, selama 3 tahun berubah.

Hidup tak pernah berhenti, ia terus maju melaju..
Fase berikutnya, yang harus saya lalui.

Banyak hal yang berbeda, saya harus membiasakan diri lagi dengan fase ini, karena saya tahu yang saat ini saya miliki bisa saja tidak cocok atau tidak pas dengan apa yang ada dalam fase kedua ini.

Semangat yang besar dan entah darimana asalnya itu, awalnya masih kuat sekali ada, ia masih bersemayam, dan tak hilang dengan cepat. Satu waktu, dua waktu, sampai waktu berikutnya muncul, ia menjadi samar-samar, dan hari itu, saya tak bisa menjelaskan keadaannya, ia hilang, redup, bahkan sempat mati sesaat.

Saya sadar betul, hidup harus terus berjalan, saya berusaha menata kembali, mengingat kembali bagaimana saya bisa mendapatkan semangat yang luar biasa itu, namun, sampai hari ini saya lupa, saya lupa harus bagaimana mendapatkan kembali semangat yang bisa menggenapkan harapan besar seseorang yang cintanya tak pernah habis itu.
Tuhan, bantu saya menemukannya...


Persada, 13 Februari 2014

23.36
Sabtu, 08 Februari 2014 0 komentar

Dear : A-Z


Hey, kau yang namamu ada pada abjad-abjad yang absurd, entah bagaimana aku ingin kau disini, ya tepat di dekatku, dan untuk beberapa saat saja, aku ingin meminjam pundakmu..

Aku ingin meminjam telapak tanganmu sebentar saja, hanya untuk beberapa saat, entah bagaimana aku ingin kau yang sangat absurd itu, menemaniku, di waktu-waktu yang sangat sulit ini.

Dan, tak hanya itu, aku pun ingin meminjam punggungmu, sebagai tempat bersandar dan bertopang paling aman, punggung terbaik, yang bisa menopang kerapuhanku.

Iya, hanya itu saja, sudah cukup untukku... 



24.00
0 komentar

Surat untuk Tuhan

08 Februari 2014

Tuhan,
Boleh gak sih punya keinginan untuk mati?
Aku merasakan itu, dua dunia yang sedang mengintaiku.
Dalam dunia yang satu, aku hidup antara bahagia dan berharap, ada ibu yang aku sayang, ada dia, seseorang yang kucintai, ada orang-orang yang mendukungku, dan ada satu impian besar dalam hidupku yang belum sempurna kucapai.
Tapi di dunia yang lain, yang saat ini aku merasa sedang diintai, aku sangat putus asa, teramat, bahkan airmata sudah tak bisa lagi menanggung luka. Dan dunia ini menjadi solusi untuk semua itu...

Tuhan,
Apa salah bila sakit? Bila terluka? Bila kecewa? 
Sebetulnya aku paling takut dengan kata-kata itu, tapi sepertinya mereka sedang mengintaiku, dan aku tak bisa bertahan kuat, ah bahkan aku tak bisa melawan.

Tuhan,
Aku rapuh..
Tolong aku.




16.00 
Jumat, 07 Februari 2014 0 komentar

Gagal.. Lagi


Dear  Dear A-Z
Aku   Aku telah gagal.

Ada begitu banyak kegagalan yang sudah kualami, tapi yang ini aku merasa benar-benar melewati batas.
Sejak kecil aku sudah mengalami kegagalan, gagal menghabiskan waktu untuk berbakti dan berbuat baik pada seseorang yang hidupnya hanya sesaat saja, lalu aku juga gagal menjadi seseorang yang kuinginkan, memilih jalan hidup yang seharusnya aku mau, aku sudah gagal sejak saat itu.
Aku tak khawatir lagi saat hari-hari selanjutnya aku gagal, mungkin itu sebuah konsekuensi yang harus diterima dari mengerjakan sesuatu tidak sempurna.
Tapi saat ini, kegagalan yang kualami, entah harus kukatakan seperti apa, termasuk jenis kegagalan yang bagaimana, aku tak bisa menjelaskannya.

