Kamis, 11 April 2013

Tafsir Manusia dalam al Qur’an



I.         Pendahuluan
Dalam bukunya Man The Unknown, Dr. A.Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia[1].
Dia mengatakan bahwa pengetahuan tentang manusia secara khusus belum mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu lainnya.
Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya disebabkan oleh :
1.    Pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia.
Demikian pula halnya pada zaman kebangkitan (Renaisance) para ahli lebih banyak disibukkan oleh penemuan-penemuan baru yang menguntungkan secara material dan juga mempermudah kehidupan.
2.    Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal manusia seperti dinyatakan oleh bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
3.    Multikompleksnya masalah manusia

Jika apa yang dikemukakan Carrel itu benar, maka satu-satunya jalan untuk mengenal baik hakikat manusia adalah merujuk kepada wahyu Ilahi, karena satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi adalah manusia.
Untuk mengetahui maksud tersebut tidak cukup hanya bergantung pada satu ayat atau dua ayat, tapi seluruh isi al Qur’an yang isinya berkaitan dan menyinggung tentang manusia maka bisa dijadikan rujukan untuk memahaminya secara keseluruhan.

II.      Pembahasan
1.    Istilah manusia dalam al Qur’an
Ada 3 kata yang digunakan al Qur’an untuk menunjuk kepada manusia[2] :
a.    Menggunakan kata yang terdiri dari huruf Alif, Nun, dan Sin, semacam Insan, Ins, Nas dan Unas.
b.    Menggunakan kata Basyar
c.    Menggunakan kata Bani Adam, dan Zuriyat Adam.