Hey, kau yang namanya ada pada abjad A-Z,
Aku gagal mengendalikan diriku.
Adakah kau kenal semacam dokter atau dukun beranak ternama yang bisa mengobatinya?

Persada, 2014



Selasa, 28 Januari 2014 0 komentar

Bayangan di langit


Akhir-akhir ini aku jadi lebih sering mengingatmu, bukan, bukan karena aku ingin dan sengaja mengingatmu. Hanya saja, akhir-akhir ini hal-hal tentangmu yang sudah kutenggelamkan tiba-tiba muncul kembali ke permukaan.

Aku sudah menenggelamkan kapal layarmu dalam-dalam, pada saat di akhir bulan itu, aku putuskan untuk tak lagi mengingatmu.

Lalu di kiniku yang penuh gembira, dengan kepercayaan diriku yang penuh, dan sejuta harapan masa depanku dengan dia, ingatan tentangmu muncul, itu sangat mendadak dan mengagetkanku.

Aku berkunjung kesana, ke tempat pertama kali kita bertemu secara langsung, ah aku lupa selama ini kita berkomunikasi tak langsung, bukan sengaja kesana untuk mengingat hal-hal tak penting tentangmu, hanya saja, sesuatu hal mengharuskanku kesana, ah kupikir itu juga tempat umum, dimana semua orang bisa berlalu lalang, mengapa aku harus menahan diri untuk tak kesana lagi, namun saat kakiku melangkah, duduk di tempat yang sama seperti dulu, mencari-cari apa yang kita butuhkan saat itu, dan ah mendadak ingatan itu muncul, lalu aku seperti melihat kembali diriku disana denganmu, duduk berdua, aku dengan rasa maluku dan kau yang seolah-olah merasa keren sendiri, dan kita berbicara begitu saja, tanpa perintah.

Akhirnya, kuurungkan niatku, aku melangkah berbalik dan meninggalkan tempat itu. Aku tak ingin mengingatmu...

Akhir-akhir ini aku jadi sering mengingatmu, bukan, bukan sengaja dan ingin mengingatmu, tapi ingatan itu mendadak muncul begitu saja.

Jadi, bolehkah aku bertanya 

Bagaimana kabarmu sekarang?


Apa aku masih punya hak untuk sekedar tahu kabarmu?, ah jika tidak, lupakan, aku pun tak ingin mengingatmu. 
Jumat, 24 Januari 2014 2 komentar

Konsep Metodologis Tafsir Fazlurrahman dan Bantahannya Versi Penulis


Fazlurrahman, seorang pemikir dan tokoh intelektual islam terkemuka yang lahir di tahun 1919 M (yang seterusnya dibaca : Rahman) menganggap perlu adanya metode tafsir model baru untuk menafsirkan al Qur’an, menurutnya metode tafsir yang sudah ada dan sudah diadopsi oleh para ulama tafsir zaman dulu tidak sampai menyentuh kontekstualitas era kontemporer saat ini, karena perubahan zaman yang terus berkembang dan permasalahan baru yang semakin banyak bermunculan.
Menurutnya, jika kita hanya terpaku dengan model penafsiran yang tradisional maka nilai-nilai universalitas al Qur’an tidak bisa ditemukan. Maka untuk melakukan penafsiran ulang al Qur’an yang sesuai tuntutan kontemporer diperlukan seperangkat metodologis yang sistematis dan komprehensif.
v  Metode Tafsir yang ditawarkan Fazlurrahman
Menurut Rahman, prosedur yang benar untuk memahami al Qur’an setidaknya mufassir harus menempuh dua pendekatan : Pertama, Mempelajari al Qur’an dalam ordo historis untuk mengapresiasi tema-tema dan gagasan-gagasannya sehingga diketahui makna yang tepat dari firman Allah. Kedua, Mengkaji al Qur’an dalam konteks latar belakang sosio historisnya. Dengan pendekatan ini akan diketahui laporan tentang bagaimana orang-orang di lingkungan Nabi memahami perintah al Qur’an. Tanpa memahami latar belakang mikro dan makro secara memadai, menurut Rahman besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap maksud atau purpose (meminjam istilah Hamid Fahmi Zarkasyi) al Qur’an serta aktifitas Nabi baik ketika berada di mekkah maupun di madinah.
Dua pendekatan ini mutlak dilakukan menurut Rahman, karena al Qur’an merupakan respon Ilahi yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw terhadap situasi sosial masyarakat arab ketika itu.
Statemen al Qur’an memperlihatkan bagaimana kronisnya problem masyarakat seperti penyembahan berhala, eksploitasi terhadap kaum miskin, memarginalkan kaum perempuan dan lain-lain, dimana fenomena-fenomena tersebut mengindikasikan bahwa pesan al Qur’an saling berkaitan dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat arab saat itu.
Berangkat dari pemikiran beliau tentang pendekatan yang harus dilakukan dalam menafsirkan al Qur’an dan tidak representatifnya metode tafsir klasik dan metode tafsir modern saat ini maka rahman, menawarkan sebuah konsep metode tafsir yang unik dan menarik, yaitu metode tafsir yang populer dengan nama “Gerakan Ganda (Double Movement)”
Gerakan Pertama, bertolak dari situasi kontomporer menuju ke era al Qur’an diwahyukan, dalam pengertian bahwa perlu dipahami arti atau makna dari suatu pernyataan al Qur’an tersebut hadir sebagai jawabannya. Jadi ringkasnya, kajian ini diawali dari hal-hal spesifik dalam al Qur’an kemudian menggali dan mensistematisir prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan tujuan jangka panjangnya.
Selanjutnya Gerakan Kedua, dari masa al Qur’an diturunkan (setelah menemukan prinsip-prinsip umum) dikembalikan lagi ke masa sekarang. Dalam arti bahwa ajaran-ajaran yang bersifat umum tersebut harus ditubuhkan ke dalam konteks sosio historis yang kongkrit di masa sekarang.
Rahman meyakinkan bahwa apabila kedua gerakan ini berhasil diwujudkan, niscaya perintah-perintah al Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali.