2.    Tafsir Manusia menurut Tafsir Indonesia
Kata insan  dijumpai dalam al-Quran sebanyak 65 kali. Penekanan kata  insan  ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan memikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal, dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi (Aflatun Mukhtar, 2001:107)[3].  
Kemudian kata insan terambil dari akar kata uns yang berarti jinak, harmonis dan tampak.
Dalam al Qur’an kata insan seringkali dihadapkan dengan kata jin/jan. Jin adalah makhluk halus yang tidak tampak, sedangkan manusia adalah makhluk yang nyata dan tampak.
Dengan demikian, kata insan, digunakan al Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia berbeda dengan makhluk lain dalam hal fisik, mental dan kecerdasan.
Perhatikan surat At Tin ayat 4 :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Kata nas merupakan bentuk jamak dari kata  insan yang tentau saja memiliki makna yang sama. Al-Quran menyebutkan kata nas  sebanyak 240 kali.
Penyebutan manusia dengan  nas lebih menonjolkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan dan bersama-sama manusia lainnya.
Al-Quran menginformasikan bahwa penciptaan manusia menjadi berbagai suku dan bangsa bertujuan untuk bergaul dan berhubungan antar sesamanya (ta’aruf ) (QS. al-hujurat [49]: 13), saling membantu dalam melaksanakan kebajikan (QS. al-Maidah [5]: 2), saling menasihati agar selalu dalam kebenaran dan kesabaran (QS. al-‘Ashr [103]:  3), dan menanamkan kesadaran bahwa kebahagiaan manusia hanya mungkin terwujud bila mereka mampu membina hubungan antar sesamanya (QS. Ali Imran [3]: 112).
Kata  insan  dan  nas  inilah yang paling banyak digunakan oleh al-Quran dalam menyebut manusia (Quraish Shihab, 1996: 280). Di antara ayat al-Quran yang menyebut manusia dengan kata insan adalah QS. al-‘Alaq (96): 2 dan 5
 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah  ... Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”  (QS. al-‘Alaq [96]: 2 dan 5).
Sedang penyebutan kata nas dalam al-Quran misalnya QS. al-Hujurat (49): 13
  “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu  berbangsa - bangsa danbersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah ora ng yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Kata  basyar  secara etimologis berasal dari kata ( ba’, syin,  dan  ra’) yang berarti sesuatu yang tampak baik dan indah,  bergembira, menggembirakan, menguliti/mengupas (buah), atau memperhatikan dan mengurus suatu. Kata basyar juga diambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir pula kata basyarah yang berarti kulit[4].
Menurut al-Raghib al-Ashfahani, manusia disebut basyar  karena manusia memiliki kulit yang permukaannya ditumbuhi rambut dan berbeda dengan kulit hewan yang ditumbuhi bulu. Kata ini dalam al-Quran  digunakan dalam maknayang khusus untuk menggambarkan sosok tubuh lahiriah manusia (Aflatun Mukhtar, 2001: 104-105)[5]. Sedang menurut Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya kata بشر diartikan sebagai ظهور السئ مع حسن وجمال  yang berarti tampaknya sesuatu dengan baik dan indah[6].
Kata  basyar  digunakan al-Quran untuk menyebut manusia dari sudut lahiriah serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Kata basyar  juga selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia, seperti asalnya dari tanah, yang selanjutnya dari sperma dan berkembang menjadi manusia utuh (QS. al-Mu’minun [23]: 12-14), manusia makan dan minum (QS. al-Mu’minun [23]: 33; QS. al-Furqan [25]: 20), dan seterusnya. Karena itulah Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk menyampaikan bahwa beliau sama  seperti manusia lainnya. Yang membedakannya hanyalah beliau diberi wahyu (QS. al-Kahfi [18): 110). Kata  basyar  ini disebutkan al-Quran sebanyak 36 kali (Quraish Shihab, 1996:279). Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Kahfi:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".  (QS. al-Kahfi [18]: 110).  
Dari sisi lain, banyak ayat-ayat al Qur’an yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tingkat kedewasaan.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.(Ar Rum:20)
Bertebaran disini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rizqi. Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu Maryam merasa heran karena bisa memperoleh anak padahal dia belum pernah disentuh oleh basyar (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks) (QS Ali Imran :47). Kata Basyiruhunna yang digunakan oleh al Qur’an sebanyak dua kali (Al Baqarah:187) juga diartikan hubungan seks.
Demikian terlihat basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar (Perhatikan Surat Al Hijr :28 menggunakan kata basyar dan Al Baqarah :30 menggunakan kata khalifah) yang keduanya mengandung pemberitaan Allah kepada malaikat tentang manusia.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Adapun kata banu  atau bani Adam  atau dzurriyatu Adam maksudnya adalah anak cucu atau keturunan Adam. Kedua istilah itu digunakan untuk menyebut manusia karena dikaitkan dengan kata Adam, yakni sebagai bapak manusia atau manusia pertama yang diciptakan  Allah dan mendapatkan penghormatan dari makhluk lainnya selain iblis (QS. al-Baqarah [2]: 34).
Kata bani adam dalam al Qur’an hanya diulang 7 kali, salah satunya dalam surat al A’raf : 27 dan Yasin: 60 dimana menunjukkan bahwa manusia itu perlu diingatkan dari musuh yang terkadang tidak terlihat dan tidak disadari (Syetan). Peringatan ini berkaitan dengan kejadian adam sebagai manusia pertama.
Eksistensi manusia ternyata tidak luput dari historisitas keberadaan adam di bumi, sehingga penggunaan kata bani adam untuk manusia menunjukkan keterkaitan antara manusia dengan adam.
Secara umum kedua istilah ini menunjukkan arti keturunan yang berasal dari Adam, atau dengan kata lain bahwa secara historis asal usul manusia adalah satu, yakni dari Nabi Adam (Aflatun Mukhtar, 2001: 109). Namun dzurriyat adam, hanya ada dalam surat Maryam : 58 dimana dalam ayat ini menunjukkan penggunaan kata dzurriyat adam untuk manusia sudah mulai dikhususkan, yaitu untuk para Nabi. Jadi dzurriyat adam berarti adalah para Nabi setelah Adam
Dengan demikian, kata bani Adam dan dzurriyatu Adam digunakan untuk menyebut manusia dalam konteks historis. Secara historis semua manusia di dunia ini sama, yakni keturunan Adam yang lahir melalui proses secara biologis (QS. al-Sajdah [32]: 8). Kata  bani Adam  disebutkan al-Quran sebanyak 7 kali, di antaranya dalam surat al-A’raf (7): 26, 27, 31, dan 35. Dalam QS. al-A’raf (7): 31.  

III.   Penutup
Demikian konsep manusia dalam al Qur’an sejauh dari pembacaan dan pencariaan yang sudah kami lakukan. Kesimpulannya, bahwa istilah manusia dalam al Qur’an terdapat banyak. Diantaranya, insan, basyar, bani adam dan dzurriyat adam.
Persamaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an sama-sama ditempatkan ketika menunjukkan proses awal kejadian manusia, sama-sama menunjukkan arti manusia secara fisik, Perbedaan antara al-Insan dan al-Basyar dalam al-Qur'an pada umumnya kata al-basyar digunakan untuk sifat-sifat positif, sebaliknya al-insan sering digunakan untuk sifat negatif.
Sedangkan kata bani adam dan dzurriyat adam menunjukkan keterkaitan historisitas keberadaan manusia dengan manusia pertama (Nabi Adam).
Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita bersama, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Wallahu A’lam bi Showab






Daftar Pustaka

Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusia dan agama.

M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an, Bandung : Penerbit Mizan, Cetakan VII,  April 1998.



[1]  M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an, Bandung : Penerbit Mizan, Cetakan VII, Hal 277, April 1998.
[2] M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an..... hal 278.

[3] Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusia dan agama, hal 13.
[4] M.Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an..... hal 279
[5] Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah  tentang Konsep manusi.... hal 115.

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar anda dengan postingan saya?

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Daily Calendar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
;