v  Bantahan Metode Tafsir Fazlurrahman Versi Penulis
Berangkat dari kegelisahan penulis yang ingin mengetahui dan memahami beberapa model konsep metodologis yang banyak ditawarkan oleh para intelektual muslim saat ini, yang kemudian pada saatnya metode tersebut banyak diagung-agungkan oleh para sarjana muslim dan mayoritas para mahasiswa yang haus khazanah keilmuan dan ingin memahami al Qur’an sesuai konteks zaman.
Hal yang pertama yang ingin penulis soroti adalah model pendekatan yang Fazlurrahman tawarkan, Pertama, Mempelajari al Qur’an dalam ordo historis untuk mengapresiasi tema-tema dan gagasan-gagasannya sehingga diketahui makna yang tepat dari firman Allah. Model pendekatan semacam ini sejatinya adalah sudah expayer dalam bahasa farmasi kadaluarsa, mengapa penulis berani mengatakan ini, karena sesungguhnya pendekatan semacam ini telah ada sejak awal mula al Qur’an diturunkan, dengan bahasa familiar kita adalah memahami asbabun nuzul turunnya ayat al Qur’an. Memahami asbabun nuzul sudah sejak dulu digunakan para ulama kita dalam menafsirkan al Qur’an bahkan jauh sebelum Fazlurrahman lahir dan menawarkan konsep pendekatan ini, dan itu mutlak dilakukan karena kita tidak bisa memahami makna suatu ayat bila tidak dipahami dari berbagai segi, salah satunya dari segi kenapa ayat itu diturunkan, pada siapa di turunkan, dalam konteks apa ayat itu diturunkan, dan mengapa ayat itu turun, semua pertanyaan-pertanyaan itu telah tercakup dalam pendekatan para ulama memahami al Qur’an dari sisi asbabun nuzul (sebab-sebab diturunkannya), jadi pendekatan semacam ini tidaklah bisa dikatakan pendekatan model baru.
Kedua, Mengkaji al Qur’an dalam konteks latar belakang sosio historisnya. Kemudian model pendekatan yang kedua, ini tidak berbeda jauh dengan para ulama kita ketika menafsirkan al Qur’an melihat bagaimana kondisi masyarakat arab ketika itu, ayat itu diturunkan di mekkah atau di madinah, bagaimana para sahabat ketika itu memahami dan merespon turunnya ayat. Yang pada saatnya generasi sahabat dan setelahnya dimana Nabi telah wafat sudah memahami ayat dengan sedemikian rupa yang kemudian mengkontekstualisasikan ayat tersebut sesuai zaman yang mereka diami. Misalnya saja, ketika masa khalifah Umar bin Khatab, dimana beliau tidak menerapkan perintah ayat untuk memotong tangan kepada pencuri, padahal kalau kita lihat ayatnya itu merupakan bentuk amar yang artinya perintah, dan itu harus dilaksanakan, tapi kenapa Umar tidak melaksanakan, karena beliau menerapkan model pendekatan semacam ini dimana beliau memahami ayat tersebut kemudian dikaitkan dengan konteks sosio historis saat itu, dimana orang-orang kaya ketika itu banyak yang menumpuk harta dan tidak memberikan zakat pada orang-orang miskin, dan yang mencuri ketika itu adalah orang miskin yang sangat membutuhkan dan kalau dia tidak makan maka bisa menyebabkan kelaparan dan berujung pada kematian, padahal lagi, tujuan syari’ah itu ada, salah satunya adalah untuk menjaga jiwa (hifz nafs), maka pendekatan semacam ini pun sudah usang, dengan kata lain pendekatan ini sudah lebih dulu digunakan oleh para pendahulu kita.
Kemudian permasalahan kedua yang ingin penulis soroti adalah tentang metodologis “Double Movement” Rahman, dimana si penafsir harus mengembalikan al Qur’an yang ada zaman sekarang ke masa dulu kemudian dicari prinsip-prinsip umum lalu dikembalikan lagi pada masa sekarang. Maka kita perlu kembali bertanya apakah metode penafsiran ulama kita dahulu tidak melakukan hal yang demikian?? Bagaimana mereka menafsirkan ayat perayat dihubungkan dengan ayat lain, kemudian ayat dengan hadits, lalu dilihat asbabun nuzul ayat tersebut dan pada saatnya memahami ayat tersebut secara kontekstual. Kalau bukan karena penafsiran dan pemahaman para ulama kita dahulu yang mengkontekstualisasikan ayat sesuai masa mereka, maka saat ini kita tidak mungkin bisa merasakan Islam dan kebenaran al Qur’an hingga demikian sempurna. Dikarenakan permasalahan yang semakin kompleks yang saat ini ada dan zaman Nabi tidak ada, maka para ulama pun memahami al Qur’an secara kontekstual dengan tetap berpegang pada prinsip umum al Qur’an. Karena al Qur’an adalah kitab yang berisi seluruh permasalahan umat, meski tidak secara eksplisit ayat yang dimaksud ada tapi kita bisa memahami itu dari prinsip-prinsip umum al Qur’an.
Tegasnya, menurut penulis konsep metodologis yang ditawarkan Fazlurrahman sejatinya, hanya mengulang dan mengcopy paste metodologis ulama mufassirin kita dahulu, dengan merubah nama dan istilah, kita dengan mudah menganggap hal semacam itu sesuatu yang baru dan menarik untuk dikaji. Dan satu lagi, ini hanya berupa penawaran, toh Fazlurrahman sendiri belum menerapkan ini pada al Qur’an seuruhnya, Buktinya, apa sudah ada kitab Tafsir karya Fazlurrahman??? Wallahu A’lam

Sumber Bacaan :
1.             Rodiah dkk, Studi al Qur’an Metode dan Konsep, Yogyakarta : eLSAQ Press, 2010 hal 1-10.
2.             H. Ahmad Syukri Sholeh, Metodologi Tafsir al Qur’an Kontemporer dalam pandangan Fazlurrahman, Jakarta : Gaung Persada Press, 2007 Hal 19
3.             Fazlur Rahman, Al Islam, Alih bahasa Ahsin Muhammad, Bandung : Pustaka, 1984, Hal 48.


21.33. 20/10/12 Nailul Fauziah. J

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

 
;